Friday, 25 November 2011

Suka dan Tidak Suka

Saya suka winter, karena malam lebih panjang sehingga dapat cukup tidur
Saya tidak suka winter, karena sering turun salju yang bikin jalanan licin dan bikin terpleset

Saya suka summer, karena terang lebih lama sehingga bisa aktif terus
Saya tidak suka summer, karena tidak dapat cukup tidur

Saya suka sambal, jika dimakan dengan pecel lele atau bebek goreng
Saya tidak suka sambal, jika dicampur dengan makanan berkuah

Saya suka makan pecel, apalagi pecel ponorogo
Saya tidak suka pecel, yang dijual di warung nya Mbak Pur

Saya suka tempe, apalagi dimakan dengan sambel bawang
Saya tidak suka tempe, yang dibungkus tepung dan dijual di warungnya Mbak Pur

Saya suka coklat, kalo sedang lapar dan bosan
Saya tidak suka coklat, karena sering bikin batuk

Saya suka kopi, karena bisa bikin kenyang dan bikin mata melek
Saya tidak suka kopi, karena bikin sering bolak-balik ke kamar kecil

Saya suka sekolah, karena ada kesempatan untuk tambah teman dan jalan-jalan
Saya tidak suka sekolah, kalo harus bikin monthly report dan presentasi

Saya suka mengajar, kalo mahasiswanya enak diajak komunikasi
Saya tidak suka mengajar, kalo harus menyiapkan bahan kuliah

Saya suka penelitian di lab, kalo hasilnya sesuai dengan yang saya prediksi
Saya tidak suka di lab, setelah menunggu satu bulan, ternyata hasilnya negatif

Saya suka berada ditempat yang baru, jika teman-teman baik dan menyenangkan
Saya tidak suka berada di tempat yang baru, karena perlu kerja keras untuk menyesuaikan diri

Saya suka warna pink, karena terlihat manis dan lembut
Saya tidak suka warna pink, karena tidak pernah bisa menolak warna ini

Saya suka pakai celana jeans, karena terasa lebih luwes dan PeDe
Saya tidak suka pakai celana jeans, karena Ibu saya selalu protes kalo saya pakai jeans

Saya suka melihat-lihat facebook, karena jadi tahu kabar terbaru
Saya tidak suka facebook, karena mengintip kabar orang lain itu bisa menyita waktu

Saya suka pulang mudik ke Indonesia, karena bisa santai dan banyak makanan enak
Saya tidak suka pulang mudik ke Indonesia, karena merasa Indonesia itu sumpek dan kebanyakan orang

Saya suka tinggal di Inggris, karena semua serba teratur
Saya tidak suka tinggal di Inggris, terutama saat summer yang bikin saya kurang tidur

Saya suka weekend, karena saya jadi punya kesempatan untuk up-date blog ini...:-))
Saya tidak suka weekend, karena bikin malas di hari Senin

Suka atau tidak suka, itu pilihan dengan berbagai alasan
Suka atau tidak suka, semua harus dijalani.
Suka atau tidak suka, kalo sudah masuk blog saya harus baca tulisan iseng ini...:-))



Posting iseng di malam Sabtu



Saturday, 18 June 2011

Moving


Moving atau pindahan!!! Hal yang sebenarnya paling saya benci. Rasa kurang nyaman dengan pindahan ini adalah hal yang sangat manusiawi karena seseorang cenderung malas untuk meninggalkan zona nyaman. Membayangkan harus membereskan barang, angkut-angkut, merapikan barang di tempat yang baru, ganti alamat dan lain-lain, memang jadi faktor-faktor keberatan saya jika harus pindahan.

Sewaktu undergraduate, saya termasuk yang tidak pernah pindah tempat kos. Dulu pernah sempat berpikir untuk cari tempat kos baru karena tarif di kos yang lama naik. Tetapi setelah mencari dan mengunjungi beberapa tempat kos, tempat kos yang lama kok terlihat lebih nyaman dan murah ya. Alhasil saya urungkan niat untuk pindah kos hingga saya akhirnya lulus apoteker.

Lulus dari perguruan tinggi di Jogja, saya diterima kerja di Universitas swasta di Solo. Karena malas pindahan, saya nekad "nglaju" atau jadi komuter Jogja-Solo selama 1 bulan. Tapi ternyata....capeeekkkkk deh......serasa tua di jalan dan jadi tidak efektif. Setelah pulang, saya jadi tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Akhirnya, saya mulai mencari tempat kos di Solo, dan pindahan lagi.

Tempat kos saya di Solo ini termasuk nyaman, bagus dan murah. Ibu Kos nya pun baik hati. Saya tentu betah sekali dan tidak melirik kos yang lain untuk pindah. Sampai akhirnya saya memutuskan pindah ke Bandung karena mengambil program Master di ITB. Hufff...terulang lagi peristiwa cari kos dan pindahan.

Pertama di Bandung, saya dapat tempat kos di daerah Cisitu Baru. Tempatnya bagus dan cukup nyaman, dekat pula dengan Pasar Simpang Dago. Tempat ideal memang untuk saya karena daerah ini merupakan tempat ideal untuk jajan dan membeli makanan. Hanya saya merasa kesepian di tempat baru ini. Di Kos Cisitu ini penghuninya mencapai 35 orang, sehingga kami saling tidak mengenal satu sama lain. Bagi saya yang terbiasa dengan budaya kos-kos-an di daerah Jogja dan Solo, keadaan seperti ini sangat tidak nyaman. Di kos Jogja dan Solo, sesama penghuni kos saling mengenal satu sama lain dan menyempatkan bertegur sapa.

Niat mencari tempat kos dengan penghuni yang lebih sedikit akhirnya tercapai. Teman saya di kampus menawarkan kos di dekat rumahnya, daerah Kebon Bibit, yang penghuni kosnya hanya sekitar 4-5 orang. Jumlah penghuni ideal menurut saya, karena dengan jumlah penghuni yang tidak terlalu banyak ini, kita bisa saling mengenal satu sama lain. Menginjak bulan keempat di Bandung, saya pun pindah ke tempat kos di Kebon Bibit ini. Alhamdulillah, suasananya nyaman, seperti yang saya harapkan. Saya pun bertahan ditempat ini hingga menyelesaikan program master saya.

