Tuesday, 8 March 2011

Homesick

Hari minggu kemarin, tombol switch on- switch off terminal kabel milik saya tiba-tiba tidak bisa menyala dan tidak bisa bekerja. Wah, jadi agak repot memang karena terminal kabel itu menghubungkan socket/ plug atau colokan 2 ke 2. Sengaja memang saya membawa terminal socket/colokan 2 ke 2 untuk peralatan listrik mengingat peralatan elektronik yang saya bawa dari Indonesia seperti komputer, charger kamera dan HP masih menggunakan plug/colokan dengan 2 lubang, sedangkan di UK socketnya adalah 3 lubang. Sebenarnya begitu sampai UK, saya juga sudah membeli socket yang merubah 2 plug menjadi 3 plug, tapi hanya terbatas untuk 1 item barang elektronik. Sehingga saya menyambugnya lagi dengan socket 2 ke 2 yang saya bawa dari Indonesia, sehingga saya bisa menyalakan komputer, mengisi baterai HP dan kamera sekaligus.

Hubungannya dengan Homesick? Hmmm, gara-gara memperbaiki socket itu, tiba-tiba saya jadi ingat rumah alias Homesick.



Homesick atau perasaan kangen atau rindu, menurut Cambridge advanced learner's dictionary adalah suatu keadaan dimana kita merasa tidak nyaman karena berada jauh dari rumah dalam jangka waktu yang lama. Definisi lainnya adalah perasaan tidak nyaman atau lemah yang disebabkan oleh terpisahnya seseorang dari sesuatu object, dalam hal ini rumah, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Gara-gara homesick, mendorong saya untuk bertanya kepada mbah Google, apa sebenarnya homesick itu dan apa saja yang membuat sesorang merasa homesick.

Ternyata banyak faktor yang mempengaruhi apakah seseorang itu akan mudah terjangkiti homesickness atau tidak. Faktor-faktor tersebut antara lain usia, jenis kelamin (gender), budaya, dan ketegaran atau rigidity seseorang.

1. Faktor Usia
Katanya, anak-anak akan lebih mudah terjangkiti penyakit homesick dibandingkan orang dewasa. Sepertinya ini ada benarnya, karena anak-anak biasanya lebih besar ketergantungannya terhadap suatu object, dalam hal ini rumah atau orang tua (ayah dan ibu) sehingga akan lebih mudah terjangkiti homesickness.

Jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat serombongan mahasiswa saya datang menghadap, meminta saya agar membatalkan kuliah sore hari, yang dimulai pukul 4 sore. Biasanya, kelas yang dimulai pukul 4 sore ini akan berakhir sekitar pukul 6 sore. Mereka meminta supaya saya mengganti kuliah ini dilain hari. Ketika saya tanya alasannya, ternyata mereka tidak ingin pulang terlalu sore karena ingin mudik ke kampung halamannya sore ini, karena besok adalah 1 Ramadhan, hari pertama puasa. Mereka ingin membuka puasa pertama di kampung halamannya. Mahasiswa saya kebanyakan berasal dari wilayah Solo dan sekitarnya sehingga untuk mudik diperlukan waktu tidak lebih dari 5 jam. Wah, kalo untuk mengganti jam kuliah dilain hari, terus terang saya agak keberatan, karena jadwal saya kedepannya juga sudah penuh. Mungkin jika di cancel, maka saya akan lebih senang. Tapi tentu mahasiswa, dekan dan universitas tempat saya mengajar menjadi tidak senang. Oleh karena itu, saya berkata kepada para mahasiswa, bahwa saya berjanji akan mengakhiri kuliah jam 5.30. "Terimakasih, Bu", ucap mereka lega. "Selamat mudik ya, saya saja malah nggak mudik nih", saya berkata kepada mereka. "Ah, Ibu 'kan nggak perlu mudik. Ibu 'kan sudah besar," ucap salah seorang mahasiswa saya. Ha..ha..ha....saya jadi terpingkal-pingkal mendengar jawaban salah seorang mahasiswa tadi. Mungkin maksudnya, saya tidak perlu mudik karena saya sudah cukup dewasa atau tua, bukan seperti mereka yang umurnya jauh dibawah saya. Jadi, memang terbukti 'kan jika bertambahnya usia mengurangi perasaan homesick ini. Meskipun sebenarnya saya juga pengin pulang, pengin sahur dengan menu "lombok kethok" masakan Ibu saya he..he...

2. Faktor Gender
Dari sebuah penelitian tentang homesick yang saya baca, untuk wilayah UK, wanita merasa lebih mudah merasa homesick dibandingkan pria. Penelitian ini membandingkan homesickness dari segi gender di UK dan di Netherlands dikalangan para pelajar. Di Netherlands, tidak ada pengaruh perbedaan gender ini terhadap perasaan homesickness. Konon katanya, dari jurnal yang saya baca ini, di Netherlands jarak antar kota relatif dekat, dan tersedia fasilitas transport gratis untuk pelajar, sehingga mereka biasanya akan pulang ke rumah tiap weekend (http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1348/000712602162508/pdf).

