Showing posts with label Miscellaneous. Show all posts
Showing posts with label Miscellaneous. Show all posts

Friday, 13 July 2012

Ulang Tahun dan Procrastination


Sepertinya tidak banyak yang saya kerjakan hari ini. Hanya merawat sel-sel peliharaan, mengganti media, membuat media baru, membuat feeder layer untuk stok minggu depan. Semua pekerjaan itu adalah pekerjaan rutin bagi saya yang bisa saya lakukan secara otomatis, ibaratnya, tanpa perlu berpikir lagi.

Jadi merasa bersalah karena saya merasa tidak banyak yang bisa saya kerjakan. Target "menata puzzle" juga tidak selesai hari ini. Menata puzzle ini pekerjaan baru bagi saya yang lumayan menyita waktu. Memang hari ini saya merasa kurang motivasi untuk mengerjakan "penataan puzzle" ini. Alasan pertama adalah hari ini Jum'at, hari menjelang weekend, aroma weekend sudah mulai terasa. Kedua, hari ini mendung, sehingga bawaannya mengantuk terus. Yang ketiga, hari ini hari lahir saya....Ulang Tahun...yayyyy..!!!

Pagi ini, setelah pesta lumpia dan batagor dengan teman-teman satu kantor, saya langsung masuk lab untuk mengerjakan pekerjaan rutin merawat sel. Jam 10.30, semua sudah selesai, waktunya minum kopi. Waktu mengambil air panas di common room, saya berpapasan dengan salah seorang teman satu group. "Why you are still here?" dia bertanya dengan nada heran. Saya yang ditanya lebih heran lagi, "What's wrong?". "Today is your birthday, go home and enjoy your life," katanya. Hehehe....saya hanya tertawa.

Sempat kepikiran juga mau pulang cepat, tapi, begitu ingat banyak data yang belum diolah, niat itu saya urungkan. Eh, tapi ini 'kan hari ulang tahun, masa' ulang tahun masih mengolah data juga. Akhirnya, niat procrastination*) itu tambah menguat setelah salah seorang Post Doc yang satu ruang dengan saya bilang..."you  're still sitting there. It's your birthday!". Okay deh kakak.....ternyata banyak yang mendukung niat saya untuk procrastinate. 

I am going home.....Relax, today is my birthday...:))

Jadi ingat tulisan yang saya dapat dari postingan milis ke milis sekitar tahun 2004-2006. Siapa penulis aslinya, saya kurang tahu. Yang jelas, alasan dibawah ini mengurangi rasa bersalah saya.


"Jika saya lihat dari hitungan hari (baca: alasan) ini, sebenarnya bukan salah sang mahasiswa bila ia tidak lulus ujian, karena belajar pun ia tidak sempat…
Tahukah anda, setahun itu hanya terdapat 365 hari yang kita tahu sebagai tahun akademik siswa… 
Mari kita hitung!


Hari Minggu
52 hari dalam setahun. Anda pasti tahu bahwa hari minggu itu adalah hari istirahat. Hari tersisa tinggal 313.


Hari Libur (Nasional maupun internasional)
Kurang lebih terdapat 13 hari libur dalam setahun, misalnya tahun baru, natal, dsb… Hari tersisa tinggal 300.


Libur Kuliah
Jelas semua mahasiswa akan libur dan tidak akan kuliah. Biasanya sekitar 2 bulan lebih, anggaplah sekitar 60 hari. Hari tersisa tinggal 240.


Tidur Yang paling baik adalah 8 jam sehari untuk kesehatan, jadi 120 hari terpakai. Hari tersisa tinggal 120.


Beribadah
Paling tidak 1 sampai 2 jam perhari kita beribadah, kita alokasikan 25 hari dalam setahun. Hari tersisa tinggal 95.


Bermain
Hal yang paling baik untuk kesegaran dan kesehatan adalah bermain. Paling tidak memerlukan 1 jam sehari. Terpakai lagi 15 hari. Hari tersisa tinggal 80.


Makan
Sekurang-kurangnya selama satu hari kita habiskan 2 jam untuk makan atau minum, hilang lagi 30 hari. Hari tersisa tinggal 50


Berbicara
Jangan lupakan, bahwa manusia adalah mahluk sosial yang butuh berinteraksi dengan orang lain. Kita ambil 1 jam perhari untuk berbicara. 15 hari terpakai lagi. Hari tersisa tinggal 35.


Sakit
Kitapun bisa sakit, baik ringan maupun berat. Itupun `kalau’ sakit, paling tidak 5 hari dalam setahun sudah cukup mewakili. Hari tersisa tinggal 30.


Ujian
Ujian itu sendiri biasanya dilaksanakan selama 2 minggu per semester. Berarti, 24 hari sudah teralokasi untuk ujian. Hari tersisa tinggal 6.


Refreshing
Untuk menyegarkan pikiran, refreshing itu perlu. Nonton dan jalan-jalan paling tidak menghabiskan waktu 5 hari dalam setahun. Hari tersisa tinggal 1.
Satu hari yang sisa itu khan HARI ULANG TAHUN….!!!
Masa’ harus belajar, sih?"






(Posting dalam rangka procrastination berkedok ulang tahun)

* Procrastination: at procrastinate
   Procrastinate:  to keep delaying something that must be done, often because it is unpleasant or    boring (Cambridge Advanced Learner's Dictionary)

Tuesday, 6 March 2012

Cangkir yang Hilang (Missing Cups)


Ketika membaca artikel tentang "Teaspoon Study" saya benar-benar dibuat kagum dengan ide sang peneliti untuk menelusuri tentang kecepatan hilangnya sendok teh disebuah lembaga penelitian di Australia. Selain menarik, bahasan tentang penelitian ini juga menggelitik. Saking menariknya penelitian ini, saya tertarik untuk membahas penelitian itu di blog ini, silahkan klik disini untuk melihat review artikel ala saya....:-))


Dan ternyata, bukan hanya benda kecil sejenis teaspoon (sendok teh) saja yang mudah menghilang dan sulit ditelusuri keberadaannya. Benda seperti cangkir atau mug pun ternyata mudah menghilang. Ini terjadi di Universitas tempat saya belajar. Padahal, jika dibandingkan secara fisik dengan teaspoon, cangkir ukurannya jauh lebih besar. Dengan ukuran yang lebih besar ini, sepertinya kemungkinan para cangkir untuk terselip atau secara tidak sengaja terbawa pulang, rasanya juga kecil.Tapi tidak demikian kenyataannya.


Minggu lalu, saya menerima e-mail dari pengurus Engineering and Science Graduate Centre (ESGC). Berikut isi e-mail nya:


E-mail dari ESGC tentang hilangnya cangkir-cangkir di Engineering and Science Graduate Centre, dari 100 cangkir yang disediakan, saat ini hanya tinggal 5 cangkir yang tersisa.
(Klik pada gambar untuk memperbesar)






Saat menerima e-mail ini, saya langsung teringat dengan artikel Teaspoon study, dan otomatis tertawa terpingkal-pingkal membaca e-mail ini. Kelihatannya, hilangnya cangkir ini juga bisa jadi topik menarik untuk diteliti. Kemana kira-kira perginya para cangkir ini? Apakah ada Mugnoid Planet yang sekiranya menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi para cangkir? Berapa kecepatan hilangnya cangkir-cangkir ini dalam sebulan? Perlukah satelit pelacak untuk mengetahui keberadaan para cangkir ini?

Untungnya, cangkir saya masih utuh tetap berada diatas meja. Sepertinya tidak ada niatan dari cangkir milik saya untuk hijrah ke Mugnoid Planet. Tapi, siapa yang tahu isi hati sebuah cangkir? Yang saya tahu hanya isi Cangkir, kadang berisi kopi, kadang berisi air putih, kadang juga berisi air putih yang bercampur dengan bekas kopi...hehehe.....









*thinking about spoonoid life and mugnoid life out-there*




Nottingham, March 2012





Friday, 25 November 2011

Suka dan Tidak Suka

Saya suka winter, karena malam lebih panjang sehingga dapat cukup tidur
Saya tidak suka winter, karena sering turun salju yang bikin jalanan licin dan bikin terpleset

Saya suka summer, karena terang lebih lama sehingga bisa aktif terus
Saya tidak suka summer, karena tidak dapat cukup tidur

Saya suka sambal, jika dimakan dengan pecel lele atau bebek goreng
Saya tidak suka sambal, jika dicampur dengan makanan berkuah

Saya suka makan pecel, apalagi pecel ponorogo
Saya tidak suka pecel, yang dijual di warung nya Mbak Pur

Saya suka tempe, apalagi dimakan dengan sambel bawang
Saya tidak suka tempe, yang dibungkus tepung dan dijual di warungnya Mbak Pur

Saya suka coklat, kalo sedang lapar dan bosan
Saya tidak suka coklat, karena sering bikin batuk

Saya suka kopi, karena bisa bikin kenyang dan bikin mata melek
Saya tidak suka kopi, karena bikin sering bolak-balik ke kamar kecil

Saya suka sekolah, karena ada kesempatan untuk tambah teman dan jalan-jalan
Saya tidak suka sekolah, kalo harus bikin monthly report dan presentasi

Saya suka mengajar, kalo mahasiswanya enak diajak komunikasi
Saya tidak suka mengajar, kalo harus menyiapkan bahan kuliah

Saya suka penelitian di lab, kalo hasilnya sesuai dengan yang saya prediksi
Saya tidak suka di lab, setelah menunggu satu bulan, ternyata hasilnya negatif

Saya suka berada ditempat yang baru, jika teman-teman baik dan menyenangkan
Saya tidak suka berada di tempat yang baru, karena perlu kerja keras untuk menyesuaikan diri

Saya suka warna pink, karena terlihat manis dan lembut
Saya tidak suka warna pink, karena tidak pernah bisa menolak warna ini

Saya suka pakai celana jeans, karena terasa lebih luwes dan PeDe
Saya tidak suka pakai celana jeans, karena Ibu saya selalu protes kalo saya pakai jeans

Saya suka melihat-lihat facebook, karena jadi tahu kabar terbaru
Saya tidak suka facebook, karena mengintip kabar orang lain itu bisa menyita waktu

Saya suka pulang mudik ke Indonesia, karena bisa santai dan banyak makanan enak
Saya tidak suka pulang mudik ke Indonesia, karena merasa Indonesia itu sumpek dan kebanyakan orang

Saya suka tinggal di Inggris, karena semua serba teratur
Saya tidak suka tinggal di Inggris, terutama saat summer yang bikin saya kurang tidur

Saya suka weekend, karena saya jadi punya kesempatan untuk up-date blog ini...:-))
Saya tidak suka weekend, karena bikin malas di hari Senin

Suka atau tidak suka, itu pilihan dengan berbagai alasan
Suka atau tidak suka, semua harus dijalani.
Suka atau tidak suka, kalo sudah masuk blog saya harus baca tulisan iseng ini...:-))



Posting iseng di malam Sabtu



Saturday, 18 June 2011

Moving


Moving atau pindahan!!! Hal yang sebenarnya paling saya benci. Rasa kurang nyaman dengan pindahan ini adalah hal yang sangat manusiawi karena seseorang cenderung malas untuk meninggalkan zona nyaman. Membayangkan harus membereskan barang, angkut-angkut, merapikan barang di tempat yang baru, ganti alamat dan lain-lain, memang jadi faktor-faktor keberatan saya jika harus pindahan.