Kembali ke Solo, saya pun booked tempat kos yang lama. Sekali lagi karena saya sudah merasa nyaman ditempat ini. Sampai akhirnya, alhamdulillah, saya memiliki rumah di Solo. Rumah sudah jadi, tapi untuk pindahan dari tempat kos ke rumah......maleeeessssss banget. Saya membayangkan sangat tidak nyaman jika harus tinggal sendirian dirumah, tentu akan lebih nyaman tinggal di tempat kos yang banyak temannya untuk ngobrol. Rumah saya akhirnya hanya jadi penginapan sementara, jika ortu atau ada saudara saya datang, maka saya pun tinggal di rumah itu. Begitu mereka pulang, saya pun kembali ke tempat kos di Mendungan.

Sampai akhirnya, saya harus berangkat melanjutkan sekolah ke Nottingham, barulah saya total pindahan ke rumah tersebut. Ya, karena kontrak di tempat kos itu sudah habis dan saya harus membereskan barang-barang saya yang tidak mungkin ditinggal di Kos Mendungan. Itupun disertai dengan tindakan menginap di kos mendungan tiap malam, hingga akhirnya saya berangkat ke Nottingham.

Di Nottingham, saya tinggal dengan keluarga teman. Kebetulan mereka punya kamar kosong yang bisa di share. Sampai akhirnya, di akhir tahun kedua saya di Nottingham, saya harus pindah lagi. Teman saya dan keluarganya harus pulang kembali ke Indonesia. Saya harus pindah atau moving lagi tentunya......................dan saya benci ini. Padahal saya sudah nyaman sekali tinggal ditempat yang lama itu. Saya sudah merasa akrab dengan jalan-jalan di daerah itu, dengan sopir bis yang melintas di daerah itu, dan terpenting sudah akrab dengan sesama penumpang di bus stop daerah itu. Salah satunya ya Simbah itu.

Saya pun dapat tempat baru nyaman, share dengan keluarga dari Indonesia juga. Saat menjelang pindahan adalah saat yang paling tidak saya sukai. Harus packing barang-barang, angkut-angkut dan menata di tempat yang baru. Belum lagi saat itu adalah awal Juni, bulan yang paling gawat bagi saya. Di bulan Juni ini saya harus menyiapkan 2 talk presentasi di grup, 1 presentasi poster, dan 2nd year report!!! Rasanya kalo bisa memilih, saya memilih untuk tidak pindah sampai semua report saya selesai. Barang-barang saya pun ternyata sudah mengembang 4 kali lipat dari semenjak saya tiba di Nottingham. Ini juga yang membuat saya bertekad untuk tidak belanja membeli barang-barang sampai saya lulus nanti. Sepertinya saya bisa menjalani ini. Tiga minggu di tempat baru ini, saya hanya belanja barang consumable dan belum belanja barang-barang yang tidak perlu. Lets see, berapa bulan saya bertahan dengan tekad ini.

Ditempat yang baru ini, bus stop nya tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya perlu waktu semenit untuk jalan dari tempat tinggal baru ini ke bus stop. Pilihan bus nya pun lebih banyak, karena tempat tinggal saya yang baru ini terletak di jalan raya. Disini sekarang saya menunggu bus:




View Larger Map

Teman sesama penunggu bus di bus stop ini juga berganti. Cuma saya belum mendapatkan teman ngobrol selama menunggu bus di tempat ini. Eh, tapi ada sesama student Uni Nottingham juga yang sering bareng dengan saya berangkat dari bus stop ini. Hingga saat ini, hanya sapaan "morning" yang saya dapatkan. Mungkin nanti bisa meningkat jadi teman ngobrol seperti Simbah itu.



-Saturday afternoon at Queens Road-

Sunday, 13 March 2011

Namaku Margaret

Judul Buku : Are You There, God? It's Me, Margaret
Penulis : Judy Blume
Jumlah halaman: 152 halaman
Penerbit : Macmillan Children's Books


Novel versi Bahasa Indonesianya pertama kali saya baca sekitar awal tahun 90-an, saat saya masih SMP. Cerita ini dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Gadis, majalah remaja yang sangat terkenal saat itu. Menurut saya, ceritanya sangat berkesan sekali, mungkin juga dikarenakan saat itu saya juga baru memasuki masa remaja, sehingga merasa apa yang dialami Margaret ini juga terjadi pada saya.

Setelah mencari-cari, akhirnya saya menemukan buku versi aslinya (berbahasa Inggris) di Amazon. Cukup murah, hanya 2.5 pounds termasuk ongkos kirim. Ternyata ini novel karangan Judy Blume, penulis Amerika yang terkenal dengan novel-novel khusus remaja. Novel dengan judul "Are You There, God? It's Me, Margaret" ini ternyata sudah diterbitkan sejak tahun 70an. Ini berarti saat saya membaca versi majalah Gadis, novel ini sudah berusia 20 tahun, dan saat saya membaca versi Bahasa Inggrisnya, novel ini sudah berusia 40 tahun. Wowww.......

Novel berlatar cerita di daerah New Jersey ini bercerita tentang bagaimana seorang remaja sedang berkembang secara psikologis dan kebimbangannya tentang agama apa yang harus dia anut. Margaret duduk di 6th grade, dan tidak memiliki agama. Ayah Margaret adalah seorang Jewish dan Ibunya seorang Christian. Mereka tidak memaksakan Margaret untuk menganut agama tertentu sampai nanti Margaret dewasa dan menentukan sendiri keinginannya. Tapi, justru hal inilah yang membuat Margaret bingung, karena dia merasa berbeda dengan teman-temannya yang lain, tidak ke kuil Jewish atau ke Sekolah minggu untuk beribadah. Hal ini juga yang membuat Margaret membenci hari-hari libur keagamaan, karena dia merasa tidak ada sesuatu yang spesial di hari libur keagamaan.

Meskipun belum memiliki agama, Margaret percaya akan adanya Tuhan. Ini yang membuat Margaret selalu berdialog dengan Tuhan untuk segala hal yang ada dipikirannya atau yang dia inginkan. Termasuk saat ingin memiliki tubuh yang tinggi seperti Laura Danker, gadis paling cantik di kelasnya. Juga saat dia naksir dengan Moose, pemotong rumput di halaman rumahnya.

