Sunday, 11 April 2010

High-Trust Society

Arti "trust" yang saya ambil dari Cambridge Advance dictionary adalah "to have belief or confidence in the honesty, goodness, skill or safety of a person, organization or thing" yang kalo dalam istilah bahasa Indonesianya adalah "kepercayaan terhadap kejujuran seseorang, organisasi, atau sesuatu hal". Biasanya istilah ini digunakan dalam bidang ekonomi, dimana biasanya dikaitkan dengan tingkat korupsi yang terjadi pada suatu negara. Dari sebuah tulisan yang pernah saya baca (http://www.free-eco.org/articleDisplay.php?id=566), negara-negara maju dengan tingkat kesejahteraan yang lebih baik cenderung memiliki level kepercayaan yang lebih tinggi terhadap sesuatu, dan dikenal sebagai "high-trust society". Sedangkan untuk komunitas yang memiliki level kepercayaan yang rendah terhadap sesuatu, dikenal sebagai "low-trust society" dan biasanya komunitas ini tingkat kesejahteraannya lebih rendah.

Teori yang saya baca itu sepertinya memang ada benarnya. Berdasarkan pengalaman selama tinggal di UK, memang saya mengakui bahwa level kepercayaan masyarakat disini lebih tinggi, dan memang UK termasuk dalam negara dengan tingkat kesejahteraan yang baik.

Seminggu yang lalu, student card saya mengalami masalah. Student card itu biasa saya gunakan untuk akses masuk ke dalam gedung dan laboratorium, dan sekaligus bus pass saya juga tergabung dalam student card tersebut. Untuk alasan kepraktisan, saya biasa mengisi bus pass dalam student card itu untuk periode 3 bulan atau sekitar 93 hari. Akhir Maret lalu saya baru saja top-up bus pass untuk 3 bulan kedepan. Masalah pada student card itu juga saya rasakan juga sejak akhir Maret yang lalu. Untuk akses dalam gedung, kadang card itu bekerja dengan baik, kadang juga tidak. Untunglah saya biasa datang pada saat jam orang-orang mulai ramai berdatangan, jadi kalau kartu saya tidak bekerja, saya tinggal menunggu orang lain datang, dan saya mengikuti dibelakangnya. Jadi selamat deh bisa masuk gedung.

Saya baru menganggap problem student card saya itu serius saat saya naik tram di city centre bersama teman. Karena saya berlangganan bus dan tram, pada waktu kondektur memeriksa karcis, saya tinggal menyerahkan kartu saya ke kondektur. Kondektur lalu akan mengecek kartu saya dengan alat khusus untuk kartu langganan. Nhaaa...masalah muncul saat di cek menggunakan mesin pengecek kartu, sensor mesin itu menyala merah, yang berarti kartu saya tidak diterima. Kalo kartu saya expired, jelas tidak mungkin, karena waktu itu saya baru mengisinya 3 hari yang lalu untuk bus pass nya. Saya agak panik, karena saat itu saya tidak membawa koin untuk membayar tram. Tapi penjelasan dari Ibu Kondektur tram, bikin saya lega. Dia bilang. "Look at this...baby, the file in your card is corrupt, so it didn't work. But you don't need to pay for this tram, let check your card as soon as possible, and save for your money" sambil tetap tersenyum kepada saya. Oohhh..baiknya Ibu itu, dan dia percaya kalo kartu saya itu memang ada bus pass-nya.