Sewaktu undergraduate, saya termasuk yang tidak pernah pindah tempat kos. Dulu pernah sempat berpikir untuk cari tempat kos baru karena tarif di kos yang lama naik. Tetapi setelah mencari dan mengunjungi beberapa tempat kos, tempat kos yang lama kok terlihat lebih nyaman dan murah ya. Alhasil saya urungkan niat untuk pindah kos hingga saya akhirnya lulus apoteker.

Lulus dari perguruan tinggi di Jogja, saya diterima kerja di Universitas swasta di Solo. Karena malas pindahan, saya nekad "nglaju" atau jadi komuter Jogja-Solo selama 1 bulan. Tapi ternyata....capeeekkkkk deh......serasa tua di jalan dan jadi tidak efektif. Setelah pulang, saya jadi tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Akhirnya, saya mulai mencari tempat kos di Solo, dan pindahan lagi.

Tempat kos saya di Solo ini termasuk nyaman, bagus dan murah. Ibu Kos nya pun baik hati. Saya tentu betah sekali dan tidak melirik kos yang lain untuk pindah. Sampai akhirnya saya memutuskan pindah ke Bandung karena mengambil program Master di ITB. Hufff...terulang lagi peristiwa cari kos dan pindahan.

Pertama di Bandung, saya dapat tempat kos di daerah Cisitu Baru. Tempatnya bagus dan cukup nyaman, dekat pula dengan Pasar Simpang Dago. Tempat ideal memang untuk saya karena daerah ini merupakan tempat ideal untuk jajan dan membeli makanan. Hanya saya merasa kesepian di tempat baru ini. Di Kos Cisitu ini penghuninya mencapai 35 orang, sehingga kami saling tidak mengenal satu sama lain. Bagi saya yang terbiasa dengan budaya kos-kos-an di daerah Jogja dan Solo, keadaan seperti ini sangat tidak nyaman. Di kos Jogja dan Solo, sesama penghuni kos saling mengenal satu sama lain dan menyempatkan bertegur sapa.

Niat mencari tempat kos dengan penghuni yang lebih sedikit akhirnya tercapai. Teman saya di kampus menawarkan kos di dekat rumahnya, daerah Kebon Bibit, yang penghuni kosnya hanya sekitar 4-5 orang. Jumlah penghuni ideal menurut saya, karena dengan jumlah penghuni yang tidak terlalu banyak ini, kita bisa saling mengenal satu sama lain. Menginjak bulan keempat di Bandung, saya pun pindah ke tempat kos di Kebon Bibit ini. Alhamdulillah, suasananya nyaman, seperti yang saya harapkan. Saya pun bertahan ditempat ini hingga menyelesaikan program master saya.

Kembali ke Solo, saya pun booked tempat kos yang lama. Sekali lagi karena saya sudah merasa nyaman ditempat ini. Sampai akhirnya, alhamdulillah, saya memiliki rumah di Solo. Rumah sudah jadi, tapi untuk pindahan dari tempat kos ke rumah......maleeeessssss banget. Saya membayangkan sangat tidak nyaman jika harus tinggal sendirian dirumah, tentu akan lebih nyaman tinggal di tempat kos yang banyak temannya untuk ngobrol. Rumah saya akhirnya hanya jadi penginapan sementara, jika ortu atau ada saudara saya datang, maka saya pun tinggal di rumah itu. Begitu mereka pulang, saya pun kembali ke tempat kos di Mendungan.

Sampai akhirnya, saya harus berangkat melanjutkan sekolah ke Nottingham, barulah saya total pindahan ke rumah tersebut. Ya, karena kontrak di tempat kos itu sudah habis dan saya harus membereskan barang-barang saya yang tidak mungkin ditinggal di Kos Mendungan. Itupun disertai dengan tindakan menginap di kos mendungan tiap malam, hingga akhirnya saya berangkat ke Nottingham.

Di Nottingham, saya tinggal dengan keluarga teman. Kebetulan mereka punya kamar kosong yang bisa di share. Sampai akhirnya, di akhir tahun kedua saya di Nottingham, saya harus pindah lagi. Teman saya dan keluarganya harus pulang kembali ke Indonesia. Saya harus pindah atau moving lagi tentunya......................dan saya benci ini. Padahal saya sudah nyaman sekali tinggal ditempat yang lama itu. Saya sudah merasa akrab dengan jalan-jalan di daerah itu, dengan sopir bis yang melintas di daerah itu, dan terpenting sudah akrab dengan sesama penumpang di bus stop daerah itu. Salah satunya ya Simbah itu.

Saya pun dapat tempat baru nyaman, share dengan keluarga dari Indonesia juga. Saat menjelang pindahan adalah saat yang paling tidak saya sukai. Harus packing barang-barang, angkut-angkut dan menata di tempat yang baru. Belum lagi saat itu adalah awal Juni, bulan yang paling gawat bagi saya. Di bulan Juni ini saya harus menyiapkan 2 talk presentasi di grup, 1 presentasi poster, dan 2nd year report!!! Rasanya kalo bisa memilih, saya memilih untuk tidak pindah sampai semua report saya selesai. Barang-barang saya pun ternyata sudah mengembang 4 kali lipat dari semenjak saya tiba di Nottingham. Ini juga yang membuat saya bertekad untuk tidak belanja membeli barang-barang sampai saya lulus nanti. Sepertinya saya bisa menjalani ini. Tiga minggu di tempat baru ini, saya hanya belanja barang consumable dan belum belanja barang-barang yang tidak perlu. Lets see, berapa bulan saya bertahan dengan tekad ini.

Ditempat yang baru ini, bus stop nya tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya perlu waktu semenit untuk jalan dari tempat tinggal baru ini ke bus stop. Pilihan bus nya pun lebih banyak, karena tempat tinggal saya yang baru ini terletak di jalan raya. Disini sekarang saya menunggu bus:




View Larger Map

Teman sesama penunggu bus di bus stop ini juga berganti. Cuma saya belum mendapatkan teman ngobrol selama menunggu bus di tempat ini. Eh, tapi ada sesama student Uni Nottingham juga yang sering bareng dengan saya berangkat dari bus stop ini. Hingga saat ini, hanya sapaan "morning" yang saya dapatkan. Mungkin nanti bisa meningkat jadi teman ngobrol seperti Simbah itu.



-Saturday afternoon at Queens Road-

Saturday, 5 February 2011

Antara Zona Nyaman dan Tidak Nyaman

Weekend kali ini tidak ada agenda jalan-jalan. Cuaca yang buruk alias angin kencang membuat saya membatalkan niat untuk berkunjung ke River Trent sekaligus mengintip kandang Nottingham Forest di daerah West Bridgford. Tidak terlalu jauh memang dari City Center, hanya angin kencang hari ini, dan juga yang saya rasakan saat pulang kampus Jum'at sore kemarin, serasa meniup kuat badan dan membawa saya terbang. Padahal badan saya termasuk kategori ukuran besar, coba bayangkan kalo saya berbobot dibawah 45 kilogram, mungkin saya sudah diterbangkan hingga Derby, district di sebelah Nottinghamshire.

Karena mati gaya dirumah, tidak tahu lagi apa yang harus dikerjakan, jadi yang saya kerjakan Sabtu ini adalah merenung. Merenung dan menulis tentunya, supaya ada bukti sudah melakukan perenungan. Bukankah harus ada bukti supaya tidak disangka hoax?

Saya merasa minggu ini adalah minggu yang berat. Ya, saya merasa capek dan lelah untuk minggu ini. Rasa capek itu semakin bertambah setelah membayangkan apa yang harus saya kerjakan minggu depan. Tugas dari supervisor saya untuk menjadi supervisor untuk 2 orang undergraduate project students membuat saya "juggling" dari satu lab ke lab lainnya. Ditahun kedua program PhD saya ini, saya harus menyelesaikan pekerjaan cell culture di Tissue Engineering lab, sedangkan project students yang harus saya bimbing, bekerja di Drug Delivery lab. Minggu ini dimulai dari menyiapkan dan belanja chemical, menyusun timeline dan rencana project, meng-arrange protokol apa yang harus mereka siapkan, serta berpacu dengan target kerja saya sendiri membuat tenaga dan pikiran saya terkuras. Belum lagi minggu depan saya harus mentraining mereka menggunakan instrument di laboratorium, mendemonstrasikan teknik kerja yang harus mereka kerjakan dan mengerjakan pekerjaan saya sendiri.