Seperti layaknya ABG, Margaret juga memiliki geng beranggotakan 4 orang yaitu dia, Nancy, Janie dan Gretchen. Geng ini juga yang membantu Margaret mengerti bagaimana tumbuh menjadi seorang remaja, karena disini mereka bertukar cerita tentang segala hal, mulai dari membeli bra, membeli pembalut, hingga dalam hal membuat daftar orang yang mereka taksir.
Karakter anggota geng ini juga berbeda-beda. Nancy digambarkan sebagai seorang yang senang memimpin, tahu segala hal dibandingkan teman-temannya, tetapi dia terkadang berbohong supaya terlihat hebat dihadapan teman-temannya. Oleh karena itu, Nancy dianggap sebagai pemimpin di geng mereka, PTS, Pre Teen Sensation.

Di Novel ini juga digambarkan bagaimana Margaret dan teman-temannya mulai tertarik pada pria disekitarnya. Mereka sepakat membuat list pria yang menarik, menurut mereka, yang harus di update setiap minggu dan dilaporkan dalam pertemuan mingguan PTS. Margaret menemukan bahwa Phillip Leroy selalu berada di urutan pertama pada daftar pria yang disukai-minggu ini, pada daftar yang dibuat oleh Nancy, Janie dan Gretchen. Margaret juga menulis nama Philip pada daftarnya. Bedanya, Margaret menulis ini karena dia tidak ingin jujur bahwa dia sebenarnya naksir Moose, anak laki-laki yang membantu memotong rumput di rumahnya, yang dianggap anak nakal oleh teman-temannya. Oleh karena itu, Margaret jadi berpikir jangan-jangan Nancy, Gretchen, dan Janie pun sebenarnya tidak naksir Phillip, tapi hanya ingin dianggap keren, karena Phillip memang pantas untuk ditaksir.

Dalam novel ini, banyak hal-hal yang bisa membuat saya tertawa geli. Judy Blume benar-benar bisa menggambarkan sosok Margaret sebagai remaja yang sedang tumbuh, yang terkadang pikirannya berbeda dari pikiran orang dewasa. Sewaktu diminta mengisi formulir perkenalan dengan guru barunya di kelas, Mr. Bennedict, Margaret menulis sesuatu diluar dugaan. Saat diminta mengisi " I think a male teacher.....", Margaret seharusnya menulis kesannya tentang guru laki-laki. Tetapi Margaret mengisi dengan jawaban yang simpel "I think a male teacher is opposite a female teacher". Benar juga sih.......

Juga digambarkan bagaimana malunya Margaret dan Janie saat pertama mencoba membeli pembalut wanita di toko, dan kasirnya adalah seorang pria. Judy Blume menggambarkan dengan detail bagaimana paniknya mereka, sehingga akhirnya Janie membatalkan niatnya membeli pembalut wanita. Padahal bagi seorang kasir pria, setiap harinya dia menghadapi ratusan pelanggan yang membeli pembalut wanita. Dengan pembalut wanita yang dibelinya ini Margaret belajar bagaimana cara memakainya, meskipun dia belum mengalami menstruasi. Dari hasilgoogling, memang pembalut wanita yang dipasarkan sekitar tahun 70an itu berbeda dengan pembalut wanita saat ini. Pembalut wanita versi lama menggunakan semacam belt/ikat pinggang, untuk menjaga pembalut tetap pada posisinya saat digunakan. Saat itu mungkin belum ada pembalut wanita yang berperekat seperti saat ini, yang lebih mudah untuk digunakan dan simpel.















Sanitary Belt, yang digunakan bersama pembalut wanita. Versi ini yang ada sekitar tahun1970an, saat Judy Blume menulis novel "Are you there, God? It's me Margaret"


Margaret sebenarnya merupakan sosok yang religius, hanya dia belum bisa menentukan pilihan yang terbaik baginya. Digambarkan dalam novel ini bahwa Margaret setiap hari berdialog dengan Tuhan, tentang segala keinginannya. Margaret juga yakin, bahwa jika dia meminta pada Tuhan, pasti akan dikabulkan. Saat ayahnya terluka akibat mesin pemotong rumput, Margaret berdoa agar keadaan ayahnya tidak bertambah memburuk. Termasuk saat dia meminta agar segera mendapatkan menstruasi, supaya tidak kalah dengan teman-teman satu geng-nya. Margaret semakin yakin bahwa Tuhan selalu mengabulkan permintaannya, setelah pada akhirnya dia mendapatkan menstruasi pertamanya setelah ulang tahunnya yang keduabelas. Margaret merasa senang karena dia tidak tertinggal dibandingkan Gretchen dan Nancy, yang sudah lebih dulu mendapatkan menstruasi pertamanya.

Novel ini memang sangat menghibur dan bagus juga dibaca oleh para remaja dan dewasa. Sampai saat ini, saya sangat terkesan sekali dengan cerita Margaret ini. Menurut saya, novel ini sangat menggambarkan bagaimana perasaan dan perkembangan seorang anak remaja, baik dari segi psikis dan psikologis. Selain itu, novel ini juga menggambarkan bagaimana kebimbangan seorang anak remaja yang tidak memiliki pegangan agama tertentu. Masukan yang bagus untuk para orangtua, supaya mendidik anak-anaknya dengan pondasi agama yang kuat sehingga anak-anak tidak menjadi bimbang dan ragu terhadap keberadaan Sang Pencipta.

*There a lots of things about growing up that are hard to be honest about, even with your best friends*

Tuesday, 8 March 2011

Homesick

Hari minggu kemarin, tombol switch on- switch off terminal kabel milik saya tiba-tiba tidak bisa menyala dan tidak bisa bekerja. Wah, jadi agak repot memang karena terminal kabel itu menghubungkan socket/ plug atau colokan 2 ke 2. Sengaja memang saya membawa terminal socket/colokan 2 ke 2 untuk peralatan listrik mengingat peralatan elektronik yang saya bawa dari Indonesia seperti komputer, charger kamera dan HP masih menggunakan plug/colokan dengan 2 lubang, sedangkan di UK socketnya adalah 3 lubang. Sebenarnya begitu sampai UK, saya juga sudah membeli socket yang merubah 2 plug menjadi 3 plug, tapi hanya terbatas untuk 1 item barang elektronik. Sehingga saya menyambugnya lagi dengan socket 2 ke 2 yang saya bawa dari Indonesia, sehingga saya bisa menyalakan komputer, mengisi baterai HP dan kamera sekaligus.

Hubungannya dengan Homesick? Hmmm, gara-gara memperbaiki socket itu, tiba-tiba saya jadi ingat rumah alias Homesick.