Menurut saya, mungkin juga karena wanita lebih bisa mengungkapkan emosinya dibandingkan pria, sehingga jika merasa homesick, akan terlihat sekali. Seperti yang saya alami saat saya menghadapi socket yang rusak tadi. Sambil membongkar dan memperbaiki socket tersebut, saya jadi ingat Bapak saya. Coba jika ada beliau saat ini, saya tidak perlu memutar obeng dan membongkar socket itu sendiri. Bapak saya memang punya hobi mengutak-atik dan memperbaiki segalanya, mulai dari alat listrik sampai mainan milik keponakan saya dan pasti juga beliau dengan senang hati memperbaiki tombol socket yang rusak ini. Gara-gara ingat Bapak, saya jadi ingat Ibu, kangen dengan nasihat-nasihatnya yang relijius, yang membuat saya selalu ingat bahwa manusia itu tidak ada artinya dibandingkan Sang Pencipta. Kangen dengan Bapak-Ibu, membuat saya juga kangen dengan keponakan, si Tolo-Tolo, yang tidak pernah bisa diam, dan tiap kali saya menelepon ke Indonesia, dia selalu minta robot bertopeng dan bersayap. Dan saya sampai saat ini belum menemukan gambaran bagaimana bentuknya robot bertopeng dan bersayap itu. Gara-gara itu semua, saya jadi kangen rumah.......Hanya gara-gara memperbaiki tombol switch on-off pada terminal socket....hwa.......

3. Faktor Budaya
Faktor budaya ternyata juga mempengaruhi perasaan homesickness ini. Seorang pelajar Indonesia yang baru pertama kali sekolah di Inggris, tentu akan merasa lebih homesickness dibandingkan dengan pelajar Indonesia yang sudah lama sekolah di Inggris. Perasaan ini juga dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kesulitan dalam menghadapi hal baru, merasa tidak nyaman dengan lingkungan yang baru dan belum bisa memanfaatkan situasi yang dihadapinya saat ini.

Perbedaan budaya memang sering membuat perasaan homesick muncul. Jadi ingat sewaktu baru pindah ke UK, saya sering membayangkan pulang kuliah terus mampir membeli bakso atau gorengan dipinggir jalan. Jalan-jalan bersama sepulang kuliah dan banyak hal lain. Di UK, hari kerja adalah digunakan untuk kerja, sehingga pertokoan pun tutup tidak lebih dari jam 5.30 dihari kerja, kecuali supermarket besar. Kongkow-kongkow hanya dilakukan saat weekend, Jum'at malam dan Sabtu. Alhasil, tidak ada acara kongkow dan mampir beli bakso atau gorengan dihari kerja. Hari kerja, setelah jam 5 sore, acaranya adalah pulang ke rumah, tanpa ada acara kongkow. Ini juga yang membuat saya kangen Indonesia.............

Perasaan kehilangan terhadap teman, ingin mencari teman baru ditempat yang baru, merindukan tipe teman lama di tempat yang baru, serta merasa kehilangan teman curhat dan bisa dipercaya juga semakin memperparah keadaan homesickness ini, terutama dikalangan pelajar. Selain itu, kadang ada perasaan bahwa situasi sebelumnya lebih baik dari sekarang dan juga ada perasaan menyesal karena meninggalkan situasi yang lama, dimana kita sudah merasa nyaman. Ini juga memicu perasaan homesickness. Memang, zona nyaman itu terkadang terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

4. Faktor Rigidity atau Ketegaran
Seberapa kuat ikatan seseorang terhadap suatu object, maka akan mempengaruhi tingkat homesickness-nya. Seseorang yang tidak pernah hidup terpisah dari orangtuanya, mungkin akan merasakan homesickness yang lebih parah dibandingkan dengan seseorang yang sudah terbiasa hidup terpisah dari orangtuanya.

Saya sendiri sebenarnya sudah terbiasa tinggal terpisah dari orangtua sejak SMA. Orangtua saya adalah PNS yang sering dipindahtugaskan kebeberapa daerah. Khawatir dengan pendidikan anaknya yang sudah menginjak SMA, yang kemungkinan akan kacau jika mengikuti ortu yang pindah tugas, orangtua saya memutuskan untuk memusatkan pendidikan anak-anaknya di Jogja. Kebetulan di Jogja juga banyak saudara yang bisa membantu mengawasi. Alhasil, saya dan kakak sudah belajar untuk hidup mandiri sejak SMA. Dengan track-record tinggal terpisah dari orangtua yang sudah cukup lama, tapi kenapa saya masih sering kena homesick juga? Tidak terbayangkan bagaimana dengan seseorang yang tidak pernah tinggal terpisah dari orangtuanya.

Tingkat ketegaran atau rigidity ini juga mempengaruhi kecepatan munculnya perasaan homesick. Bagi saya, biasanya saya akan mulai merasa homesick jika lebih dari 3 bulan tidak bertemu orangtua dan tidak mengunjungi rumah. Selain itu, jika sedang dibawah tekanan, misal harus menyusun report atau bertemu pekerjaan yang bertumpuk, tiba-tiba saya merasa ingin pulang ke rumah. Tapi kalo yang terakhir ini, sebenarnya homesick atau lari dari tanggung jawab ya???

Bagaimana denganmu? Apa yang kamu pikirkan tentang homesick?
Anyway, saya akhirnya bisa memperbaiki terminal socket yang saya bawa dari Indonesia, dengan perasaan homesickness.


*I am homesick for everything that I am willing to remember*


Bibliography:

Saturday, 5 February 2011

Antara Zona Nyaman dan Tidak Nyaman

Weekend kali ini tidak ada agenda jalan-jalan. Cuaca yang buruk alias angin kencang membuat saya membatalkan niat untuk berkunjung ke River Trent sekaligus mengintip kandang Nottingham Forest di daerah West Bridgford. Tidak terlalu jauh memang dari City Center, hanya angin kencang hari ini, dan juga yang saya rasakan saat pulang kampus Jum'at sore kemarin, serasa meniup kuat badan dan membawa saya terbang. Padahal badan saya termasuk kategori ukuran besar, coba bayangkan kalo saya berbobot dibawah 45 kilogram, mungkin saya sudah diterbangkan hingga Derby, district di sebelah Nottinghamshire.