Perenungan ini adalah perenungan tentang pikiran "aneh"yang muncul lagi Kamis malam lalu. Pikiran yang sama waktu saya sedang berjuang untuk menyelesaikan tesis Master saya, sementara saya juga masih harus ujian matakuliah teori. Apa sih yang saya cari dengan sekolah? Buat apa sekolah lagi, toh tanpa sekolah saya juga bisa jadi dosen dan mengajar mahasiswa. Pun pikiran itu muncul lagi 2 malam yang lalu. Toh dengan gelar Master, saya sudah bisa dan berhak mengajar mahasiswa undergraduate (S1) di Indonesia.

Istighfar, itu yang saya lakukan saat pikiran itu muncul. Dan saya tiba-tiba ingat dengan kata-kata yang sering saya ucapkan pada teman-teman di kampus dulu, "Ayo, mundurlah satu langkah ke belakang untuk maju beribu langkah ke depan". Kata-kata itu yang selalu saya ucapkan ke teman-teman kolega saya di kampus untuk memotivasi mereka untuk tetap semangat melanjutkan sekolah. Ternyata susah juga ya menepati kata-kata sendiri.

Bagi dosen seperti saya, memang banyak sekali yang harus dikorbankan pada saat memutuskan untuk sekolah lagi. Meninggalkan kampus tempat kerja, meninggalkan mengajar dan melepas jabatan struktural, yang semuanya itu tentu terkait dengan konsekuensi finansial. Institusi pendidikan tempat saya bekerja memang termasuk yang baik dalam memperlakukan dosen yang sedang studi lanjut. Kami tetap menerima gaji pokok, sedangkan honor mengajar tidak. Kebijakan yang menurut saya memang adil. Memang selama studi lanjut, kami tidak diberi beban mengajar sehingga tidak menerima honor mengajar. Tapi, jumlah gaji pokok yang saya terima itu besarnya (atau kecilnya?) hanya sepertiga dari honor yang saya terima jika saya aktif mengajar dikampus alias sangat kecil. Pengorbanan lainnya adalah harus melepas proyek-proyek penelitian bernilai tinggi dalam skala rupiah, yang seharusnya bisa dikerjakan saat tidak studi lanjut. Bagi saya tidak mungkin mengurus proyek di Indonesia sedangkan saya sendiri sedang berada di UK.

Dari segi non finansial, banyak sekali yang harus ditinggalkan saat memutuskan untuk sekolah lagi. Seusia saya, saat ini, sebenarnya saya sudah cukup nyaman dengan apa yang ada disekeliling saya. Gelar master sudah ditangan, jabatan fungsional juga sudah lumayan untuk mengajar mahasiswa S1, proyek-proyek penelitian pun mulai berdatangan dari hasil menjalin lobi sana sini. Mengajar, mengawasi praktikum, sesekali siaran program kesehatan di radio, pulang, belanja, sesekali ke gym dan berenang, santai dirumah, sepertinya menjadi rutinitas yang terpola dengan rapi. Perawatan ke salon, pijat dan spa, kongkow dengan teman-teman, mencoba tempat makan baru, shopping, sesekali travelling ke negara tetangga, menjadi bagian kenyamanan yang kadang terasa berat untuk ditinggalkan.

Lalu apa yang saya cari dengan sekolah lagi? Well, saya sendiri sering tidak konsisten untuk menjawabnya. Saat saya sedang sadar dan menjadi pribadi yang baik, saya akan menjawab bahwa tujuan saya sekolah adalah untuk meningkatkan pengetahuan, menjawab rasa ingin tahu, menambah pengalaman, berjuang untuk ummat dijalan pendidikan dan sejuta alasan ideal lainnya. Saat sedang bosan dan capek dengan sekolah, saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, dan kembali berpikir," Iya ya, ngapain capek-capek sekolah lagi?"

Saya yakin seyakin-yakinnya, pada waktu saya apply beasiswa untuk program PhD saat ini, saya sedang menjadi pribadi yang baik. Maka dari itu saya akhirnya memutuskan mendaftar program beasiswa. Tapi tidak pada saat saya dinyatakan diterima dan berhak atas beasiswa ini. Senang, tapi sedikit sekali rasa itu. Saat dinyatakan diterima beasiswa ini, saya justru menangis. Menangis dibalik senyuman, karena saya tidak mungkin menangis di depan orang-orang yang memberikan ucapan selamat pada saya. Sewaktu dinyatakan diterima beasiswa, yang saya rasakan adalah beban yang sangat berat. Beban untuk bersiap meninggalkan zona nyaman yang saya miliki menuju zona tidak nyaman.

Saya pernah merasakan bagaimana tidak enaknya berpindah dari zona nyaman ke zona tidak nyaman ketika saya memutuskan kuliah lagi untuk mengambil program master. Beban kuliah yang sangat tinggi, berada di lingkungan baru, dosen yang gaya mengajarnya berbeda dengan dosen-dosen saya waktu S1, menjadi beban berat bagi saya. Alhamdulillah, Allah selalu sayang dengan hambanya. Dibulan ketiga sejak saya menginjak zona tidak nyaman saat mengambil program S2, saya mulai merasa nyaman dengan teman-teman yang sangat baik, sehingga zona tidak nyaman itu berubah menjadi zona nyaman hingga saya menyelesaikan program master saya.

Menerima beasiswa untuk program PhD ini membuat saya kembali harus bersiap untuk mengeluarkan langkah saya dari zona nyaman. Saya ingat dengan kata-kata teman baik saya, bahwa semakin dewasa usia seseorang, semakin sulit rasanya untuk melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman. Hal itu juga saya rasakan. Alhasil 6 bulan sejak dinyatakan diterima beasiswa, saya tidak melakukan progress apapun. Padahal beasiswa saya akan expired dalam tempo 1 tahun jika dalam 1 tahun saya tidak mengambil jatah beasiswa itu.

Dan sekali lagi, Allah memang maha pembolak-balik hati. Dialog kecil dengan diri sendiri akhirnya meyakinkan saya untuk menempuh segala usaha agar jatah beasiswa itu tidak hilang karena expired. Betapa ratusan kandidat dari berbagai negara berusaha mendapatkan beasiswa itu, sedangkan saya yang sudah mendapatkannya, malah berkeinginan untuk melepaskannya. Akhir 2008, saya memantapkan hati menerima beasiswa ini. Segala usaha juga saya lakukan untuk berburu universitas yang sesuai dengan bidang minat saya. Saya juga mengajukan pengunduran diri dari jabatan struktural untuk lebih berkonsentrasi mencari sekolah. Bulan Juni 2009, segala sesuatunya telah siap, dan tinggal mempersiapkan keberangkatan. Akhir September 2009 akhirnya saya menginjakkan kaki di UK, dan juga melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman.

Dari kenyataan yang saya alami, saya berpendapat bahwa sebenarnya zona tidak nyaman itu tidak pernah ada. Kenyamanan dan ketidak-nyamanan semua itu ada dibawah kendali diri kita sendiri. Tentu saya juga merasa tidak nyaman ketika menginjakkan kaki di UK. Bahasa yang berbeda, budaya yang berbeda, makanan yang berbeda, membuat segalanya jadi tidak nyaman. Tapi setidaknya saat ini saya sudah merasakan bahwa zona itu sedikit demi sedikit sudah berubah menjadi nyaman bagi saya. Teman-teman yang baik dan siap menolong disekeliling saya, jalan-jalan ke tempat-tempat terkenal di UK, bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai karakter, bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara, membuat saya merasa mulai nyaman dengan semua ini. Dan ini berarti bahwa saya sudah mulai memperluas zona nyaman saya dan menyulap zona tidak nyaman menjadi zona nyaman...yayy......

To summarize, untuk memperluas zona nyaman, tentunya kita harus berani bergerak keluar dari zona nyaman itu sendiri dan merubah zona tidak nyaman menjadi zona nyaman. Bukankah jika zona nyaman yang kita miliki semakin luas, maka kita akan semakin leluasa untuk bergerak? Dan jangan lupa untuk selalu menempatkan ikhlas, yaitu melakukan segala sesuatunya hanya karena Allah, dan sabar dihati kita.




Nottingham, 5 February 2011
Renungan Sabtu malam






Tuesday, 9 November 2010

Si Mbah itu.......


Sampai saat ini saya juga tidak tahu siapa nama kakek tua itu. Cukuplah saya menyebut dia dengan "Simbah", panggilan untuk orang yang dituakan dalam bahasa jawa. Simbah ini adalah penduduk asli negara United Kingdom, alias British asli. Tercermin sekali dari penampilan fisknya yang jelas "bule" dan dandanan klasiknya.

Perkenalan saya dengan Simbah ini berawal sejak Oktober tahun 2009, saat saya baru menjadi bagian dari penduduk kota Nottingham. Perkenalan yang berawal dari tempat pemberhentian bis kota atau bus stop. Ya, hampir setiap pagi saya selalu menunggu bus bernomer 13 atau Maroon line di Dennis Avenue, siap membawa saya ke kampus University of Nottingham di area University Park. Disini tepatnya lokasi bus stop itu:



Dilihat dari keadaannnya, tempat pemberhentian bus ini memang bukan tempat yang nyaman untuk mengobrol. Pertama kali bertemu dengan Simbah, sepertinya tidak ada yang istimewa dari Simbah ini. Perawakannya termasuk kecil untuk ukuran bule pada umumnya.Mungkin juga dikarenakan beliau sudah tua, sehingga kemungkinan tulang-tulang dan otot-otot pada tubuhnya sudah mengalami penyusutan volume. Usianya kira-kira 70 tahun, atau bahkan lebih. Saya yakin pasti lebih dari 70 tahun, tapi entahlah, saya selalu gagal menebak usia penduduk asli Inggris. Kadang yang saya perkirakan sudah diatas 30 tahun ternyata masih berusia dibawah 25 tahun. Tapi bisa juga sebaliknya, saya kira masih 50 tahun, ternyata sudah 60 tahun.

Yang menarik dari pertemuan pertama saya dengan Simbah ini adalah sapaan dia dan pertanyaannya kepada saya yang agak bikin saya "gelagapan" menjawabnya.