Karena tidak mau bermasalah lagi dengan akses gedung dan bus pass, segera setelah libur easter berakhir, saya segera mengurus masalah kartu saya ke security office. Ternyata peyebab masalah itu adalah adanya retakan kecil pada kartu saya, sehingga data elektronik yang tersimpan dalam kartu tidak bisa terbaca. Saya juga baru tahu setelah security officer itu memperlihatkan belahan kecil pada pojok kanan atas kartu saya. Menurut analisa security officer, retakan itu terjadi karena saya meletakkan kartu itu di saku celana, sehingga kalo saya duduk, ada kemungkinan kartu itu patah akibat terlipat. He...he..he...kok dia tahu ya kalo saya sering menyimpan kartu itu disaku. Memang untuk alasan kemudahan, karena saya sering berpindah-pindah gedung, kartu itu saya masukkan ke saku samping celana. "Keep your card in wallet or purse," begitu pesan security officer setelah selesai mencetak ulang kartu saya. Okey deh.....tapi bagaimana dengan bus pass saya? Menurut penjelasan security officer, kartu itu dicetak dengan barcode yang sama dengan kartu sebelumnya sehingga semua data yang ada pada kartu lama otomatis juga akan ada di kartu baru. Oh...begitu ya....

Akses gedung lebih lancar setelah dapat kartu baru. Tapi, ketika pulang dari kampus, saat menempelkan kartu saya di mesin pembaca kartu dalam bis. Kartu saya tidak bekerja....!!! Mana saya nggak ada uang receh lagi, karena bus tersebut tidak menyediakan kembalian........panik sekali. Untungnya supir bis itu baik hati, dia bertanya, "Did you use it before?". "Yes, but I had changed the card today and have new card with me," saya berusaha menjelaskan. "Oke darling, check your card again on the bus tomorrow morning, and explain to the driver that you had a new card. And activate your card in your university card office tomorrow," katanya, "and please get in the bus". Oooohhh.....baiknya si Bapak driver. Esok paginya, saat akan berangkat kampus, saya menjelaskan kepada driver-nya tentang masalah kartu saya sehingga saya bisa naik bus tanpa membayar. Dan masalah kartu dan bus pass itu akhirnya selesai setelah saya melakukan aktivasi ulang ke kantor pusat perusahaan bus tersebut di City Centre.

Yang menarik dalam hal ini adalah betapa mereka begitu percaya terhadap seseorang. Mereka, para bus driver dan kondektur tram itu, percaya saja bahwa memang saya punya bus pass yang menempel di kartu dan kartu saya sedang dalam masalah. Padahal ada kemungkinan juga bahwa saya adalah seseorang yang tidak punya bus pass tapi hanya mengaku bahwa kartu saya sedang dalam masalah. Pada saat saya menyerahkan kartu dan kartu saya tidak bekerja, mereka juga tidak minta bukti lain seperti kuitansi pembelian bus pass atau yang lainnya. Padahal, kalo di Indonesia.......hmmm....kemungkinan saya bisa dimintai surat keterangan dari sekolah kalo kartu saya rusak, kuitansi pembelian bus pass, plus diwawancarai oleh petugas dengan wajah curiga.

Bandingkan saja kejadian diatas dengan kejadian yang saya alami di kampus tempat saya bekerja di Indonesia. Dulu, sekitar tahun 2002, institusi tempat saya bekerja belum mencetak ID-card untuk dosen maupun karyawan, sehingga memang tidak ada tanda pengenal yang jelas apakah ini dosen, karyawan, atau tamu. Untuk mahasiwa, malah sudah ada tanda pengenal yang jelas yaitu Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Saat itu, sistem parkir motornya adalah dengan menggunakan karcis parkir dimana nomor kendaraan ditulis pada karcis parkir oleh petugas parkir. Karena saya sering teledor, karcis parkir itu hilang, mungkin tidak sengaja terlipat dan terbuang, karena karcis parkir itu seperti potongan kertas kecil dari kertas buram. Pada waktu akan pulang, karena menyadari keteledoran saya, saya menyerahkan STNK motor saya kepada petugas parkir sebagai bukti bahwa saya mengambil kendaraan saya (bukan kendaraan orang lain). Saya kira ini sudah cukup sebagai bukti, tapi ternyata tidak. Petugas parkir memandang saya dengan curiga, mungkin karena saya orang baru juga di kampus itu sehingga beliau belum mengenali wajah saya. Petugas parkir itu berkata," Wah.....kok karcis parkir e iso ilang mbak....mana KTM nya, supaya bisa saya catat dibuku". Karena tidak punya KTM, saya bilang ke petugas parkir bahwa saya tidak punya KTM karena saya adalah Dosen. Eh...si Bapak malah tambah curiga. " Dosen....? Dosen mana....", walah....kok nggak dipercaya ya kalo saya dosen, padahal menurut saya, saat itu saya sudah berpenampilan "dosen banget" githu loh.....Bingung juga, wong memang saya tidak punya tanda pengenal sebagai dosen dan SK pengangkatan sebagai dosen saya tinggal di rumah (karena saya kira tidak akan berguna untuk mengurus parkir). Untungnya ada serombongan mahasiswa saya yang akan parkir karena mereka ada kegiatan di kampus sore itu. Mahasiswa saya menegur saya "baru pulang Bu?". Teguran yang menyelamatkan saya, karena petugas parkir itu jadi percaya kalo saya dosen di institusi itu akibat teguran mahasiswa terhadap saya tadi. Tapi tetap saja pak petugas parkir itu bilang lain kali karcis parkirnya jangan hilang lagi ya, atau nanti kalo hilang lagi, saya boleh pulang kalo sudah tidak ada motor lain selain motor saya di tempat parkir itu. Gubrakkk......apa bukti STNK motor belum cukup ya......