Homesick atau perasaan kangen atau rindu, menurut Cambridge advanced learner's dictionary adalah suatu keadaan dimana kita merasa tidak nyaman karena berada jauh dari rumah dalam jangka waktu yang lama. Definisi lainnya adalah perasaan tidak nyaman atau lemah yang disebabkan oleh terpisahnya seseorang dari sesuatu object, dalam hal ini rumah, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Gara-gara homesick, mendorong saya untuk bertanya kepada mbah Google, apa sebenarnya homesick itu dan apa saja yang membuat sesorang merasa homesick.

Ternyata banyak faktor yang mempengaruhi apakah seseorang itu akan mudah terjangkiti homesickness atau tidak. Faktor-faktor tersebut antara lain usia, jenis kelamin (gender), budaya, dan ketegaran atau rigidity seseorang.

1. Faktor Usia
Katanya, anak-anak akan lebih mudah terjangkiti penyakit homesick dibandingkan orang dewasa. Sepertinya ini ada benarnya, karena anak-anak biasanya lebih besar ketergantungannya terhadap suatu object, dalam hal ini rumah atau orang tua (ayah dan ibu) sehingga akan lebih mudah terjangkiti homesickness.

Jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat serombongan mahasiswa saya datang menghadap, meminta saya agar membatalkan kuliah sore hari, yang dimulai pukul 4 sore. Biasanya, kelas yang dimulai pukul 4 sore ini akan berakhir sekitar pukul 6 sore. Mereka meminta supaya saya mengganti kuliah ini dilain hari. Ketika saya tanya alasannya, ternyata mereka tidak ingin pulang terlalu sore karena ingin mudik ke kampung halamannya sore ini, karena besok adalah 1 Ramadhan, hari pertama puasa. Mereka ingin membuka puasa pertama di kampung halamannya. Mahasiswa saya kebanyakan berasal dari wilayah Solo dan sekitarnya sehingga untuk mudik diperlukan waktu tidak lebih dari 5 jam. Wah, kalo untuk mengganti jam kuliah dilain hari, terus terang saya agak keberatan, karena jadwal saya kedepannya juga sudah penuh. Mungkin jika di cancel, maka saya akan lebih senang. Tapi tentu mahasiswa, dekan dan universitas tempat saya mengajar menjadi tidak senang. Oleh karena itu, saya berkata kepada para mahasiswa, bahwa saya berjanji akan mengakhiri kuliah jam 5.30. "Terimakasih, Bu", ucap mereka lega. "Selamat mudik ya, saya saja malah nggak mudik nih", saya berkata kepada mereka. "Ah, Ibu 'kan nggak perlu mudik. Ibu 'kan sudah besar," ucap salah seorang mahasiswa saya. Ha..ha..ha....saya jadi terpingkal-pingkal mendengar jawaban salah seorang mahasiswa tadi. Mungkin maksudnya, saya tidak perlu mudik karena saya sudah cukup dewasa atau tua, bukan seperti mereka yang umurnya jauh dibawah saya. Jadi, memang terbukti 'kan jika bertambahnya usia mengurangi perasaan homesick ini. Meskipun sebenarnya saya juga pengin pulang, pengin sahur dengan menu "lombok kethok" masakan Ibu saya he..he...

2. Faktor Gender
Dari sebuah penelitian tentang homesick yang saya baca, untuk wilayah UK, wanita merasa lebih mudah merasa homesick dibandingkan pria. Penelitian ini membandingkan homesickness dari segi gender di UK dan di Netherlands dikalangan para pelajar. Di Netherlands, tidak ada pengaruh perbedaan gender ini terhadap perasaan homesickness. Konon katanya, dari jurnal yang saya baca ini, di Netherlands jarak antar kota relatif dekat, dan tersedia fasilitas transport gratis untuk pelajar, sehingga mereka biasanya akan pulang ke rumah tiap weekend (http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1348/000712602162508/pdf).

Menurut saya, mungkin juga karena wanita lebih bisa mengungkapkan emosinya dibandingkan pria, sehingga jika merasa homesick, akan terlihat sekali. Seperti yang saya alami saat saya menghadapi socket yang rusak tadi. Sambil membongkar dan memperbaiki socket tersebut, saya jadi ingat Bapak saya. Coba jika ada beliau saat ini, saya tidak perlu memutar obeng dan membongkar socket itu sendiri. Bapak saya memang punya hobi mengutak-atik dan memperbaiki segalanya, mulai dari alat listrik sampai mainan milik keponakan saya dan pasti juga beliau dengan senang hati memperbaiki tombol socket yang rusak ini. Gara-gara ingat Bapak, saya jadi ingat Ibu, kangen dengan nasihat-nasihatnya yang relijius, yang membuat saya selalu ingat bahwa manusia itu tidak ada artinya dibandingkan Sang Pencipta. Kangen dengan Bapak-Ibu, membuat saya juga kangen dengan keponakan, si Tolo-Tolo, yang tidak pernah bisa diam, dan tiap kali saya menelepon ke Indonesia, dia selalu minta robot bertopeng dan bersayap. Dan saya sampai saat ini belum menemukan gambaran bagaimana bentuknya robot bertopeng dan bersayap itu. Gara-gara itu semua, saya jadi kangen rumah.......Hanya gara-gara memperbaiki tombol switch on-off pada terminal socket....hwa.......

3. Faktor Budaya
Faktor budaya ternyata juga mempengaruhi perasaan homesickness ini. Seorang pelajar Indonesia yang baru pertama kali sekolah di Inggris, tentu akan merasa lebih homesickness dibandingkan dengan pelajar Indonesia yang sudah lama sekolah di Inggris. Perasaan ini juga dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kesulitan dalam menghadapi hal baru, merasa tidak nyaman dengan lingkungan yang baru dan belum bisa memanfaatkan situasi yang dihadapinya saat ini.

Perbedaan budaya memang sering membuat perasaan homesick muncul. Jadi ingat sewaktu baru pindah ke UK, saya sering membayangkan pulang kuliah terus mampir membeli bakso atau gorengan dipinggir jalan. Jalan-jalan bersama sepulang kuliah dan banyak hal lain. Di UK, hari kerja adalah digunakan untuk kerja, sehingga pertokoan pun tutup tidak lebih dari jam 5.30 dihari kerja, kecuali supermarket besar. Kongkow-kongkow hanya dilakukan saat weekend, Jum'at malam dan Sabtu. Alhasil, tidak ada acara kongkow dan mampir beli bakso atau gorengan dihari kerja. Hari kerja, setelah jam 5 sore, acaranya adalah pulang ke rumah, tanpa ada acara kongkow. Ini juga yang membuat saya kangen Indonesia.............