Karena mati gaya dirumah, tidak tahu lagi apa yang harus dikerjakan, jadi yang saya kerjakan Sabtu ini adalah merenung. Merenung dan menulis tentunya, supaya ada bukti sudah melakukan perenungan. Bukankah harus ada bukti supaya tidak disangka hoax?

Saya merasa minggu ini adalah minggu yang berat. Ya, saya merasa capek dan lelah untuk minggu ini. Rasa capek itu semakin bertambah setelah membayangkan apa yang harus saya kerjakan minggu depan. Tugas dari supervisor saya untuk menjadi supervisor untuk 2 orang undergraduate project students membuat saya "juggling" dari satu lab ke lab lainnya. Ditahun kedua program PhD saya ini, saya harus menyelesaikan pekerjaan cell culture di Tissue Engineering lab, sedangkan project students yang harus saya bimbing, bekerja di Drug Delivery lab. Minggu ini dimulai dari menyiapkan dan belanja chemical, menyusun timeline dan rencana project, meng-arrange protokol apa yang harus mereka siapkan, serta berpacu dengan target kerja saya sendiri membuat tenaga dan pikiran saya terkuras. Belum lagi minggu depan saya harus mentraining mereka menggunakan instrument di laboratorium, mendemonstrasikan teknik kerja yang harus mereka kerjakan dan mengerjakan pekerjaan saya sendiri.

Perenungan ini adalah perenungan tentang pikiran "aneh"yang muncul lagi Kamis malam lalu. Pikiran yang sama waktu saya sedang berjuang untuk menyelesaikan tesis Master saya, sementara saya juga masih harus ujian matakuliah teori. Apa sih yang saya cari dengan sekolah? Buat apa sekolah lagi, toh tanpa sekolah saya juga bisa jadi dosen dan mengajar mahasiswa. Pun pikiran itu muncul lagi 2 malam yang lalu. Toh dengan gelar Master, saya sudah bisa dan berhak mengajar mahasiswa undergraduate (S1) di Indonesia.

Istighfar, itu yang saya lakukan saat pikiran itu muncul. Dan saya tiba-tiba ingat dengan kata-kata yang sering saya ucapkan pada teman-teman di kampus dulu, "Ayo, mundurlah satu langkah ke belakang untuk maju beribu langkah ke depan". Kata-kata itu yang selalu saya ucapkan ke teman-teman kolega saya di kampus untuk memotivasi mereka untuk tetap semangat melanjutkan sekolah. Ternyata susah juga ya menepati kata-kata sendiri.

Bagi dosen seperti saya, memang banyak sekali yang harus dikorbankan pada saat memutuskan untuk sekolah lagi. Meninggalkan kampus tempat kerja, meninggalkan mengajar dan melepas jabatan struktural, yang semuanya itu tentu terkait dengan konsekuensi finansial. Institusi pendidikan tempat saya bekerja memang termasuk yang baik dalam memperlakukan dosen yang sedang studi lanjut. Kami tetap menerima gaji pokok, sedangkan honor mengajar tidak. Kebijakan yang menurut saya memang adil. Memang selama studi lanjut, kami tidak diberi beban mengajar sehingga tidak menerima honor mengajar. Tapi, jumlah gaji pokok yang saya terima itu besarnya (atau kecilnya?) hanya sepertiga dari honor yang saya terima jika saya aktif mengajar dikampus alias sangat kecil. Pengorbanan lainnya adalah harus melepas proyek-proyek penelitian bernilai tinggi dalam skala rupiah, yang seharusnya bisa dikerjakan saat tidak studi lanjut. Bagi saya tidak mungkin mengurus proyek di Indonesia sedangkan saya sendiri sedang berada di UK.

Dari segi non finansial, banyak sekali yang harus ditinggalkan saat memutuskan untuk sekolah lagi. Seusia saya, saat ini, sebenarnya saya sudah cukup nyaman dengan apa yang ada disekeliling saya. Gelar master sudah ditangan, jabatan fungsional juga sudah lumayan untuk mengajar mahasiswa S1, proyek-proyek penelitian pun mulai berdatangan dari hasil menjalin lobi sana sini. Mengajar, mengawasi praktikum, sesekali siaran program kesehatan di radio, pulang, belanja, sesekali ke gym dan berenang, santai dirumah, sepertinya menjadi rutinitas yang terpola dengan rapi. Perawatan ke salon, pijat dan spa, kongkow dengan teman-teman, mencoba tempat makan baru, shopping, sesekali travelling ke negara tetangga, menjadi bagian kenyamanan yang kadang terasa berat untuk ditinggalkan.

Lalu apa yang saya cari dengan sekolah lagi? Well, saya sendiri sering tidak konsisten untuk menjawabnya. Saat saya sedang sadar dan menjadi pribadi yang baik, saya akan menjawab bahwa tujuan saya sekolah adalah untuk meningkatkan pengetahuan, menjawab rasa ingin tahu, menambah pengalaman, berjuang untuk ummat dijalan pendidikan dan sejuta alasan ideal lainnya. Saat sedang bosan dan capek dengan sekolah, saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, dan kembali berpikir," Iya ya, ngapain capek-capek sekolah lagi?"