Yah....bagaimanapun, memang harus diakui, bahwa negara kita mungkin termasuk yang kurang sejahtera sehingga memiliki kepercayaan yang rendah terhadap sesuatu hal, seperti teori yang saya sebutkan diatas tadi. Lihat saja, kalo berurusan dengan birokrasi dan dokumen penting, selain dokumen harus dilegalisir, yang asli juga harus dibawa, karena ditakutkan yang hasil legalisiran itu adalah palsu. Ha...ha..ha...repot banget ya. Waktu saya menghadiri konfrensi di Malaysia, panitia dibuat geger karena saya minta cap asli pada SPPD saya, karena kalo tidak cap asli, SPPD saya tidak diterima di institusi saya. Padahal, mereka, di Malaysia jarang menggunakan cap-cap an seperti itu untuk mengecek keaslian dokumen. Ini juga contoh high-trust society dan Malaysia juga termasuk negara dengan tingkat kesejahteraan yang baik, iya 'kan...?

Jadi, bagaimana membangun high-trust society di negara kita, Indonesia? Ditingkatkan kesejahteraannya dulu, atau high-trust society yang membuat negara bisa sejahtera? Mungkin menjawab pertanyaan ini seperti menjawab "lebih dulu mana....telur atau ayam.....??"








Sunday, 28 March 2010

Party

Hari Minggu kemarin, saya menghadiri birthday party labmate saya di chemistry lab. Meskipun judulnya "party", jangan dibayangkan adanya ruangan penuh lampu, musik yang berdentum dan orang-orang yang berdisko dalam ruangan. Pada prinsipnya, birthday party disini ya seperti kalo kita syukuran atau tasyakuran di hari ulang tahun, jadi hanya makan dan minum saja. Cuma memang istilah yang tepat untuk event ini adalah "party"

Ini adalah kali ketiga saya menghadiri party disini. Pengalaman pertama saya adalah menghadiri christmas lunch party. Christmas memang sepertinya sudah menjadi budaya bagi orang-orang eropa, jadi sepertinya malah tidak terkait dengan "religious". Sejak bulan November, biasanya sudah ada edaran-edaran untuk christmas dinner atau christmas lunch di group-group research. Tiap research grup mengadakan acara christmas meal ini dengan versinya masing-masing.

Grup research saya, tissue engineering group, mengadakan dua macam acara christmas meal, christmas lunch dan christmas dinner. Karena saat itu sudah masuk winter, dan siang hari begitu pendek, saya ikut dalam acara christmas lunch saja. Lagipula saya penasaran christmas party di UK itu seperti apa. Dipilihlah Restaurant Petit Paris di City Centre untuk acara ini. Ini adalah restaurant yang menyediakan makanan perancis. Whaaa....jadi tambah penasaran pengin ikut mencoba masakan perancis.