Perasaan kehilangan terhadap teman, ingin mencari teman baru ditempat yang baru, merindukan tipe teman lama di tempat yang baru, serta merasa kehilangan teman curhat dan bisa dipercaya juga semakin memperparah keadaan homesickness ini, terutama dikalangan pelajar. Selain itu, kadang ada perasaan bahwa situasi sebelumnya lebih baik dari sekarang dan juga ada perasaan menyesal karena meninggalkan situasi yang lama, dimana kita sudah merasa nyaman. Ini juga memicu perasaan homesickness. Memang, zona nyaman itu terkadang terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

4. Faktor Rigidity atau Ketegaran
Seberapa kuat ikatan seseorang terhadap suatu object, maka akan mempengaruhi tingkat homesickness-nya. Seseorang yang tidak pernah hidup terpisah dari orangtuanya, mungkin akan merasakan homesickness yang lebih parah dibandingkan dengan seseorang yang sudah terbiasa hidup terpisah dari orangtuanya.

Saya sendiri sebenarnya sudah terbiasa tinggal terpisah dari orangtua sejak SMA. Orangtua saya adalah PNS yang sering dipindahtugaskan kebeberapa daerah. Khawatir dengan pendidikan anaknya yang sudah menginjak SMA, yang kemungkinan akan kacau jika mengikuti ortu yang pindah tugas, orangtua saya memutuskan untuk memusatkan pendidikan anak-anaknya di Jogja. Kebetulan di Jogja juga banyak saudara yang bisa membantu mengawasi. Alhasil, saya dan kakak sudah belajar untuk hidup mandiri sejak SMA. Dengan track-record tinggal terpisah dari orangtua yang sudah cukup lama, tapi kenapa saya masih sering kena homesick juga? Tidak terbayangkan bagaimana dengan seseorang yang tidak pernah tinggal terpisah dari orangtuanya.

Tingkat ketegaran atau rigidity ini juga mempengaruhi kecepatan munculnya perasaan homesick. Bagi saya, biasanya saya akan mulai merasa homesick jika lebih dari 3 bulan tidak bertemu orangtua dan tidak mengunjungi rumah. Selain itu, jika sedang dibawah tekanan, misal harus menyusun report atau bertemu pekerjaan yang bertumpuk, tiba-tiba saya merasa ingin pulang ke rumah. Tapi kalo yang terakhir ini, sebenarnya homesick atau lari dari tanggung jawab ya???

Bagaimana denganmu? Apa yang kamu pikirkan tentang homesick?
Anyway, saya akhirnya bisa memperbaiki terminal socket yang saya bawa dari Indonesia, dengan perasaan homesickness.


*I am homesick for everything that I am willing to remember*


Bibliography:

Saturday, 5 February 2011

Antara Zona Nyaman dan Tidak Nyaman

Weekend kali ini tidak ada agenda jalan-jalan. Cuaca yang buruk alias angin kencang membuat saya membatalkan niat untuk berkunjung ke River Trent sekaligus mengintip kandang Nottingham Forest di daerah West Bridgford. Tidak terlalu jauh memang dari City Center, hanya angin kencang hari ini, dan juga yang saya rasakan saat pulang kampus Jum'at sore kemarin, serasa meniup kuat badan dan membawa saya terbang. Padahal badan saya termasuk kategori ukuran besar, coba bayangkan kalo saya berbobot dibawah 45 kilogram, mungkin saya sudah diterbangkan hingga Derby, district di sebelah Nottinghamshire.

Karena mati gaya dirumah, tidak tahu lagi apa yang harus dikerjakan, jadi yang saya kerjakan Sabtu ini adalah merenung. Merenung dan menulis tentunya, supaya ada bukti sudah melakukan perenungan. Bukankah harus ada bukti supaya tidak disangka hoax?

Saya merasa minggu ini adalah minggu yang berat. Ya, saya merasa capek dan lelah untuk minggu ini. Rasa capek itu semakin bertambah setelah membayangkan apa yang harus saya kerjakan minggu depan. Tugas dari supervisor saya untuk menjadi supervisor untuk 2 orang undergraduate project students membuat saya "juggling" dari satu lab ke lab lainnya. Ditahun kedua program PhD saya ini, saya harus menyelesaikan pekerjaan cell culture di Tissue Engineering lab, sedangkan project students yang harus saya bimbing, bekerja di Drug Delivery lab. Minggu ini dimulai dari menyiapkan dan belanja chemical, menyusun timeline dan rencana project, meng-arrange protokol apa yang harus mereka siapkan, serta berpacu dengan target kerja saya sendiri membuat tenaga dan pikiran saya terkuras. Belum lagi minggu depan saya harus mentraining mereka menggunakan instrument di laboratorium, mendemonstrasikan teknik kerja yang harus mereka kerjakan dan mengerjakan pekerjaan saya sendiri.

Perenungan ini adalah perenungan tentang pikiran "aneh"yang muncul lagi Kamis malam lalu. Pikiran yang sama waktu saya sedang berjuang untuk menyelesaikan tesis Master saya, sementara saya juga masih harus ujian matakuliah teori. Apa sih yang saya cari dengan sekolah? Buat apa sekolah lagi, toh tanpa sekolah saya juga bisa jadi dosen dan mengajar mahasiswa. Pun pikiran itu muncul lagi 2 malam yang lalu. Toh dengan gelar Master, saya sudah bisa dan berhak mengajar mahasiswa undergraduate (S1) di Indonesia.

Istighfar, itu yang saya lakukan saat pikiran itu muncul. Dan saya tiba-tiba ingat dengan kata-kata yang sering saya ucapkan pada teman-teman di kampus dulu, "Ayo, mundurlah satu langkah ke belakang untuk maju beribu langkah ke depan". Kata-kata itu yang selalu saya ucapkan ke teman-teman kolega saya di kampus untuk memotivasi mereka untuk tetap semangat melanjutkan sekolah. Ternyata susah juga ya menepati kata-kata sendiri.