Saya yakin seyakin-yakinnya, pada waktu saya apply beasiswa untuk program PhD saat ini, saya sedang menjadi pribadi yang baik. Maka dari itu saya akhirnya memutuskan mendaftar program beasiswa. Tapi tidak pada saat saya dinyatakan diterima dan berhak atas beasiswa ini. Senang, tapi sedikit sekali rasa itu. Saat dinyatakan diterima beasiswa ini, saya justru menangis. Menangis dibalik senyuman, karena saya tidak mungkin menangis di depan orang-orang yang memberikan ucapan selamat pada saya. Sewaktu dinyatakan diterima beasiswa, yang saya rasakan adalah beban yang sangat berat. Beban untuk bersiap meninggalkan zona nyaman yang saya miliki menuju zona tidak nyaman.

Saya pernah merasakan bagaimana tidak enaknya berpindah dari zona nyaman ke zona tidak nyaman ketika saya memutuskan kuliah lagi untuk mengambil program master. Beban kuliah yang sangat tinggi, berada di lingkungan baru, dosen yang gaya mengajarnya berbeda dengan dosen-dosen saya waktu S1, menjadi beban berat bagi saya. Alhamdulillah, Allah selalu sayang dengan hambanya. Dibulan ketiga sejak saya menginjak zona tidak nyaman saat mengambil program S2, saya mulai merasa nyaman dengan teman-teman yang sangat baik, sehingga zona tidak nyaman itu berubah menjadi zona nyaman hingga saya menyelesaikan program master saya.

Menerima beasiswa untuk program PhD ini membuat saya kembali harus bersiap untuk mengeluarkan langkah saya dari zona nyaman. Saya ingat dengan kata-kata teman baik saya, bahwa semakin dewasa usia seseorang, semakin sulit rasanya untuk melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman. Hal itu juga saya rasakan. Alhasil 6 bulan sejak dinyatakan diterima beasiswa, saya tidak melakukan progress apapun. Padahal beasiswa saya akan expired dalam tempo 1 tahun jika dalam 1 tahun saya tidak mengambil jatah beasiswa itu.

Dan sekali lagi, Allah memang maha pembolak-balik hati. Dialog kecil dengan diri sendiri akhirnya meyakinkan saya untuk menempuh segala usaha agar jatah beasiswa itu tidak hilang karena expired. Betapa ratusan kandidat dari berbagai negara berusaha mendapatkan beasiswa itu, sedangkan saya yang sudah mendapatkannya, malah berkeinginan untuk melepaskannya. Akhir 2008, saya memantapkan hati menerima beasiswa ini. Segala usaha juga saya lakukan untuk berburu universitas yang sesuai dengan bidang minat saya. Saya juga mengajukan pengunduran diri dari jabatan struktural untuk lebih berkonsentrasi mencari sekolah. Bulan Juni 2009, segala sesuatunya telah siap, dan tinggal mempersiapkan keberangkatan. Akhir September 2009 akhirnya saya menginjakkan kaki di UK, dan juga melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman.

Dari kenyataan yang saya alami, saya berpendapat bahwa sebenarnya zona tidak nyaman itu tidak pernah ada. Kenyamanan dan ketidak-nyamanan semua itu ada dibawah kendali diri kita sendiri. Tentu saya juga merasa tidak nyaman ketika menginjakkan kaki di UK. Bahasa yang berbeda, budaya yang berbeda, makanan yang berbeda, membuat segalanya jadi tidak nyaman. Tapi setidaknya saat ini saya sudah merasakan bahwa zona itu sedikit demi sedikit sudah berubah menjadi nyaman bagi saya. Teman-teman yang baik dan siap menolong disekeliling saya, jalan-jalan ke tempat-tempat terkenal di UK, bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai karakter, bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara, membuat saya merasa mulai nyaman dengan semua ini. Dan ini berarti bahwa saya sudah mulai memperluas zona nyaman saya dan menyulap zona tidak nyaman menjadi zona nyaman...yayy......

To summarize, untuk memperluas zona nyaman, tentunya kita harus berani bergerak keluar dari zona nyaman itu sendiri dan merubah zona tidak nyaman menjadi zona nyaman. Bukankah jika zona nyaman yang kita miliki semakin luas, maka kita akan semakin leluasa untuk bergerak? Dan jangan lupa untuk selalu menempatkan ikhlas, yaitu melakukan segala sesuatunya hanya karena Allah, dan sabar dihati kita.




Nottingham, 5 February 2011
Renungan Sabtu malam






Sunday, 9 January 2011

Jebakan Wasabi

Sudah pernah mencicipi kacang wasabi? Snack seperti kacang telur dengan lapisan penyalut yang berwarna hijau, dan rasa yang "spesifik". Wasabi adalah nama bumbu berwarna kehijauan yang menyalut kacang telur itu. Kacang ini begitu menarik bagi saya, karena pengalaman baru yang saya dapat dengan snack ini. Batuk dan pilek yang saya rasakan sejak libur Christmas lalu, jadi hilang akibat efek dari mengkonsumsi kacang ini. Tertarik.....? Bisa dicoba.........

Snack sejenis kacang telur ini saya temukan di supermarket dekat rumah. Saat itu, sebenarnya saya ingin membeli pistachio, snack kacang-kacangan kegemaran saya. Sayangnya stock pistachio sedang kosong. Pilih punya piilih, saya tertarik dengan "wasabi peanut", dengan gambar kemasan seperti kacang telur berwarna kehijauan. Membayangkan kacang shanghai, snack favorit saya di Indonesia, akhirnya saya memutuskan membeli kacang wasabi itu, sebagai ganti pistachio. Lagipula pada kemasannya mencantumkan kata "crispy and hot". Woww....pasti gurih dan enak, karena ada sedikit rasa pedasnya. Sudah beberapa kali saya membeli kacang pedas di Inggris raya ini, tapi belum ada yang pedasnya pas, dan rasa kacangnya kadang malah seperti rasa kacang melempem. Semoga kacang yang ini enak dan cocok di lidah.