"Morning", itu sapaan pertama Simbah kepada saya dan itu sapaan lazim bagi penduduk UK jika bertemu orang, baik yang dikenal maupun tidak dikenal. Saya pun menjawab, "morning", disertai dengan senyum. Sembari menunggu bus 13 yang memang selalu telat, Simbah pun mengajak saya ngobrol, sekedar mengisi waktu. Mungkin karena melihat saya memakai jilbab, pertanyaan pertamanya adalah ," Are you from Saudi Arabia?". "No, I am from Indonesia", jawab saya. "Ooh, from Indonesia, nice country", puji Simbah. "Do you study in the university?", tanya Simbah lebih lanjut. "Yes, I am first-year student in pharmacy, PhD program", saya menjelaskan. "Can you speak Arabic?" pertanyaan lanjutan Simbah, yang mungkin dia ajukan karena melihat saya memakai jilbab dan pasti saya seorang muslim. Dengan menyesal saya menjawab,"Sorry, I can't. But I know some words in Arabic, because I read Qur'an". "So, do you know about Al Fatihah?", tanya Simbah lebih lanjut. "Of course, I know about it. This is the opening Surah in Qur'an", saya menjawab sembari mati-matian berfikir keras untuk mentranslate dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Saat itu saya kira-kira baru 3 minggu tinggal di negara eropa ini, sehingga bisa dibayangkan betapa kacaunya English saya, meskipun sudah dinyatakan lolos tes IELTS. "What the meaning of Surah Al Fatihah? Can you explain to me?", tanya Simbah lagi. Gubraakkk......itu reaksi saya jika dikartunisasi. Saya tahu arti Surat Al Fatihah dalam bahasa Indonesia, tetapi jika diminta mentranslate dalam English, terus terang level saya belum sampai disitu. Saya pun berusaha menjelaskan sebisanya, "The Surah explains about the Merciful of our god, Allah". Jawaban yang pendek, dan sepertinya kurang menjelaskan bagi Simbah. Tapi jujur, saya tidak punya kosakata yang cukup untuk menjelaskan Ar rahman dan Ar Rahim. Untunglah, bus 13 yang kami tunggu akhirnya tiba, sehingga saya bisa menyembunyikan kebingungan saya. Tapi terus terang saya menyesal sekali tidak bisa menjelaskan dengan baik kepada Simbah. Pulang kampus, akhirnya saya bertanya ke paman "google" untuk terjemahan Al Fatihah dalam bahasa Inggris, siapa tahu lain waktu Simbah akan bertanya lagi.

Pertemuan saya dengan Simbah di bus stop itu terus berlangsung, meskipun tdk setiap hari. Kadang memang saya tidak mengambil rute bus 13, kadang juga saya berangkat lebih pagi dari jadwal biasanya. Jadwal Simbah naik bis adalah jam 8.18 pagi atau jam 8.44 pagi.

Tapi pagi itu, saat saya bareng lagi dengan Simbah, saya dikejutkan lagi dengan sesuatu dari Simbah. Saat melihat saya tiba di bus stop itu, dia tersenyum senang melihat saya. Sambil merogoh sesuatu dibalik jaketnya, dia berjalan mendekati saya. Wah, ada apa lagi nih, dalam hati saya berkata. Ternyata Simbah mengeluarkan secarik kertas catatan yang disimpan di balik jaketnya. Setelah mendekati saya, dia berkata, "Selamat pagi", menyapa saya. Ha...ha...ha...sempat kaget juga, ternyata kertas yang dikeluarkan Simbah adalah kertas contekan untuk menghafalkan kata "Selamat pagi". Saya pun menjawab salamnya dengan mengucap selamat pagi juga. Simbah senang sekali karena saya bisa mengerti kata dalam Bahasa Indonesia yang diucapkannya. Salut buat Simbah yang tertarik untuk mempelajari kata dalam Bahasa Indonesia.

Simbah pernah bercerita pada saya, bahwa dia banyak mempelajari keadaan negara-negara lain dari banyak menonton acara di BBC. Jadi Simbah banyak tahu tentang- tsunami di Aceh, letak Indonesia, bahwa Indonesia terbagi atas tiga zona waktu,- didapatnya dari rajin menonton siaran BBC. Sepertinya Simbah juga rajin membaca dan tertarik dengan negara Indonesia. Atau mungkin dia tentara veteran yang pernah berdinas di Indonesia pada jaman perang kemerdekaan? Entahlah.....lain waktu akan saya tanyakan pada Simbah.

Saya beranggapan bahwa Simbah sangat tertarik dengan negara Indonesia. Terbukti ketika Merapi bergejolak, Simbah bertanya tentang bagaimana kabar keluarga saya di Indonesia akibat ada gunung meletus tersebut. Ini menunjukkan bahwa Simbah mengikuti terus perkembangan berita tentang Indonesia. Saya menjelaskan pada Simbah bahwa memang letusan Merapi kali ini luar biasa hebatnya, tapi semoga keluarga saya aman karena keluarga saya tidak tinggal di daerah Jogjakarta. Tapi, ada kemungkinan bahwa abu gunung merapi akan menutupi seluruh pulau Jawa, dan saya berharap bahwa ini tidak akan terjadi karena jika terjadi maka keluarga saya juga akan terkena efek gunung Merapi.

Lain waktu dia bertanya pada saya, apakah saya pernah ke Australia. Saya menjawab bahwa saya belum pernah ke Australia. Simbah agak heran, karena dia tahu bahwa Australia terletak dekat dari Indonesia. Hmmm...berarti simbah juga paham letak geografis Indonesia. Jarang sekali orang British yang tahu pasti dimana Indonesia itu. Yah, mungkin ini juga dari hasil menonton BBC.

Persahabatan saya dengan Simbah di Bus Stop terus berlangsung hingga sekarang, meskipun tidak setiap hari kami bertemu. Kadang, ketika pulang kampus di sore hari, saya juga berjumpa Simbah di Bus 13. Tentunya saya akan menyapa Simbah dengan ramah, dan Simbah pasti membalas sapaan saya dengan senyumnya. Kadang obrolan kami sambil menunggu bis juga hanya seputar cuaca hari ini. Kadang juga Simbah menanyakan berapa jumlah koleksi buku di perpustakaan University saya. Obrolan ringan sembari menunggu Bus 13 yang selalu tidak tepat waktu.

Anyway, perkenalan dan persahabatan saya dengan Simbah yang terjadi di Bus Stop ini akan saya simpan sebagai kenangan saat bersekolah di Negeri Ratu Elizabeth ini. Mungkin nanti juga akan saya ceritakan pada anak atau cucu saya. Satu hal yang belum sempat saya laksanakan adalah mengambil foto Simbah. Ya.....suatu kali nanti pasti saya ambil foto Simbah sebagai kenang-kenangan dan cerita nanti setelah pulang ke Indonesia.


(Tulisan dimalam Senin, sembari mendengar radio Swaragama, bukan BBC)

Wednesday, 25 August 2010

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia


Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, "Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?" "Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi," kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, "Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang".

Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.

Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, "Lalu daerah apakah itu Tuhan?" "O, itu," kata Tuhan, "itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni."

Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, "Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya? "

Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, "Wait, until you see the idiots I put in the government." (tunggu sampai Saya menaruh 'idiot2' di pemerintahannya)


(Copy paste dari milis tetangga)

Sunday, 11 April 2010

High-Trust Society

Arti "trust" yang saya ambil dari Cambridge Advance dictionary adalah "to have belief or confidence in the honesty, goodness, skill or safety of a person, organization or thing" yang kalo dalam istilah bahasa Indonesianya adalah "kepercayaan terhadap kejujuran seseorang, organisasi, atau sesuatu hal". Biasanya istilah ini digunakan dalam bidang ekonomi, dimana biasanya dikaitkan dengan tingkat korupsi yang terjadi pada suatu negara. Dari sebuah tulisan yang pernah saya baca (http://www.free-eco.org/articleDisplay.php?id=566), negara-negara maju dengan tingkat kesejahteraan yang lebih baik cenderung memiliki level kepercayaan yang lebih tinggi terhadap sesuatu, dan dikenal sebagai "high-trust society". Sedangkan untuk komunitas yang memiliki level kepercayaan yang rendah terhadap sesuatu, dikenal sebagai "low-trust society" dan biasanya komunitas ini tingkat kesejahteraannya lebih rendah.

Teori yang saya baca itu sepertinya memang ada benarnya. Berdasarkan pengalaman selama tinggal di UK, memang saya mengakui bahwa level kepercayaan masyarakat disini lebih tinggi, dan memang UK termasuk dalam negara dengan tingkat kesejahteraan yang baik.

Seminggu yang lalu, student card saya mengalami masalah. Student card itu biasa saya gunakan untuk akses masuk ke dalam gedung dan laboratorium, dan sekaligus bus pass saya juga tergabung dalam student card tersebut. Untuk alasan kepraktisan, saya biasa mengisi bus pass dalam student card itu untuk periode 3 bulan atau sekitar 93 hari. Akhir Maret lalu saya baru saja top-up bus pass untuk 3 bulan kedepan. Masalah pada student card itu juga saya rasakan juga sejak akhir Maret yang lalu. Untuk akses dalam gedung, kadang card itu bekerja dengan baik, kadang juga tidak. Untunglah saya biasa datang pada saat jam orang-orang mulai ramai berdatangan, jadi kalau kartu saya tidak bekerja, saya tinggal menunggu orang lain datang, dan saya mengikuti dibelakangnya. Jadi selamat deh bisa masuk gedung.