Jum'at siang, kami meninggalkan kampus menuju lokasi acara. Bersama-sama tentunya. Sampai disana, meja yang kami pesan sudah disiapkan. Pada tiap meja, sudah ada kado kecil yang diikat pita pada kedua ujungnya. Apa ya isinya??? saya juga penasaran, kado christmas-kah? saya coba mengguncang kado itu....bunyinya seperti ada barang kecil didalamnya. Crackers...??? mungkin juga. Kita lihat saja nanti. Trus, kami juga diberi topi dari kertas warna warni, untuk dipakai. Jadi seperti pesta ultah waktu kecil dulu.

Daftar menu pun diedarkan. Wah bingung, mau pesan apa, karena semua berbahasa perancis. Saya berkata dalam hati, ya kalo terpaksa ya pesan menu vegetarian, karena alternatif ini lah yang paling aman untuk muslim seperti saya yang tidak bisa makan daging atau ayam sembarangan. Mau pesan seafood, nggak tau seafood itu bahasa perancisnya apa. Untunglah ada Asma, third year student yang duduk kebetulan berhadapan dengan saya. Dia sepertinya membaca kebingungan saya. Asma juga seorang muslim. Dia langsung menjelaskan tiap menu itu isinya apa saja. Kebetulan ada menu ikan salmon dengan saus. Siiippp, saya akhirnya pesan itu dan cheese cake dengan winter fruit untuk dessert-nya. Untuk minum, saya pilih coke saya, untuk mengantisipasi kalo-kalo nanti makanan yang saya pesan bikin eneg.

Sambil menunggu pesanan disiapkan, saatnya membuka kado-kado yang ada didepan kita. Cara membukanya juga unik sekali. Kita harus saling menarik ujung pita kado yang dimiliki oleh teman kita. Untukmembuka kado itu, saya berpasangan dengan Toby. Bingung cara membuka, tapi untungnya Toby memberi petunjuk, "pull it", Oke deh, tarik, ternyata ada suara petasan saat pita ditarik. Saya penasaran melihatt isinya. O...o.., ternyata mainan kecil dari plastik, yang kalo di Indonesia biasa dijual di penjual balon untuk anak-anak. Saya dapat gasing kecil, Toby dapat butterfly. Dan didalam kado itu ada selembar kertas kecil yang isinya tebak-tebakan yang kita baca didepan teman-teman, trus teman yang lain menebak jawabannya dengan jawaban yang lucu-lucu. Seperti plesetan lah, kalo di Indonesia. karena nggak begitu mengerti bahasa gaul orang UK, kadang jawaban yang dianggap lucu, saya nggak bisa ngerti lucunya dimana. Tapi ya sudahlah...ikutan tertawa saja. Yang penting suasana jadi "fun". Acara ini lumayan berguna sambil menunggu pesanan datang. Dan disinilah saya jadi bisa mengambil kesimpulan bahwa christmas meal ini hanya bagian dari budaya, bukan sesuatu yang religious, karena sepanjang acara ya isinya hanya ngobrol-ngobrol dan tebak-tebakan saja, tidak ada acara berdo'a bersama menyambut christmas. Dan tidak ada seorang pun yang berbicara kalo nanti Christmas tiba mau berdoa di gereja mana.

Acara party yang kedua adalah Birthday Party dari Andrea, teman dari portugis. Andrea tidak satu lab dengan saya, tapi kami masuk pada tahun yang sama, saya mengenal dia sewaktu induction program untuk new students di kampus. Karena dia Portugis, acara diselenggarakan di Restoran Portugis di daerah Hyson Green,Nottingham. Sebelum acara, saya bertanya ke Andrea apakah restoran itu menyediakan makanan untuk vegetarian atau tidak. Dan ternyata, info dari Andrea, masakan portugis itu terkenal dengan seafoodnya, jadi amanlah untuk saya yang tidak bisa makan daging dan ayam sembarangan.