Sampai dirumah, sambil santai browsing internet dan minum teh hijau hangat, saya buka kacang washabi itu. Pertama menempel di lidah, kekagetan tampaknya terjadi pada lidah saya. Ya......kaget yang luar biasa......Mungkin kalo lidah ini bisa berteriak, maka lidah saya akan berteriak. Sayang, lidah memang tidak bertulang, oleh karena itu tidak bisa berteriak (*memang tidak ada hubungan antara tulang dan produksi suara*).

Rasa yang benar-benar aneh untuk diterjemahkan dalam tulisan, telah dirasakan oleh indera pengecap saya. Antara pahit, getir, pedas, dan...mmmm.....rasa yang aneh, saya sulit sekali menerjemahkan rasa itu dalam kata-kata. Lambat saya mulai mengunyah kacang telur itu. Lapisan kulitnya akhirnya hancur diantara gigi-gigi dan memunculkan rasa kacang yang selama ini sudah akrab dengan saya. Eh...benar ternyata tulisan pada kemasan itu, memang rasanya "crispy and hot". Lapisan penyalut kacang tersebut, gurih juga ternyata. Kacang di dalamnya juga enak, sama dengan kacang atom garuda atau dua kelinci, merek yang sering saya beli waktu di Indonesia. Enak juga ternyata, jadi kacang wasabi pun terus berlanjut masuk dalam mulut saya. Tapi sepertinya lidah saya trauma untuk merasakan wasabi, sehingga saat masuk mulut, gigi geligi saya langsung melumat kacang wasabi itu, sehingga yang tersisa dilidah adalah rasa gurih tepung lapisan penyalut dan kacang, bukan bumbu hijau di lapisan penyalut yang rasanya "aneh" itu.

Supaya tidak penasaran dengan kacang wasabi, ini gambar kacang wasabi, seperti yang saya beli:



Bentuknya seperti kacang atom biasa, hanya lapisan penyalutnya yang berwarna hijau, dengan bumbu yang tersebar pada lapisan penyalut.

Untungnya, saya merasakan efek lain dari mengkonsumsi kacang ini. Rongga hidung yang mampet akibat pilek, tiba-tiba terasa longgar dan mudah untuk bernafas. Batuk berdahak saya juga berkurang akibat makan kacang ini. Ajaib ya.....Jadi penasaran untuk lebih mencari tahu, apa sih yang terkandung pada kacang wasabi ini. Lets do goggling.......

Wasabi, adalah sejenis bumbu dari tanaman Wasabia japonica, yang sering digunakan di Jepang untuk memberi rasa pada makanan. Rasa yang dihasilkan adalah rasa pedas, tapi lebih kuat dari rasa yang dihasilkan dari cabe atau merica. Bagian yang digunakan untuk menghasilkan rasa ini adalah bagian daun dan akar dari tanaman Wasabia Japonica.




Tanaman Wasabi ini banyak tumbuh di daerah pegunungan di Jepang dan memang digunakan sebagai bumbu masak pada kebanyakan masakan Jepang. Rasa yang dihasilkan khas sekali dan warna hijau pada Wasabi juga berfungsi sebagai pewarna alami pada makanan.

Rasa yang khas yang dihasilkan oleh Wasabi dikarenakan adanya kandungan isothiocyanate pada tamanan ini yaitu 6-methylthiohexyl isothiocyanate, 7-methylthioheptyl isothiocyanate 8-methylthiooctyl isothiocyanate. Efek farmakologi dari senyawa isothiocyanate ini adalah sebagai anti inflamasi, anti mikroba, anti platelet dan anti cancer.

Efek anti mikroba dari kacang wasabi inilah yang mungkin berkhasiat menyembuhkan batuk dan pilek saya. Bukti-bukti ilmiah mengenai efek farmakologi tanaman ini, memang kebanyakan menunjukkan adanya efek anti mikroba, baik terhadap fungi dan bakteri. Bahkan, ada satu artikel juga yang menyebutkan bahwa wasabi juga bisa digunakan sebagai anti virus, khususnya virus swine influensa (H1N1). Penyakit flu yang cukup merepotkan pemerintah Inggris pada winter kali ini (http://www.nhs.uk/conditions/pandemic-flu/Pages/Introduction.aspx).

Kacang Wasabi, meskipun rasa yang kau hasilkan "aneh" eh "unik", tapi kau telah berjasa menyembuhkan batuk dan pilek. Dan terlebih lagi, kacang wasabi ini mendorong saya untuk sekali-sekali menulis yang 'agak" ilmiah pada blog yang "tidak mutu" ini.


Saturday, 11 December 2010

Engagement




















Saya sedang mengencerkan larutan gelatin dengan perbandingan 1: 20 ketika Vanessa datang. "Morning", sapaan ramahnya muncul. Vanessa, gadis Jerman, first year student di lab saya, memulai PhD nya September 2010 ini. Ahh...kebetulan Vanessa sudah datang. Hari ini saya memerlukan feeder layer untuk mengkultur mouse embryonic stem cells, tapi saya kehabisan feeder layer untuk minggu ini karena saya tidak punya lagi sel fibroblast untuk membuat feeder layer. "Morning Vanessa", saya membalas salamnya. "Vanessa, would you give me two flasks of your feeder cells?" saya memberanikan diri bertanya. "It would be fine, Anita. I only need two flasks to keep my cells growth", jawab Vanessa.