Bagi dosen seperti saya, memang banyak sekali yang harus dikorbankan pada saat memutuskan untuk sekolah lagi. Meninggalkan kampus tempat kerja, meninggalkan mengajar dan melepas jabatan struktural, yang semuanya itu tentu terkait dengan konsekuensi finansial. Institusi pendidikan tempat saya bekerja memang termasuk yang baik dalam memperlakukan dosen yang sedang studi lanjut. Kami tetap menerima gaji pokok, sedangkan honor mengajar tidak. Kebijakan yang menurut saya memang adil. Memang selama studi lanjut, kami tidak diberi beban mengajar sehingga tidak menerima honor mengajar. Tapi, jumlah gaji pokok yang saya terima itu besarnya (atau kecilnya?) hanya sepertiga dari honor yang saya terima jika saya aktif mengajar dikampus alias sangat kecil. Pengorbanan lainnya adalah harus melepas proyek-proyek penelitian bernilai tinggi dalam skala rupiah, yang seharusnya bisa dikerjakan saat tidak studi lanjut. Bagi saya tidak mungkin mengurus proyek di Indonesia sedangkan saya sendiri sedang berada di UK.

Dari segi non finansial, banyak sekali yang harus ditinggalkan saat memutuskan untuk sekolah lagi. Seusia saya, saat ini, sebenarnya saya sudah cukup nyaman dengan apa yang ada disekeliling saya. Gelar master sudah ditangan, jabatan fungsional juga sudah lumayan untuk mengajar mahasiswa S1, proyek-proyek penelitian pun mulai berdatangan dari hasil menjalin lobi sana sini. Mengajar, mengawasi praktikum, sesekali siaran program kesehatan di radio, pulang, belanja, sesekali ke gym dan berenang, santai dirumah, sepertinya menjadi rutinitas yang terpola dengan rapi. Perawatan ke salon, pijat dan spa, kongkow dengan teman-teman, mencoba tempat makan baru, shopping, sesekali travelling ke negara tetangga, menjadi bagian kenyamanan yang kadang terasa berat untuk ditinggalkan.

Lalu apa yang saya cari dengan sekolah lagi? Well, saya sendiri sering tidak konsisten untuk menjawabnya. Saat saya sedang sadar dan menjadi pribadi yang baik, saya akan menjawab bahwa tujuan saya sekolah adalah untuk meningkatkan pengetahuan, menjawab rasa ingin tahu, menambah pengalaman, berjuang untuk ummat dijalan pendidikan dan sejuta alasan ideal lainnya. Saat sedang bosan dan capek dengan sekolah, saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, dan kembali berpikir," Iya ya, ngapain capek-capek sekolah lagi?"

Saya yakin seyakin-yakinnya, pada waktu saya apply beasiswa untuk program PhD saat ini, saya sedang menjadi pribadi yang baik. Maka dari itu saya akhirnya memutuskan mendaftar program beasiswa. Tapi tidak pada saat saya dinyatakan diterima dan berhak atas beasiswa ini. Senang, tapi sedikit sekali rasa itu. Saat dinyatakan diterima beasiswa ini, saya justru menangis. Menangis dibalik senyuman, karena saya tidak mungkin menangis di depan orang-orang yang memberikan ucapan selamat pada saya. Sewaktu dinyatakan diterima beasiswa, yang saya rasakan adalah beban yang sangat berat. Beban untuk bersiap meninggalkan zona nyaman yang saya miliki menuju zona tidak nyaman.

Saya pernah merasakan bagaimana tidak enaknya berpindah dari zona nyaman ke zona tidak nyaman ketika saya memutuskan kuliah lagi untuk mengambil program master. Beban kuliah yang sangat tinggi, berada di lingkungan baru, dosen yang gaya mengajarnya berbeda dengan dosen-dosen saya waktu S1, menjadi beban berat bagi saya. Alhamdulillah, Allah selalu sayang dengan hambanya. Dibulan ketiga sejak saya menginjak zona tidak nyaman saat mengambil program S2, saya mulai merasa nyaman dengan teman-teman yang sangat baik, sehingga zona tidak nyaman itu berubah menjadi zona nyaman hingga saya menyelesaikan program master saya.

Menerima beasiswa untuk program PhD ini membuat saya kembali harus bersiap untuk mengeluarkan langkah saya dari zona nyaman. Saya ingat dengan kata-kata teman baik saya, bahwa semakin dewasa usia seseorang, semakin sulit rasanya untuk melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman. Hal itu juga saya rasakan. Alhasil 6 bulan sejak dinyatakan diterima beasiswa, saya tidak melakukan progress apapun. Padahal beasiswa saya akan expired dalam tempo 1 tahun jika dalam 1 tahun saya tidak mengambil jatah beasiswa itu.

Dan sekali lagi, Allah memang maha pembolak-balik hati. Dialog kecil dengan diri sendiri akhirnya meyakinkan saya untuk menempuh segala usaha agar jatah beasiswa itu tidak hilang karena expired. Betapa ratusan kandidat dari berbagai negara berusaha mendapatkan beasiswa itu, sedangkan saya yang sudah mendapatkannya, malah berkeinginan untuk melepaskannya. Akhir 2008, saya memantapkan hati menerima beasiswa ini. Segala usaha juga saya lakukan untuk berburu universitas yang sesuai dengan bidang minat saya. Saya juga mengajukan pengunduran diri dari jabatan struktural untuk lebih berkonsentrasi mencari sekolah. Bulan Juni 2009, segala sesuatunya telah siap, dan tinggal mempersiapkan keberangkatan. Akhir September 2009 akhirnya saya menginjakkan kaki di UK, dan juga melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman.

Dari kenyataan yang saya alami, saya berpendapat bahwa sebenarnya zona tidak nyaman itu tidak pernah ada. Kenyamanan dan ketidak-nyamanan semua itu ada dibawah kendali diri kita sendiri. Tentu saya juga merasa tidak nyaman ketika menginjakkan kaki di UK. Bahasa yang berbeda, budaya yang berbeda, makanan yang berbeda, membuat segalanya jadi tidak nyaman. Tapi setidaknya saat ini saya sudah merasakan bahwa zona itu sedikit demi sedikit sudah berubah menjadi nyaman bagi saya. Teman-teman yang baik dan siap menolong disekeliling saya, jalan-jalan ke tempat-tempat terkenal di UK, bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai karakter, bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara, membuat saya merasa mulai nyaman dengan semua ini. Dan ini berarti bahwa saya sudah mulai memperluas zona nyaman saya dan menyulap zona tidak nyaman menjadi zona nyaman...yayy......