Saya baru menganggap problem student card saya itu serius saat saya naik tram di city centre bersama teman. Karena saya berlangganan bus dan tram, pada waktu kondektur memeriksa karcis, saya tinggal menyerahkan kartu saya ke kondektur. Kondektur lalu akan mengecek kartu saya dengan alat khusus untuk kartu langganan. Nhaaa...masalah muncul saat di cek menggunakan mesin pengecek kartu, sensor mesin itu menyala merah, yang berarti kartu saya tidak diterima. Kalo kartu saya expired, jelas tidak mungkin, karena waktu itu saya baru mengisinya 3 hari yang lalu untuk bus pass nya. Saya agak panik, karena saat itu saya tidak membawa koin untuk membayar tram. Tapi penjelasan dari Ibu Kondektur tram, bikin saya lega. Dia bilang. "Look at this...baby, the file in your card is corrupt, so it didn't work. But you don't need to pay for this tram, let check your card as soon as possible, and save for your money" sambil tetap tersenyum kepada saya. Oohhh..baiknya Ibu itu, dan dia percaya kalo kartu saya itu memang ada bus pass-nya.

Karena tidak mau bermasalah lagi dengan akses gedung dan bus pass, segera setelah libur easter berakhir, saya segera mengurus masalah kartu saya ke security office. Ternyata peyebab masalah itu adalah adanya retakan kecil pada kartu saya, sehingga data elektronik yang tersimpan dalam kartu tidak bisa terbaca. Saya juga baru tahu setelah security officer itu memperlihatkan belahan kecil pada pojok kanan atas kartu saya. Menurut analisa security officer, retakan itu terjadi karena saya meletakkan kartu itu di saku celana, sehingga kalo saya duduk, ada kemungkinan kartu itu patah akibat terlipat. He...he..he...kok dia tahu ya kalo saya sering menyimpan kartu itu disaku. Memang untuk alasan kemudahan, karena saya sering berpindah-pindah gedung, kartu itu saya masukkan ke saku samping celana. "Keep your card in wallet or purse," begitu pesan security officer setelah selesai mencetak ulang kartu saya. Okey deh.....tapi bagaimana dengan bus pass saya? Menurut penjelasan security officer, kartu itu dicetak dengan barcode yang sama dengan kartu sebelumnya sehingga semua data yang ada pada kartu lama otomatis juga akan ada di kartu baru. Oh...begitu ya....

Akses gedung lebih lancar setelah dapat kartu baru. Tapi, ketika pulang dari kampus, saat menempelkan kartu saya di mesin pembaca kartu dalam bis. Kartu saya tidak bekerja....!!! Mana saya nggak ada uang receh lagi, karena bus tersebut tidak menyediakan kembalian........panik sekali. Untungnya supir bis itu baik hati, dia bertanya, "Did you use it before?". "Yes, but I had changed the card today and have new card with me," saya berusaha menjelaskan. "Oke darling, check your card again on the bus tomorrow morning, and explain to the driver that you had a new card. And activate your card in your university card office tomorrow," katanya, "and please get in the bus". Oooohhh.....baiknya si Bapak driver. Esok paginya, saat akan berangkat kampus, saya menjelaskan kepada driver-nya tentang masalah kartu saya sehingga saya bisa naik bus tanpa membayar. Dan masalah kartu dan bus pass itu akhirnya selesai setelah saya melakukan aktivasi ulang ke kantor pusat perusahaan bus tersebut di City Centre.

Yang menarik dalam hal ini adalah betapa mereka begitu percaya terhadap seseorang. Mereka, para bus driver dan kondektur tram itu, percaya saja bahwa memang saya punya bus pass yang menempel di kartu dan kartu saya sedang dalam masalah. Padahal ada kemungkinan juga bahwa saya adalah seseorang yang tidak punya bus pass tapi hanya mengaku bahwa kartu saya sedang dalam masalah. Pada saat saya menyerahkan kartu dan kartu saya tidak bekerja, mereka juga tidak minta bukti lain seperti kuitansi pembelian bus pass atau yang lainnya. Padahal, kalo di Indonesia.......hmmm....kemungkinan saya bisa dimintai surat keterangan dari sekolah kalo kartu saya rusak, kuitansi pembelian bus pass, plus diwawancarai oleh petugas dengan wajah curiga.

Bandingkan saja kejadian diatas dengan kejadian yang saya alami di kampus tempat saya bekerja di Indonesia. Dulu, sekitar tahun 2002, institusi tempat saya bekerja belum mencetak ID-card untuk dosen maupun karyawan, sehingga memang tidak ada tanda pengenal yang jelas apakah ini dosen, karyawan, atau tamu. Untuk mahasiwa, malah sudah ada tanda pengenal yang jelas yaitu Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Saat itu, sistem parkir motornya adalah dengan menggunakan karcis parkir dimana nomor kendaraan ditulis pada karcis parkir oleh petugas parkir. Karena saya sering teledor, karcis parkir itu hilang, mungkin tidak sengaja terlipat dan terbuang, karena karcis parkir itu seperti potongan kertas kecil dari kertas buram. Pada waktu akan pulang, karena menyadari keteledoran saya, saya menyerahkan STNK motor saya kepada petugas parkir sebagai bukti bahwa saya mengambil kendaraan saya (bukan kendaraan orang lain). Saya kira ini sudah cukup sebagai bukti, tapi ternyata tidak. Petugas parkir memandang saya dengan curiga, mungkin karena saya orang baru juga di kampus itu sehingga beliau belum mengenali wajah saya. Petugas parkir itu berkata," Wah.....kok karcis parkir e iso ilang mbak....mana KTM nya, supaya bisa saya catat dibuku". Karena tidak punya KTM, saya bilang ke petugas parkir bahwa saya tidak punya KTM karena saya adalah Dosen. Eh...si Bapak malah tambah curiga. " Dosen....? Dosen mana....", walah....kok nggak dipercaya ya kalo saya dosen, padahal menurut saya, saat itu saya sudah berpenampilan "dosen banget" githu loh.....Bingung juga, wong memang saya tidak punya tanda pengenal sebagai dosen dan SK pengangkatan sebagai dosen saya tinggal di rumah (karena saya kira tidak akan berguna untuk mengurus parkir). Untungnya ada serombongan mahasiswa saya yang akan parkir karena mereka ada kegiatan di kampus sore itu. Mahasiswa saya menegur saya "baru pulang Bu?". Teguran yang menyelamatkan saya, karena petugas parkir itu jadi percaya kalo saya dosen di institusi itu akibat teguran mahasiswa terhadap saya tadi. Tapi tetap saja pak petugas parkir itu bilang lain kali karcis parkirnya jangan hilang lagi ya, atau nanti kalo hilang lagi, saya boleh pulang kalo sudah tidak ada motor lain selain motor saya di tempat parkir itu. Gubrakkk......apa bukti STNK motor belum cukup ya......

Yah....bagaimanapun, memang harus diakui, bahwa negara kita mungkin termasuk yang kurang sejahtera sehingga memiliki kepercayaan yang rendah terhadap sesuatu hal, seperti teori yang saya sebutkan diatas tadi. Lihat saja, kalo berurusan dengan birokrasi dan dokumen penting, selain dokumen harus dilegalisir, yang asli juga harus dibawa, karena ditakutkan yang hasil legalisiran itu adalah palsu. Ha...ha..ha...repot banget ya. Waktu saya menghadiri konfrensi di Malaysia, panitia dibuat geger karena saya minta cap asli pada SPPD saya, karena kalo tidak cap asli, SPPD saya tidak diterima di institusi saya. Padahal, mereka, di Malaysia jarang menggunakan cap-cap an seperti itu untuk mengecek keaslian dokumen. Ini juga contoh high-trust society dan Malaysia juga termasuk negara dengan tingkat kesejahteraan yang baik, iya 'kan...?

Jadi, bagaimana membangun high-trust society di negara kita, Indonesia? Ditingkatkan kesejahteraannya dulu, atau high-trust society yang membuat negara bisa sejahtera? Mungkin menjawab pertanyaan ini seperti menjawab "lebih dulu mana....telur atau ayam.....??"








Sunday, 28 March 2010

Party

Hari Minggu kemarin, saya menghadiri birthday party labmate saya di chemistry lab. Meskipun judulnya "party", jangan dibayangkan adanya ruangan penuh lampu, musik yang berdentum dan orang-orang yang berdisko dalam ruangan. Pada prinsipnya, birthday party disini ya seperti kalo kita syukuran atau tasyakuran di hari ulang tahun, jadi hanya makan dan minum saja. Cuma memang istilah yang tepat untuk event ini adalah "party"

Ini adalah kali ketiga saya menghadiri party disini. Pengalaman pertama saya adalah menghadiri christmas lunch party. Christmas memang sepertinya sudah menjadi budaya bagi orang-orang eropa, jadi sepertinya malah tidak terkait dengan "religious". Sejak bulan November, biasanya sudah ada edaran-edaran untuk christmas dinner atau christmas lunch di group-group research. Tiap research grup mengadakan acara christmas meal ini dengan versinya masing-masing.

Grup research saya, tissue engineering group, mengadakan dua macam acara christmas meal, christmas lunch dan christmas dinner. Karena saat itu sudah masuk winter, dan siang hari begitu pendek, saya ikut dalam acara christmas lunch saja. Lagipula saya penasaran christmas party di UK itu seperti apa. Dipilihlah Restaurant Petit Paris di City Centre untuk acara ini. Ini adalah restaurant yang menyediakan makanan perancis. Whaaa....jadi tambah penasaran pengin ikut mencoba masakan perancis.

Jum'at siang, kami meninggalkan kampus menuju lokasi acara. Bersama-sama tentunya. Sampai disana, meja yang kami pesan sudah disiapkan. Pada tiap meja, sudah ada kado kecil yang diikat pita pada kedua ujungnya. Apa ya isinya??? saya juga penasaran, kado christmas-kah? saya coba mengguncang kado itu....bunyinya seperti ada barang kecil didalamnya. Crackers...??? mungkin juga. Kita lihat saja nanti. Trus, kami juga diberi topi dari kertas warna warni, untuk dipakai. Jadi seperti pesta ultah waktu kecil dulu.