Sembari saya memfilter larutan gelatin kedalam T25 flask dan Vanessa membersihkan cell culture hood, kami saling bercerita tentang perkembangan lab work kami, dan semakin pendeknya waktu yang tersedia karena semakin mendekati liburan Christmas. Vanessa juga bercerita bahwa supervisornya sudah menagih report untuk mini project yang dia kerjakan sekarang. Tiba-tiba dia bertanya pada saya, "Can I tell a secret to you?". Waduh....apa lagi nih, apakah dia merasa tertekan jadi PhD student yang selalu merasa kekurangan waktu?

"Anita, I am engaged now," dia berkata dengan mata berbinar. "Sorry?" saya kurang jelas mendengar apa yang dia maksud. "Yes, I am engaged with my boyfriend. He proposed me to marry yesterday". jelasnya. Wowww, congratulations Vanessa......!!!

*************************

Dari definisi kamus Cambridge Advanced Dictionary yang saya miliki, kata "Engaged" memiliki arti "having formally agreed to marry". Pasangan yang menyatakan statusnya sebagai "engaged" berarti sudah dipastikan akan menikah. Pada kasus Vanessa ini, dia dan boyfriend-nya berjanji untuk menjadi pasangan yang menikah. Saya pun menanyakan pada Vanessa kapan mereka akan menikah, apakah tahun depan? Well, Vanessa bilang tidak mungkin tahun depan. Masih banyak kendala yang dia hadapi untuk segera menikah. Vanessa berkebangsaan Jerman, sedangkan si boyfriend adalah orang British. Untuk menikah, mereka harus melakukannya di Jerman sedangkan saat ini mereka berdua masih sama-sama berstatus PhD student di UK, sehingga tentunya akan merepotkan untuk mengurus pernikahan mereka. Itu alasan Vanessa kenapa mereka tidak bisa segera menikah.

Lalu, apa bedanya ya dengan status mereka yang selama ini sudah hidup bersama? Saya tahu bahwa Vanessa sudah tinggal satu rumah bersama dengan boyfriend-nya sejak 2 tahun terakhir ini. Ya, mereka tinggal bersama semenjak Vanessa masih berstatus karyawan sebuah perusahaan farmasi terkenal di Inggris. Tanpa engaged pun mereka juga bisa hidup bersama dan tinggal satu rumah, tanpa menikah juga, tentunya. Hmmm....analisa saya adalah, status engaged dimata mereka setidaknya lebih menjanjikan dibandingkan hanya "hidup bersama", isn't it?

Kalau bisa disejajarkan dengan keadaan di Indonesia, status engaged ini mungkin hampir sama dengan status tunangan. Dalam keluarga besar saya, status tunangan ini baru akan muncul jika sudah ada "tembung" antara keluarga calon pengantin pria kepada keluarga calon pengantin wanita, dalam bentuk lamaran. Masa setelah lamaran hingga menikah ini yang disebut sebagai tunangan. Biasanya, jeda waktu antara lamaran hingga menikah, juga tidak terlalu lama, hanya sekitar 3-6 bulan, sembari mempersiapkan pernikahan, bahkan kadang bisa kurang dari 3 bulan. Dalam masa tunangan, tentunya belum bisa hidup bersama, karena belum ada ikatan pernikahan. Hidup bersama tentunya dimulai setelah adanya ijab dan qabul.

Saya bukan ahli sosiologi, sehingga tidak tahu apakah perbedaan ini dipengaruhi oleh budaya, agama, agama yang mempengaruhi budaya atau apa penyebabnya. Disini, di negara tempat saya belajar saat ini,memang banyak sekali pasangan yang hidup bersama tanpa menikah, bahkan tanpa engagement juga. Salah seorang teman lab saya jugapernah bercerita bahwa ayah dan ibunya tidak pernah menikah. Dan dia dengan bangganya bercerita bahwa meskipun ayah-ibunya tidak menikah, mereka tetap rukun hingga saat ini, 30 tahun hidup bersama. Yang ada dalam pikiran saya, kalo tetap rukun selama 30 tahun hidup bersama, kenapa mereka tidak menikah sekalian? Saya kira itu bukan urusan yang penting untuk dibahas karena saya juga menghormati hak mereka untuk hidup bersama tanpa menikah.

Yah....memang manusia diciptakan berbeda-beda, termasuk dalam cara berpikir, berbudaya dan gaya hidup. Itulah yang membuat saya merasa bersyukur bahwa saya diberi kesempatan untuk melihat semua perbedaan ini. Hal seperti ini mungkin akan sangat jarang saya temui di Indonesia. Eh....tapi katanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung bahkan Jogja, gaya hidup seperti Vanessa dan boyfriend-nya sudah mulai marak. Entahlah, saya tidak tahu pasti, tapi saya berharap berita itu tidak benar.

Anyway, saya tetap merasakan kebahagiaan yang saat ini sedang dirasakan oleh Vanessa. Engagement setidaknya lebih menjanjikan kepastian dibandingkan hanya hidup bersama. Saya harus menambahkan ucapan selamat atas engagement-nya dalam Christmas Card yang akan saya berikan pada Vanessa minggu depan. Christmas Card yang saya tulis sebagai balasan atas Christmas Card yang sudah Vanessa letakkan di meja saya beberapa hari yang lalu.




Nottingham, 11 Dec 2010
*Warm Saturday night in winter season*





Tuesday, 9 November 2010

Si Mbah itu.......