To summarize, untuk memperluas zona nyaman, tentunya kita harus berani bergerak keluar dari zona nyaman itu sendiri dan merubah zona tidak nyaman menjadi zona nyaman. Bukankah jika zona nyaman yang kita miliki semakin luas, maka kita akan semakin leluasa untuk bergerak? Dan jangan lupa untuk selalu menempatkan ikhlas, yaitu melakukan segala sesuatunya hanya karena Allah, dan sabar dihati kita.




Nottingham, 5 February 2011
Renungan Sabtu malam






Sunday, 9 January 2011

Jebakan Wasabi

Sudah pernah mencicipi kacang wasabi? Snack seperti kacang telur dengan lapisan penyalut yang berwarna hijau, dan rasa yang "spesifik". Wasabi adalah nama bumbu berwarna kehijauan yang menyalut kacang telur itu. Kacang ini begitu menarik bagi saya, karena pengalaman baru yang saya dapat dengan snack ini. Batuk dan pilek yang saya rasakan sejak libur Christmas lalu, jadi hilang akibat efek dari mengkonsumsi kacang ini. Tertarik.....? Bisa dicoba.........

Snack sejenis kacang telur ini saya temukan di supermarket dekat rumah. Saat itu, sebenarnya saya ingin membeli pistachio, snack kacang-kacangan kegemaran saya. Sayangnya stock pistachio sedang kosong. Pilih punya piilih, saya tertarik dengan "wasabi peanut", dengan gambar kemasan seperti kacang telur berwarna kehijauan. Membayangkan kacang shanghai, snack favorit saya di Indonesia, akhirnya saya memutuskan membeli kacang wasabi itu, sebagai ganti pistachio. Lagipula pada kemasannya mencantumkan kata "crispy and hot". Woww....pasti gurih dan enak, karena ada sedikit rasa pedasnya. Sudah beberapa kali saya membeli kacang pedas di Inggris raya ini, tapi belum ada yang pedasnya pas, dan rasa kacangnya kadang malah seperti rasa kacang melempem. Semoga kacang yang ini enak dan cocok di lidah.

Sampai dirumah, sambil santai browsing internet dan minum teh hijau hangat, saya buka kacang washabi itu. Pertama menempel di lidah, kekagetan tampaknya terjadi pada lidah saya. Ya......kaget yang luar biasa......Mungkin kalo lidah ini bisa berteriak, maka lidah saya akan berteriak. Sayang, lidah memang tidak bertulang, oleh karena itu tidak bisa berteriak (*memang tidak ada hubungan antara tulang dan produksi suara*).

Rasa yang benar-benar aneh untuk diterjemahkan dalam tulisan, telah dirasakan oleh indera pengecap saya. Antara pahit, getir, pedas, dan...mmmm.....rasa yang aneh, saya sulit sekali menerjemahkan rasa itu dalam kata-kata. Lambat saya mulai mengunyah kacang telur itu. Lapisan kulitnya akhirnya hancur diantara gigi-gigi dan memunculkan rasa kacang yang selama ini sudah akrab dengan saya. Eh...benar ternyata tulisan pada kemasan itu, memang rasanya "crispy and hot". Lapisan penyalut kacang tersebut, gurih juga ternyata. Kacang di dalamnya juga enak, sama dengan kacang atom garuda atau dua kelinci, merek yang sering saya beli waktu di Indonesia. Enak juga ternyata, jadi kacang wasabi pun terus berlanjut masuk dalam mulut saya. Tapi sepertinya lidah saya trauma untuk merasakan wasabi, sehingga saat masuk mulut, gigi geligi saya langsung melumat kacang wasabi itu, sehingga yang tersisa dilidah adalah rasa gurih tepung lapisan penyalut dan kacang, bukan bumbu hijau di lapisan penyalut yang rasanya "aneh" itu.

Supaya tidak penasaran dengan kacang wasabi, ini gambar kacang wasabi, seperti yang saya beli:



Bentuknya seperti kacang atom biasa, hanya lapisan penyalutnya yang berwarna hijau, dengan bumbu yang tersebar pada lapisan penyalut.

Untungnya, saya merasakan efek lain dari mengkonsumsi kacang ini. Rongga hidung yang mampet akibat pilek, tiba-tiba terasa longgar dan mudah untuk bernafas. Batuk berdahak saya juga berkurang akibat makan kacang ini. Ajaib ya.....Jadi penasaran untuk lebih mencari tahu, apa sih yang terkandung pada kacang wasabi ini. Lets do goggling.......

Wasabi, adalah sejenis bumbu dari tanaman Wasabia japonica, yang sering digunakan di Jepang untuk memberi rasa pada makanan. Rasa yang dihasilkan adalah rasa pedas, tapi lebih kuat dari rasa yang dihasilkan dari cabe atau merica. Bagian yang digunakan untuk menghasilkan rasa ini adalah bagian daun dan akar dari tanaman Wasabia Japonica.




Tanaman Wasabi ini banyak tumbuh di daerah pegunungan di Jepang dan memang digunakan sebagai bumbu masak pada kebanyakan masakan Jepang. Rasa yang dihasilkan khas sekali dan warna hijau pada Wasabi juga berfungsi sebagai pewarna alami pada makanan.

Rasa yang khas yang dihasilkan oleh Wasabi dikarenakan adanya kandungan isothiocyanate pada tamanan ini yaitu 6-methylthiohexyl isothiocyanate, 7-methylthioheptyl isothiocyanate 8-methylthiooctyl isothiocyanate. Efek farmakologi dari senyawa isothiocyanate ini adalah sebagai anti inflamasi, anti mikroba, anti platelet dan anti cancer.

Efek anti mikroba dari kacang wasabi inilah yang mungkin berkhasiat menyembuhkan batuk dan pilek saya. Bukti-bukti ilmiah mengenai efek farmakologi tanaman ini, memang kebanyakan menunjukkan adanya efek anti mikroba, baik terhadap fungi dan bakteri. Bahkan, ada satu artikel juga yang menyebutkan bahwa wasabi juga bisa digunakan sebagai anti virus, khususnya virus swine influensa (H1N1). Penyakit flu yang cukup merepotkan pemerintah Inggris pada winter kali ini (http://www.nhs.uk/conditions/pandemic-flu/Pages/Introduction.aspx).