Daftar menu pun diedarkan. Wah bingung, mau pesan apa, karena semua berbahasa perancis. Saya berkata dalam hati, ya kalo terpaksa ya pesan menu vegetarian, karena alternatif ini lah yang paling aman untuk muslim seperti saya yang tidak bisa makan daging atau ayam sembarangan. Mau pesan seafood, nggak tau seafood itu bahasa perancisnya apa. Untunglah ada Asma, third year student yang duduk kebetulan berhadapan dengan saya. Dia sepertinya membaca kebingungan saya. Asma juga seorang muslim. Dia langsung menjelaskan tiap menu itu isinya apa saja. Kebetulan ada menu ikan salmon dengan saus. Siiippp, saya akhirnya pesan itu dan cheese cake dengan winter fruit untuk dessert-nya. Untuk minum, saya pilih coke saya, untuk mengantisipasi kalo-kalo nanti makanan yang saya pesan bikin eneg.

Sambil menunggu pesanan disiapkan, saatnya membuka kado-kado yang ada didepan kita. Cara membukanya juga unik sekali. Kita harus saling menarik ujung pita kado yang dimiliki oleh teman kita. Untukmembuka kado itu, saya berpasangan dengan Toby. Bingung cara membuka, tapi untungnya Toby memberi petunjuk, "pull it", Oke deh, tarik, ternyata ada suara petasan saat pita ditarik. Saya penasaran melihatt isinya. O...o.., ternyata mainan kecil dari plastik, yang kalo di Indonesia biasa dijual di penjual balon untuk anak-anak. Saya dapat gasing kecil, Toby dapat butterfly. Dan didalam kado itu ada selembar kertas kecil yang isinya tebak-tebakan yang kita baca didepan teman-teman, trus teman yang lain menebak jawabannya dengan jawaban yang lucu-lucu. Seperti plesetan lah, kalo di Indonesia. karena nggak begitu mengerti bahasa gaul orang UK, kadang jawaban yang dianggap lucu, saya nggak bisa ngerti lucunya dimana. Tapi ya sudahlah...ikutan tertawa saja. Yang penting suasana jadi "fun". Acara ini lumayan berguna sambil menunggu pesanan datang. Dan disinilah saya jadi bisa mengambil kesimpulan bahwa christmas meal ini hanya bagian dari budaya, bukan sesuatu yang religious, karena sepanjang acara ya isinya hanya ngobrol-ngobrol dan tebak-tebakan saja, tidak ada acara berdo'a bersama menyambut christmas. Dan tidak ada seorang pun yang berbicara kalo nanti Christmas tiba mau berdoa di gereja mana.

Acara party yang kedua adalah Birthday Party dari Andrea, teman dari portugis. Andrea tidak satu lab dengan saya, tapi kami masuk pada tahun yang sama, saya mengenal dia sewaktu induction program untuk new students di kampus. Karena dia Portugis, acara diselenggarakan di Restoran Portugis di daerah Hyson Green,Nottingham. Sebelum acara, saya bertanya ke Andrea apakah restoran itu menyediakan makanan untuk vegetarian atau tidak. Dan ternyata, info dari Andrea, masakan portugis itu terkenal dengan seafoodnya, jadi amanlah untuk saya yang tidak bisa makan daging dan ayam sembarangan.

Acara Andrea's Birthday Party ini diselenggarakan jam 7 malam. Padahal saat itu sudah winter, Whaaa....dingin sekali rasanya harus keluar rumah malam-malam. Tapi ada perasaan nggak enak kalo tidak datang, karena saya kenal cukup baik dengan Andrea. Format birthday party Andrea ini beda lagi. kami disuguhi berbagai snack, seperti gorengan atau bala-bala menurut saya, dari bahan ikan. Macamnya banyak sekali. Gorengan ini terus mengalir selama kita ngobrol. Kemudian dilanjutkan dengan "drink". Karena saya tidak minum wine, jadi saya juga ikutan "drink" dengan air mineral sajah...he..he...he..... Satu lagi pengetahuan yang saya dapat dari ikutan party seperti ini. Ternyata untuk teman minum wine, biasanya snacknya adalah kacang atau buah zaitun (olive) yang (kelihatannya) direbus. Dan memang acara party ini fokus ke bertukar cerita, jadi makanan utama baru keluar setelah jam 10 malam. Tiwas saya membayangkan kalo birthday party itu nanti ada suara musik berdentum he...he...he.... Acara birthday party ini selesai jam 11 malam, dan saya pulang ke rumah dalam keadaan setengah beku.


Birthday Party di Restaurant Portugis. Itu tuh....saya yang di pojok belakang tengah......:-)

Party yang ketiga adalah birthday party yang saya hadiri hari minggu kemarin. Sewaktu diundang, karena tidak mau pulang dalam keadaan beku lagi, saya bertanya dulu tentang jam acara. Ternyata jam 1 siang, waktu lunch. Okie...dokie...kalo begitu, saya langsung meng-iya-kan untuk join. Dan tempat yang dipilih adalah Corner House, satu tempat dengan cineworld, tempat saya menonton bioskop. Yihaaa....akhirnya dapat kesempatan juga makan-makan ditempat itu.

Hari minggu siang saya berangkat dari rumah. Kami berjanji ketemuan di lantai 1 Corner House. Ternyata waktu saya tiba, baru Fadi, yang berulang tahun, yang datang. Sembari mengunggu, kami membicarakan tujuan makan siang nanti. Ada banyak alternatif di Corner House, ada restoran italia, Restoran China, restoran Mexico....wah...jadi bingung. Saya bilang ke Fadi, pada prinsipnya saya tidak masalah mau pilih restoran mana saja, tapi kalo bisa yang menyediakan menu untuk vegetarian atau ada seafoodnya. Fadi cukup mengerti, karena meskipun dia seorang christian, tapi dia berasal dari Syiria, negara yang juga mayoritas muslim, jadi dia tahu alasan saya tanpa saya harus menjelaskan panjang lebar.

Setelah semua teman datang, kami melihat-lihat restoran di Corner House. Chinesse food juga kelihatannya enak, dan ada menu untuk vegetariannya. Tapi karena salah satu teman saya, Shaun berasal dari Taiwan, dan tentunya dia merasakan masakan chinesse di menu makanan dia sehari-hari, jadi kami memutuskan untuk ke restoran Italia, Bella Italia. Kasihan Shaun kalo harus merasakan masakan cina lagi he..he...sama aja bukan party bagi dia.........

Saya memesan pasta dengan topping prawn dan smoked salmon dan raspeberry juice. Bayangan saya tentang oregano yang menyengat dimasakan italia, ternyata hilang, saya tetap doyan aja tuh. Padahal, kalo di Indonesia, saya kurang bisa mentolerir aroma oregano di Pizza (dengan merek Pizza Hut), sehingga kalo makan pizza harus didampingi dengan minum coke yang banyak...he..he..he...ndeso ya..... Tapi pasta prawn dan salmon yang kemarin saya pesan, enak banget lho, tidak bikin eneg, atau mungkin nggak pake oregano...??? tidak taulah....

Untuk Fadi's birthday ini, tidak ada acara "drink" karena acara siang hari. Satu lagi pengetahuan yang saya dapat, ternyata acara drink wine itu hanya untuk acara malam hari. Mungkin kalo minum wine siang hari jadi panas banget kali yee....... Lagipula nanti mereka pulang dari party jadi nggak bisa menyetir mobil, karena aturan di UK, orang yang sedang dalam keadaan mabuk dilarang mengemudikan kendaraan.

Acara utama Fadi's birthday party ini adalah ngobrol-ngobrol, dan tentunya "cheers" untuk birthday party ini. Dan topiknya mulai dari masalah umur sampai ngerasani supervisor (suatu hal yang dilakukan oleh mahasiswa thd supervisornya, baik di Indonesia atau di UK). Dan tebak-tebakan masalah umur lagi, ternyata birthday party ini adalah ultah Fadi yang ke 26. Lho...saya kira malah dia seumur dengan saya. Dan waktu tebak-tebakan umur, saya lah yang paling tepat menebak umur mereka. Bagi saya itu mudah, karena mereka pasti berusia antara 23-27 tahun. Sedangkan waktu mereka menebak umur saya, salah besar tentunya, dan bikin mereka kaget waktu saya bilang umur saya 31 tahun he..he..he... Shaun sampai bilang, " I thought that you are at the same age with Veeren". Duh.....untungnya Veeren nggak datang birthday party ini, kalo tidak dia bisa marah disamakan dengan yang berusia 30an. Veeren masih berusia 23 tahun, dan baru lulus master degree setahun yang lalu. Teori tentang usia dari saya ternyata terbukti lagi ya...

Yang saya soroti dari setiap party yang diadakan ini, tiap orang selalu membayar sendiri apa yang mereka makan. Jadi jangan dibayangkan kalo yangg berulang tahun yang mentraktir teman-temannya seperti kalo di Indonesia. Pun saat christmas meal, kami membayar makanan masing masing, bukan menggunakan uang kas dari lab. Satu pelajaran lagi yang saya ambil, bahwa dengan membayar sendiri makanannya, menunjukkan perhatian yang besar pada temannya yang mengadakan acara dengan cara bersedia datang dan membayar makanannya sendiri. Padahal sering kalo di Indonesia, acara syukuran atau buka puasa bersama terlihat sepi karena tidak ada yang datang dengan berbagai alasan, padahal hanya tinggal datang, makanan sudah disediakan oleh yang punya hajat. Apalagi kalo diminta bayar sendiri ya......mungkin sama sekali tidak ada yang datang. Kesediaan menunjukkan perhatian ke orang lain ini yang patut kita contoh. Nanti, kalo pulang ke Indonesia, saya mau mengadakan tasyakuran untuk PhD saya nanti di restoran dengan meminta para tamu membayar sendiri makanannya, kira-kira bagaimana ya reaksinya???? Kayaknya stempel "PELIT" akan melekat pada saya seumur hidup.....:-)


Lain ladang lain belalang, lain lubuk ikannya.....
Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.....................