Sampai saat ini saya juga tidak tahu siapa nama kakek tua itu. Cukuplah saya menyebut dia dengan "Simbah", panggilan untuk orang yang dituakan dalam bahasa jawa. Simbah ini adalah penduduk asli negara United Kingdom, alias British asli. Tercermin sekali dari penampilan fisknya yang jelas "bule" dan dandanan klasiknya.

Perkenalan saya dengan Simbah ini berawal sejak Oktober tahun 2009, saat saya baru menjadi bagian dari penduduk kota Nottingham. Perkenalan yang berawal dari tempat pemberhentian bis kota atau bus stop. Ya, hampir setiap pagi saya selalu menunggu bus bernomer 13 atau Maroon line di Dennis Avenue, siap membawa saya ke kampus University of Nottingham di area University Park. Disini tepatnya lokasi bus stop itu:



Dilihat dari keadaannnya, tempat pemberhentian bus ini memang bukan tempat yang nyaman untuk mengobrol. Pertama kali bertemu dengan Simbah, sepertinya tidak ada yang istimewa dari Simbah ini. Perawakannya termasuk kecil untuk ukuran bule pada umumnya.Mungkin juga dikarenakan beliau sudah tua, sehingga kemungkinan tulang-tulang dan otot-otot pada tubuhnya sudah mengalami penyusutan volume. Usianya kira-kira 70 tahun, atau bahkan lebih. Saya yakin pasti lebih dari 70 tahun, tapi entahlah, saya selalu gagal menebak usia penduduk asli Inggris. Kadang yang saya perkirakan sudah diatas 30 tahun ternyata masih berusia dibawah 25 tahun. Tapi bisa juga sebaliknya, saya kira masih 50 tahun, ternyata sudah 60 tahun.

Yang menarik dari pertemuan pertama saya dengan Simbah ini adalah sapaan dia dan pertanyaannya kepada saya yang agak bikin saya "gelagapan" menjawabnya.

"Morning", itu sapaan pertama Simbah kepada saya dan itu sapaan lazim bagi penduduk UK jika bertemu orang, baik yang dikenal maupun tidak dikenal. Saya pun menjawab, "morning", disertai dengan senyum. Sembari menunggu bus 13 yang memang selalu telat, Simbah pun mengajak saya ngobrol, sekedar mengisi waktu. Mungkin karena melihat saya memakai jilbab, pertanyaan pertamanya adalah ," Are you from Saudi Arabia?". "No, I am from Indonesia", jawab saya. "Ooh, from Indonesia, nice country", puji Simbah. "Do you study in the university?", tanya Simbah lebih lanjut. "Yes, I am first-year student in pharmacy, PhD program", saya menjelaskan. "Can you speak Arabic?" pertanyaan lanjutan Simbah, yang mungkin dia ajukan karena melihat saya memakai jilbab dan pasti saya seorang muslim. Dengan menyesal saya menjawab,"Sorry, I can't. But I know some words in Arabic, because I read Qur'an". "So, do you know about Al Fatihah?", tanya Simbah lebih lanjut. "Of course, I know about it. This is the opening Surah in Qur'an", saya menjawab sembari mati-matian berfikir keras untuk mentranslate dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Saat itu saya kira-kira baru 3 minggu tinggal di negara eropa ini, sehingga bisa dibayangkan betapa kacaunya English saya, meskipun sudah dinyatakan lolos tes IELTS. "What the meaning of Surah Al Fatihah? Can you explain to me?", tanya Simbah lagi. Gubraakkk......itu reaksi saya jika dikartunisasi. Saya tahu arti Surat Al Fatihah dalam bahasa Indonesia, tetapi jika diminta mentranslate dalam English, terus terang level saya belum sampai disitu. Saya pun berusaha menjelaskan sebisanya, "The Surah explains about the Merciful of our god, Allah". Jawaban yang pendek, dan sepertinya kurang menjelaskan bagi Simbah. Tapi jujur, saya tidak punya kosakata yang cukup untuk menjelaskan Ar rahman dan Ar Rahim. Untunglah, bus 13 yang kami tunggu akhirnya tiba, sehingga saya bisa menyembunyikan kebingungan saya. Tapi terus terang saya menyesal sekali tidak bisa menjelaskan dengan baik kepada Simbah. Pulang kampus, akhirnya saya bertanya ke paman "google" untuk terjemahan Al Fatihah dalam bahasa Inggris, siapa tahu lain waktu Simbah akan bertanya lagi.

Pertemuan saya dengan Simbah di bus stop itu terus berlangsung, meskipun tdk setiap hari. Kadang memang saya tidak mengambil rute bus 13, kadang juga saya berangkat lebih pagi dari jadwal biasanya. Jadwal Simbah naik bis adalah jam 8.18 pagi atau jam 8.44 pagi.

Tapi pagi itu, saat saya bareng lagi dengan Simbah, saya dikejutkan lagi dengan sesuatu dari Simbah. Saat melihat saya tiba di bus stop itu, dia tersenyum senang melihat saya. Sambil merogoh sesuatu dibalik jaketnya, dia berjalan mendekati saya. Wah, ada apa lagi nih, dalam hati saya berkata. Ternyata Simbah mengeluarkan secarik kertas catatan yang disimpan di balik jaketnya. Setelah mendekati saya, dia berkata, "Selamat pagi", menyapa saya. Ha...ha...ha...sempat kaget juga, ternyata kertas yang dikeluarkan Simbah adalah kertas contekan untuk menghafalkan kata "Selamat pagi". Saya pun menjawab salamnya dengan mengucap selamat pagi juga. Simbah senang sekali karena saya bisa mengerti kata dalam Bahasa Indonesia yang diucapkannya. Salut buat Simbah yang tertarik untuk mempelajari kata dalam Bahasa Indonesia.