Kacang Wasabi, meskipun rasa yang kau hasilkan "aneh" eh "unik", tapi kau telah berjasa menyembuhkan batuk dan pilek. Dan terlebih lagi, kacang wasabi ini mendorong saya untuk sekali-sekali menulis yang 'agak" ilmiah pada blog yang "tidak mutu" ini.


Saturday, 11 December 2010

Engagement




















Saya sedang mengencerkan larutan gelatin dengan perbandingan 1: 20 ketika Vanessa datang. "Morning", sapaan ramahnya muncul. Vanessa, gadis Jerman, first year student di lab saya, memulai PhD nya September 2010 ini. Ahh...kebetulan Vanessa sudah datang. Hari ini saya memerlukan feeder layer untuk mengkultur mouse embryonic stem cells, tapi saya kehabisan feeder layer untuk minggu ini karena saya tidak punya lagi sel fibroblast untuk membuat feeder layer. "Morning Vanessa", saya membalas salamnya. "Vanessa, would you give me two flasks of your feeder cells?" saya memberanikan diri bertanya. "It would be fine, Anita. I only need two flasks to keep my cells growth", jawab Vanessa.

Sembari saya memfilter larutan gelatin kedalam T25 flask dan Vanessa membersihkan cell culture hood, kami saling bercerita tentang perkembangan lab work kami, dan semakin pendeknya waktu yang tersedia karena semakin mendekati liburan Christmas. Vanessa juga bercerita bahwa supervisornya sudah menagih report untuk mini project yang dia kerjakan sekarang. Tiba-tiba dia bertanya pada saya, "Can I tell a secret to you?". Waduh....apa lagi nih, apakah dia merasa tertekan jadi PhD student yang selalu merasa kekurangan waktu?

"Anita, I am engaged now," dia berkata dengan mata berbinar. "Sorry?" saya kurang jelas mendengar apa yang dia maksud. "Yes, I am engaged with my boyfriend. He proposed me to marry yesterday". jelasnya. Wowww, congratulations Vanessa......!!!

*************************

Dari definisi kamus Cambridge Advanced Dictionary yang saya miliki, kata "Engaged" memiliki arti "having formally agreed to marry". Pasangan yang menyatakan statusnya sebagai "engaged" berarti sudah dipastikan akan menikah. Pada kasus Vanessa ini, dia dan boyfriend-nya berjanji untuk menjadi pasangan yang menikah. Saya pun menanyakan pada Vanessa kapan mereka akan menikah, apakah tahun depan? Well, Vanessa bilang tidak mungkin tahun depan. Masih banyak kendala yang dia hadapi untuk segera menikah. Vanessa berkebangsaan Jerman, sedangkan si boyfriend adalah orang British. Untuk menikah, mereka harus melakukannya di Jerman sedangkan saat ini mereka berdua masih sama-sama berstatus PhD student di UK, sehingga tentunya akan merepotkan untuk mengurus pernikahan mereka. Itu alasan Vanessa kenapa mereka tidak bisa segera menikah.

Lalu, apa bedanya ya dengan status mereka yang selama ini sudah hidup bersama? Saya tahu bahwa Vanessa sudah tinggal satu rumah bersama dengan boyfriend-nya sejak 2 tahun terakhir ini. Ya, mereka tinggal bersama semenjak Vanessa masih berstatus karyawan sebuah perusahaan farmasi terkenal di Inggris. Tanpa engaged pun mereka juga bisa hidup bersama dan tinggal satu rumah, tanpa menikah juga, tentunya. Hmmm....analisa saya adalah, status engaged dimata mereka setidaknya lebih menjanjikan dibandingkan hanya "hidup bersama", isn't it?

Kalau bisa disejajarkan dengan keadaan di Indonesia, status engaged ini mungkin hampir sama dengan status tunangan. Dalam keluarga besar saya, status tunangan ini baru akan muncul jika sudah ada "tembung" antara keluarga calon pengantin pria kepada keluarga calon pengantin wanita, dalam bentuk lamaran. Masa setelah lamaran hingga menikah ini yang disebut sebagai tunangan. Biasanya, jeda waktu antara lamaran hingga menikah, juga tidak terlalu lama, hanya sekitar 3-6 bulan, sembari mempersiapkan pernikahan, bahkan kadang bisa kurang dari 3 bulan. Dalam masa tunangan, tentunya belum bisa hidup bersama, karena belum ada ikatan pernikahan. Hidup bersama tentunya dimulai setelah adanya ijab dan qabul.

Saya bukan ahli sosiologi, sehingga tidak tahu apakah perbedaan ini dipengaruhi oleh budaya, agama, agama yang mempengaruhi budaya atau apa penyebabnya. Disini, di negara tempat saya belajar saat ini,memang banyak sekali pasangan yang hidup bersama tanpa menikah, bahkan tanpa engagement juga. Salah seorang teman lab saya jugapernah bercerita bahwa ayah dan ibunya tidak pernah menikah. Dan dia dengan bangganya bercerita bahwa meskipun ayah-ibunya tidak menikah, mereka tetap rukun hingga saat ini, 30 tahun hidup bersama. Yang ada dalam pikiran saya, kalo tetap rukun selama 30 tahun hidup bersama, kenapa mereka tidak menikah sekalian? Saya kira itu bukan urusan yang penting untuk dibahas karena saya juga menghormati hak mereka untuk hidup bersama tanpa menikah.

Yah....memang manusia diciptakan berbeda-beda, termasuk dalam cara berpikir, berbudaya dan gaya hidup. Itulah yang membuat saya merasa bersyukur bahwa saya diberi kesempatan untuk melihat semua perbedaan ini. Hal seperti ini mungkin akan sangat jarang saya temui di Indonesia. Eh....tapi katanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung bahkan Jogja, gaya hidup seperti Vanessa dan boyfriend-nya sudah mulai marak. Entahlah, saya tidak tahu pasti, tapi saya berharap berita itu tidak benar.

Anyway, saya tetap merasakan kebahagiaan yang saat ini sedang dirasakan oleh Vanessa. Engagement setidaknya lebih menjanjikan kepastian dibandingkan hanya hidup bersama. Saya harus menambahkan ucapan selamat atas engagement-nya dalam Christmas Card yang akan saya berikan pada Vanessa minggu depan. Christmas Card yang saya tulis sebagai balasan atas Christmas Card yang sudah Vanessa letakkan di meja saya beberapa hari yang lalu.




Nottingham, 11 Dec 2010
*Warm Saturday night in winter season*