(jangan bingung, saya cuma mau mengingat peribahasa yang diajarkan waktu eSDe)





Sunday, 28 February 2010

Nonton (ke) Bioskop Nyookk

Malam minggu, aye pergi ke bioskop....
Memang malam minggu paling cocok digunakan untuk pergi nonton ke bioskop seperti lagu dari alm. Benyamin S. Lagipula, selama di Nottingham, saya belum pernah pergi nonton ke bioskop, atau kalo orang bule bilang "cinema". Sebenarnya niat nonton ini sudah ada waktu tahun baru lalu, tapi pada waktu tahun baru kemarin, bus kota tidak ada yang beroperasi. Kalo bus kota libur, tentunya sulit bagi saya yang memang hanya punya "mobil besar" itu untuk mengantar jalan-jalan.

Booming film Bollywood "My name is Khan" juga sampai di Nottingham. Itu sebenarnya gara-gara saya membaca status teman-teman Indonesia di Facebook yang katanya sampai antri beli tiket untuk nonton film ini. Setelah saya lihat trailer nya di Youtube, dan kayaknya bagus, akhirnya saya dan teman memutuskan untuk menonton film ini.

Bioskop mana ya yang dipilih? Setelah browsing, pilihan kami jatuh pada Cineworld, karena hari dan waktunya sesuai dengan kebutuhan. He..he..he...ini pertama kali saya nonton bioskop diluar negara RI tercinta. Saya pergi nonton ke Cinema bersama seorang teman yang juga dari Indonesia, dan sama-sama belum pernah pergi nonton bioskop selain di Indonesia. Akhirnya kami memutuskan untuk menontin pertunjukan jam 4.30pm.

Karena hari itu adalah malam minggu, timbul juga kekhawatiran kalo nanti tidak kebagian tiket. Kan sayang rasanya kalo acara nonton yang sudah dinantikan jadi batal gara-gara kehabisan tiket. Akhirnya saya melalukan "booking" tiket online. Untuk student, harga tiketnya adalah 5.20 GBP, dan booking fee 0.70 GBP karena saya booking online. Booking fee ini hanya dikenakan untuk pemesanan tiket online. Jadi kalo beli langsung di loket, tidak ada booking fee. Cukup murah kan untuk ukuran student, dibandingkan dengan harga tiket untuk umum yang 7.5 GBP. Memang student card di UK sangat berguna sekali, seperti saat saya berkunjung ke Liverpool. Sisa sekitar 1.5 GBP kan bisa dipakai untuk beli cappucino dan sepotong flapjack.

Konfirmasi pembelian tiket online, dilakukan melalui e-mail dan sms ke no HP saya. Instruksi untuk penukaran tiket hanya meminta untuk memasukkan kartu debit yang saya gunakan untuk pembayaran ke mesin ticket collection yang ada di foyer gedung bioskop. Meskipun agak belum bisa membayangkan mesinnya itu seperti apa dan bagaimana proses penukarannya, ya sudahlah, saya simpan baik-baik konfirmasi lewat sms itu, karena disana menyebutkan no referensi tiket yang saya pesan.

Jam 3.45pm, saya dan teman berangkat ke gedung bioskop. Tentunya tidak bergandengan tangan seperti pada lagu Nonton Bioskop. Teman saya nonton sesama wanita, nanti malah aneh 'kan kalo bergandengan tangan. Lokasi Cineworld terletak di The Corner House, Nottingham, dekat dengan city centre. Untuk menuju kesana, kami menggunakan tram. Meski sudah beberapa bulan di Nottingham, baru kali ini saya masuk ke Corner House. Ternyata bukan hanya bioskop, Corner house juga menawarkan banyak restoran didalamnya. Boleh juga lah dicoba lain waktu.

Didalam gedung ini ada Cineworld, tempat kami nonton bioskop
(taken from Polymorp's Photostream)

Celingak-celinguk masuk gedung bioskop, saya dan teman mencari mesin ticket collection disekitar foyer. Oohh......ternyata mesin itu lagi dikerubuti beberapa orang yang sedang menggambil tiket. OK...Let's try how to collect tickets from the machine. Sesuai instruksi, saya masukkan debit card saya, dan sesaat setelahnya mesin meminta nomer PIN. Setelah PIN saya masukkan, pada mesin bertuliskan "find the order".....kira-kira 30 detik kemudian, keluar 2 tiket beserta receipt. Hmmm....benar-benar mesin yang cerdas (ya iya lah....namanya juga mesin).

Sesuai petunjuk di tiket, kami segera menuju screen 14, dimana film "My name is Khan" diputar. Masuk ruangan.....ternyata ruangannya kecil, tidak seperti di Indonesia, kira-kira hanya setengah dari rungan bioskop 21 di Indonesia. Kursinya juga sekitar 10 baris dan tiap baris kira-kira berisi 12 kursi yang dipisahkan dengan jalan (aisle) tepat dibagian tengah. Bingung juga untuk mencari tempat duduknya. Tidak ada petugas yang berjaga di depan pintu ruang. Tiket yang saya pegang hanya bertuliskan "Screen 14, seat GA, Row GA". Saya dan teman berusaha mencari Row yang bertuliskan GA, tapi kok nggak ada ya. Akhirnya kami duduk sesuai pilihan kami saja, toh nanti kalo ada penonton lain yang baru datang dan ternyata empunya kursi, kami akan pindah. Hingga film akan dimulai, dan ruangan hampir penuh, tidak ada yang komplain mengenai tempat duduk yang kami duduki. Saya jadi mengambil kesimpulan, berarti duduknya bisa milih sendiri, cepet-cepetan datang aja. Sssstt, sampai saat ini saya juga nggak tau arti "GA" yang ada di tiket itu apa.

Mengamati orang-orang yang nonton dalam ruangan itu, ternyata rata-rata berwajah India, dan Timur tengah, hanya ada 2 orang yang berwajah melayu (ya hanya saya dan teman.......) dan 2 bule. Mungkin karena film Bollywood kali yeee.....jadi nggak banyak bule yang tertarik menonton. Rata-rata penonton membawa sekotak popcorn ukuran sangat besar, seperti di film "Mr Bean" yang pernah saya lihat. Jadi kesimpulan saya, popcorn memang identik dengan acara nonton bioskop. Dan karena jam 4.30pm di UK saat ini sudah mulai gelap, sebagian dari penonton membawa dinner. Jadi heboh banget bawaannya. Saya malah berfikir, kenapa didalam bioskop tidak diberi meja bundar sekalian ya, supaya para penonton bisa santap malam dengan nyaman dengan duduk mengelilingi meja bundar itu (feel like home he....he..he...). Dan saya terbayang nasi rawon dan sambal terasi (masakan teman hari itu) yang tidak saya bawa. Kan lumayan, sambil nonton, sambil makan malam.

Jam 4.30 tepat layar dibuka. Tapi alamak....iklannya hampir 30 menit sendiri. Film baru mulai sekitar jam 5. Saat sedang menonton, layar tiba-tiba jadi gelap. Oh...sudah selesaikah filmnya? Durasi film (dari info yang saya lihat) sekitar 2 jam. Saya melihat jam tangan saya, masih jam 6, berarti film belum selesai. Tapi kenapa layar jadi gelap dan lampu ruangan menjadi terang? Melihat sekeliling saya, para penonton itu sebagian ada yang keluar. Ooooo....ternyata untuk memberi kesempatan para penonton jeda sejenak untuk pergi ke toilet atau membeli makanan-minuman. Kira-kira 15 menit kemudian, film kembali diputar. Untunglah, saya tidak pulang saat layar padam dan lampu ruang terang, berarti itu hanya dapat separuh film kan. Tapi bagus juga ya ide memberi jeda ditengah-tengah film diputar itu. Jadi para penonton tidak terganggu dengan penonton lain yang sering kali lalu lalang di depan layar untu keluar sekedar membeli minuman atau ke toilet.

Film yang saya tonton kemarin cukup menarik juga. Bisa membikin tertawa dan kemudian menangis. Jam sudah menunjukkan pukul 7.30 pm saat film selesai diputar. Keluar dari Corner House, sudah ramai dengan orang-orang yang bersiap untuk dugem di malam minggu. Karena sudah terlalu malam untuk pulang ke rumah, saya memutuskan untuk menginap di rumah teman saja. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan sekali, pertama kali nonton bioskop di negeri orang. Sampai di rumah teman, nasi rawon plus sambal terasi sudah menanti untuk disantap. Kayaknya boleh juga tuh, kalo lain kali nonton lagi, saya mau sangu makan malam: nasi rawon, sambel terasi, kerupuk udang......hmmmmm.....pasti nikmat nonton bioskop sambil makan malam. Kira-kira, penonton yang lain akan komplain nggak ya dengan aroma sambel terasi yang saya bawa......???

Saturday, 20 February 2010

How old are you?

Kata ini digunakan untuk menanyakan usia atau umur seseorang. Di negara-negara Eropa, pertanyaan ini cenderung dianggap kurang sopan dan tidak patut ditanyakan kepada seseorang kecuali jika kita telah mengenal seseorang dengan baik. Memang, bagi sebagian orang, menanyakan masalah umur itu rasanya kurang etis, mungkin ada rasa takut dianggap terlalu tua ya. Terbukti, dari hasil pantauan saya terhadap "profile info" beberapa teman yang tergabung dalam situs pertemanan Facebook, sebagian besar dari teman-teman saya rata-rata tidak mencantumkan tahun kelahirannya, hanya tanggal lahirnya. Hmm...memang kecenderungan orang adalah ingin terlihat lebih muda dan tidak mau dikatakan tua. Tapi, saya tetap memasang lho informasi mengenai tahun kelahiran saya pada bagian profile di halaman facebook. Lha memang usia saya sudah memasuki kepala 3.....jadi apa yang perlu disembunyikan?

Bicara masalah usia, ternyata ada 2 kategori usia. Ini dari beberapa artikel populer yang saya baca. Ada yang disebut "biological age" atau usia biologis dan "real age" atau usia sebenarnya. Usia biologis merupakan status fisik dari umur seseorang dan dihitung berdasarkan tanggal lahir. Sedangkan "real age", dihitung berdasarkan status kesehatan dan vitalitas seseorang. Biasanya, seseorang dengan gaya hidup yang sehat akan memiliki real-age yang lebih muda dibandingkan dengan biological-age nya. Mau coba menghitung real-age anda? Silahkan berkunjung kesini:
http://www.sonnyradio.com/realage.html
Kalo menurut perhitungan dari situs diatas, ternyata real-age saya sekitar 20an...he..he...lumayan lah...lebih muda 10 tahun dari saya.