Simbah pernah bercerita pada saya, bahwa dia banyak mempelajari keadaan negara-negara lain dari banyak menonton acara di BBC. Jadi Simbah banyak tahu tentang- tsunami di Aceh, letak Indonesia, bahwa Indonesia terbagi atas tiga zona waktu,- didapatnya dari rajin menonton siaran BBC. Sepertinya Simbah juga rajin membaca dan tertarik dengan negara Indonesia. Atau mungkin dia tentara veteran yang pernah berdinas di Indonesia pada jaman perang kemerdekaan? Entahlah.....lain waktu akan saya tanyakan pada Simbah.

Saya beranggapan bahwa Simbah sangat tertarik dengan negara Indonesia. Terbukti ketika Merapi bergejolak, Simbah bertanya tentang bagaimana kabar keluarga saya di Indonesia akibat ada gunung meletus tersebut. Ini menunjukkan bahwa Simbah mengikuti terus perkembangan berita tentang Indonesia. Saya menjelaskan pada Simbah bahwa memang letusan Merapi kali ini luar biasa hebatnya, tapi semoga keluarga saya aman karena keluarga saya tidak tinggal di daerah Jogjakarta. Tapi, ada kemungkinan bahwa abu gunung merapi akan menutupi seluruh pulau Jawa, dan saya berharap bahwa ini tidak akan terjadi karena jika terjadi maka keluarga saya juga akan terkena efek gunung Merapi.

Lain waktu dia bertanya pada saya, apakah saya pernah ke Australia. Saya menjawab bahwa saya belum pernah ke Australia. Simbah agak heran, karena dia tahu bahwa Australia terletak dekat dari Indonesia. Hmmm...berarti simbah juga paham letak geografis Indonesia. Jarang sekali orang British yang tahu pasti dimana Indonesia itu. Yah, mungkin ini juga dari hasil menonton BBC.

Persahabatan saya dengan Simbah di Bus Stop terus berlangsung hingga sekarang, meskipun tidak setiap hari kami bertemu. Kadang, ketika pulang kampus di sore hari, saya juga berjumpa Simbah di Bus 13. Tentunya saya akan menyapa Simbah dengan ramah, dan Simbah pasti membalas sapaan saya dengan senyumnya. Kadang obrolan kami sambil menunggu bis juga hanya seputar cuaca hari ini. Kadang juga Simbah menanyakan berapa jumlah koleksi buku di perpustakaan University saya. Obrolan ringan sembari menunggu Bus 13 yang selalu tidak tepat waktu.

Anyway, perkenalan dan persahabatan saya dengan Simbah yang terjadi di Bus Stop ini akan saya simpan sebagai kenangan saat bersekolah di Negeri Ratu Elizabeth ini. Mungkin nanti juga akan saya ceritakan pada anak atau cucu saya. Satu hal yang belum sempat saya laksanakan adalah mengambil foto Simbah. Ya.....suatu kali nanti pasti saya ambil foto Simbah sebagai kenang-kenangan dan cerita nanti setelah pulang ke Indonesia.


(Tulisan dimalam Senin, sembari mendengar radio Swaragama, bukan BBC)

Wednesday, 25 August 2010

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia


Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, "Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?" "Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi," kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, "Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang".

Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.

Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, "Lalu daerah apakah itu Tuhan?" "O, itu," kata Tuhan, "itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni."

Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, "Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya? "

Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, "Wait, until you see the idiots I put in the government." (tunggu sampai Saya menaruh 'idiot2' di pemerintahannya)


(Copy paste dari milis tetangga)

Thursday, 22 July 2010

Flowers are Red

The little boy went first day of school
He got some crayons and started to draw
He put colors all over the paper
For colors was what he saw
And the teacher said…What you doin’, young man
I’m paintin’ flowers he said

She said…It’s not the time for art young man
And anyway flowers are green and red
There’s time for everything young man
And a way it should be done
You’ve got to show concern for everyone else
For you’re not the only one

And she said……..
Flowers are red young man
And green leaves are green
There’s no need to see flowers any other way
Than the way the always have been seen

But the little boy said……
There are so many colors in the rainbow
So many colors in the mornin’ sun
So many colors in a flower and I see every one

Well the teacher said…You’re sassy
There’s ways that things should be
And you’ll paint flowers the way they are
So repeat after me…

And she said….
Flowers are red young man
And green leaves are green
There’s no need to see flowers any other way
Than the way they always have been seen

But the little boy said….
There are so many colors in the rainbow
So many colors in a flower
And I see every one

The teacher put him in a corner
She said….It’s for your own good
And you won’t come out ’till you get it right
And all responding like you should
Well finally he lonely
Frightened thoughts filled his bead
And he went up to the teacher
And this is what he said…and he said

Flowers are red, green leaves are green
There’s no need to see flowers any other way
Than the way they always have been seen

Time went by like it always does
And they moved to another town
And the little boy went to another school
And this is what he found
The teacher there was smilin’
She said…Painting should be fun
and there are so many colors in a flower
So let’s use every one
But that little boy painted flowers
In neat rows of green and red
And when the teacher asked him why
This is what he said,..and he said

Flowers are red, green leaves are green
There’s no need to see flowers any other way
Than the way they always have been seen

*Lirik lagu favorit tentang kebebasan berpikir dan berkarya. Semoga bisa menjadi cermin bagi para pendidik, termasuk saya.


Flowers is not only in red colors, we can found several different colors on them. Like science as well, we could find many colors in sciences...*

Selamat Hari Anak Nasional