Umur seseorang ternyata juga ditentukan dari status psikologis dan status sosialnya juga. Ini mungkin ada benarnya juga ya. Berdasarkan pengalaman saya, saya merasa lebih muda 5 tahun saat sedang sekolah, dalam arti tugas belajar, dibandingkan saat bekerja. Dan saat lulus dan kembali bertugas lagi, dalam tempo 6 bulan, saya sudah merasa lebih tua 5 tahun lagi. Jadi rasa lebih muda 5 tahun itu akhirnya lenyap dalam tempo 6 bulan......hu..hu..hu...sedihnya. Supaya terlihat muda lagi, saya memutuskan cepat-cepat sekolah lagi, lanjut program PhD, siapa tahu bisa jadi lebih muda 10 tahun ya......

Tapi itu menurut saya lho. Teman saya satu lab di PhD program, justru mengatakan sebaliknya. Dia berasal dari India dan saat ini sudah memasuki tahun ke 4 untuk PhD program. Saat dia tanya kenapa saya mau ambil PhD,dengan bercanda saya bilang kalo saya mau terlihat lebih muda dengan ambil PhD program. Dia langsung terkejut," really...?". Karena menurut teman saya itu, dia justru merasa lebih tua 5 tahun saat jadi PhD student. Dan memang usia-biologis teman saya itu 6 tahun lebih muda dari saya dan dia sekolah terus tanpa terputus sejak lulus undergraduate. He..he...he...dia memang belum pernah merasakan bekerja, padahal kalo bekerja kan malah jadi merasa lebih tua 10 tahun.......Betul tidak.....???

Teori saya kayaknya sudah mulai agak terbukti. Setiap hari, setiap berangkat kampus, saya selalu satu bis dengan Ibu muda yang juga berkerudung, yang saya kira usianya kurang lebih hampir sama dengan saya. Suatu hari, sembari menunggu bus datang, Ibu muda itu mengajak ngobrol, ternyata dia berasal dari Saudi arabia dan sedang mengambil Pre-sessional English di University of Nottingham untuk persiapan program Master, rencananya akan dia ambil September tahun ini. Setelah bertanya asal dan basa-basi, dia bertanya pada saya," Are you foundation student?". waduh.....GeEr juga sih sebenarnya dibilang foundation student, karena itu berarti saya masih terlihat seperti baru lulus SMA kan (eh sekarang SMU ya...). Foundation program itu merupakan program yang diperuntukkan untuk program persiapan calon mahasiswa undergraduate yang akan kuliah di university, dan biasanya untuk yang berasal dari luar UK. Padahal dalam hati saya pengin ngomong ke dia,"Bukankah kayaknya kita seumur?". Mungkin dia agak kurang percaya lihat PhD student masih pake sepatu boot bertali kali yee...

Satu lagi pengalaman saya tentang umur. Di kelas social conversation yang saya ikuti, untuk memancing topik pembicaraan, peserta diberikan bahan-bahan pertanyaan yang nanti bisa didiskusikan bersama partner masing-masing di kelas. Partner saya hari itu adalah third-year undergraduate student dari China, usianya berkisar 21-22 tahun. Topik yang jadi pembahasan kali ini adalah mengenai usia yang ideal untuk menikah. Kami masing-masing menulis pendapat kami pada kertas kosong, dan selanjutnya mendiskusikannya. Saya menulis angka 27 sebagai usia yang ideal untuk menikah, partner saya menulis 28 tahun. Karena ini adalah kelas social conversation, dia menanyakan kenapa 27 tahun adalah usia yang ideal untuk menikah. Saya bilang ke dia, bahwa di usia 27 tahun, biasanya sudah selesai sekolah, sudah punya pekerjaan tetap dan mulai menata hidup untuk lebih mapan, jadi menurut saya 27 tahun adalah usia yang tepat. Dia juga membenarkan, karena memang pendapat dia mengenai usia ideal untuk menikah, juga hampir sama dengan saya. Tapi, kata-kata dia yang terakhir yang bikin saya mau ketawa ngakak.....Dia bilang begini: That's good, jadi memang sebaiknya setelah kamu selesai PhD, kamu bekerja dulu beberapa tahun, baru menikah....Gubrakkk.....Dia kira umur saya berapa ya? Kalo 27 tahun bagi saya sudah lewat 4 tahun yang lalu....'kan pertanyaannya pendapat kita mengenai berapa usia yang ideal untuk menikah, bukan umur berapa saya mau menikah. Tapi nggak apa-apa lah.....mungkin dia mengira saya masih berusia 23-25an, seperti rata-rata PhD students di tempat saya kuliah ini.

Teman saya, yang juga berasal dari Indonesia, juga sering bikin teman-teman kami asli UK tidak percaya kalo dia sudah punya anak yang berusia 9 tahun. Mereka sampai bertanya, umur berapa waktu menikah dulu? 18 tahun kah? padahal teman saya itu menikah umur 26 tahun dan melahirkan anak pertamanya umur 27 tahun. Mungkin tipikal orang Indonesia yang memang awet muda ya. Makanya, kalo kami membicarakan masalah umur dengan teman-teman dari UK, mereka sering nggak percaya kalo saya bilang umur saya sudah 30an. Tapi jelas nggak mungkin kan kalo saya bohong masalah umur kepada mereka. Dan akhirnya bule-bule itu bilang, mungkin kamu terlihat lebih muda dan segar karena di negaramu kaya akan sinar matahari yang cerah, yang tidak selalu akan didapatkan di negara-negara Eropa. Iya..iya...mungkin juga itu penyebabnya.....kok malah saya nggak kepikir sampai kesitu ya.....Yang jelas, saya bangga jadi orang Indonesia, bisa bertemu sinar matahari cerah setiap hari dan sehingga jadi terlihat lebih muda.

(Sehabis mengingat soal usia karena ada seorang teman yang baru merayakan ulang tahun ke 36)


Saturday, 30 January 2010

"Men are from Mars and Women are from Venus". Anda pasti sudah sering dengar kata-kata ini ‘kan? Menurut anda, antarawanita dan pria, mana yang lebih setia pada pasangannya? Dari surveykecil-kecilan yang saya lakukan (n = 9, usia responden ≥25 tahun)ternyata wanita lebih setia pada pasangannya. Parameter yang sayagunakan dalam survey ini adalah Siapa orang pertama yang selalu diingat dan selalu ada dalam pikiran para responden”. Mungkin parameter inibelum cukup lengkap untuk mengukur kadar kesetiaan seseorang terhadap pasangannya, tapi parameter ini cukup menggambarkan apakah seseorangakan selalu ingat pada pasangannya.

Dari sebuah kuisioner yang saya peroleh, terdapat 11 pertanyaan yang harus diisi secara spontan. Salah satu perintah pada kuisioner tersebut adalah kita diminta untuk menulis nama lawan jenis yang kita kenal pada urutan no.3 dan no. 7. Dari pembahasan kuisioner yang saya
peroleh, biasanya seseorang akan menuliskan nama orang yang paling dicintainya atau pasangannya pada urutan no.3 dan menuliskan nama orang lain yang juga dicintainya tetapi bukan pasangannya ( TTM ?) pada urutan no. 7.

Hasil survey yang telah saya lakukan, ternyata antara wanita dan pria memberikan hasil yang sangat berbeda bermakna. Pada responden wanita, mereka akan selalu menulis nama suaminya (responden yang sudah menikah) atau pacarnya (responden yang belum menikah), sedangkan pada no. 7 ada beberapa yang menulis nama saudara kandung, sahabat, bahkan
ada yang tidak mengisi sama sekali urutan no. 7 ini. Alasan mereka tidak mengisi urutan no.7 ini karena tidak ada nama pria lain yang diingat (mereka harus mengisi kuisioner ini secara spontan dan cepat).

Survey pada responden pria, hasilnya sangat mengejutkan. Pada responden pria, tidak ada responden pria yang menulis nama istri (responden yang sudah menikah) atau pacar (responden yang belum menikah) pada urutan no.3. Dari beberapa responden pria, paling banter mereka menulis nama anak mereka pada urutan no. 3. Bahkan yang lebih mengejutkan ada responden pria yang sudah menikah justrumenulis nama teman wanitanya, bukan nama istrinya. Untungnya tidak ada diantara responden pria yang menulis nama saya diurutan no.3 itu, :-D (paling banter nama saya ada diurutan no.4, no.5, no.6 atau no.7, setidaknya mereka selalu ingat saya………:-)).

Nah lo…….terbukti ‘kan wanita lebih setia terhadap pasangannya dengan indikator bahwa mereka secara spontan akan selalu ingat pada pasangannya dimanapun mereka
berada.

Wah………., hasil yang sangat berbeda bermakna sekali ‘kan antara pria dan wanita. Jadi jika banyak pria yang pada akhirnya melakukan poligami, itu sudah merupakan “naluri lelaki” yang memang cenderung tidak setia pada pasangannya. Pada wanita cenderung untuk selalu setia pada pasangannya, sehingga kadang mereka pasrah menerima tindakan yang dilakukan suami terhadap dirinya, termasuk jika harus “di-poligami”. Sepertinya “naluri wanita” untuk selalu setia pada pasangannya ini yang akan selalu dimanfaatkan para pria (Untuk para wanita: berhati-hatilah!!!!………….).


(Sebuah survey kecil-kecilan sambil menunggu waktu sampling, sekaligus menguji validitas kuisioner ini. Thanks to Ika yang sudah mem”forward” kuisioner ini ke milis)


Re-posting dari Friendster blog....ternyata tulisan ini saya buat 3 tahun yang lalu..

Oohh...how old I am........