Acara Andrea's Birthday Party ini diselenggarakan jam 7 malam. Padahal saat itu sudah winter, Whaaa....dingin sekali rasanya harus keluar rumah malam-malam. Tapi ada perasaan nggak enak kalo tidak datang, karena saya kenal cukup baik dengan Andrea. Format birthday party Andrea ini beda lagi. kami disuguhi berbagai snack, seperti gorengan atau bala-bala menurut saya, dari bahan ikan. Macamnya banyak sekali. Gorengan ini terus mengalir selama kita ngobrol. Kemudian dilanjutkan dengan "drink". Karena saya tidak minum wine, jadi saya juga ikutan "drink" dengan air mineral sajah...he..he...he..... Satu lagi pengetahuan yang saya dapat dari ikutan party seperti ini. Ternyata untuk teman minum wine, biasanya snacknya adalah kacang atau buah zaitun (olive) yang (kelihatannya) direbus. Dan memang acara party ini fokus ke bertukar cerita, jadi makanan utama baru keluar setelah jam 10 malam. Tiwas saya membayangkan kalo birthday party itu nanti ada suara musik berdentum he...he...he.... Acara birthday party ini selesai jam 11 malam, dan saya pulang ke rumah dalam keadaan setengah beku.


Birthday Party di Restaurant Portugis. Itu tuh....saya yang di pojok belakang tengah......:-)

Party yang ketiga adalah birthday party yang saya hadiri hari minggu kemarin. Sewaktu diundang, karena tidak mau pulang dalam keadaan beku lagi, saya bertanya dulu tentang jam acara. Ternyata jam 1 siang, waktu lunch. Okie...dokie...kalo begitu, saya langsung meng-iya-kan untuk join. Dan tempat yang dipilih adalah Corner House, satu tempat dengan cineworld, tempat saya menonton bioskop. Yihaaa....akhirnya dapat kesempatan juga makan-makan ditempat itu.

Hari minggu siang saya berangkat dari rumah. Kami berjanji ketemuan di lantai 1 Corner House. Ternyata waktu saya tiba, baru Fadi, yang berulang tahun, yang datang. Sembari mengunggu, kami membicarakan tujuan makan siang nanti. Ada banyak alternatif di Corner House, ada restoran italia, Restoran China, restoran Mexico....wah...jadi bingung. Saya bilang ke Fadi, pada prinsipnya saya tidak masalah mau pilih restoran mana saja, tapi kalo bisa yang menyediakan menu untuk vegetarian atau ada seafoodnya. Fadi cukup mengerti, karena meskipun dia seorang christian, tapi dia berasal dari Syiria, negara yang juga mayoritas muslim, jadi dia tahu alasan saya tanpa saya harus menjelaskan panjang lebar.

Setelah semua teman datang, kami melihat-lihat restoran di Corner House. Chinesse food juga kelihatannya enak, dan ada menu untuk vegetariannya. Tapi karena salah satu teman saya, Shaun berasal dari Taiwan, dan tentunya dia merasakan masakan chinesse di menu makanan dia sehari-hari, jadi kami memutuskan untuk ke restoran Italia, Bella Italia. Kasihan Shaun kalo harus merasakan masakan cina lagi he..he...sama aja bukan party bagi dia.........

Saya memesan pasta dengan topping prawn dan smoked salmon dan raspeberry juice. Bayangan saya tentang oregano yang menyengat dimasakan italia, ternyata hilang, saya tetap doyan aja tuh. Padahal, kalo di Indonesia, saya kurang bisa mentolerir aroma oregano di Pizza (dengan merek Pizza Hut), sehingga kalo makan pizza harus didampingi dengan minum coke yang banyak...he..he..he...ndeso ya..... Tapi pasta prawn dan salmon yang kemarin saya pesan, enak banget lho, tidak bikin eneg, atau mungkin nggak pake oregano...??? tidak taulah....

Untuk Fadi's birthday ini, tidak ada acara "drink" karena acara siang hari. Satu lagi pengetahuan yang saya dapat, ternyata acara drink wine itu hanya untuk acara malam hari. Mungkin kalo minum wine siang hari jadi panas banget kali yee....... Lagipula nanti mereka pulang dari party jadi nggak bisa menyetir mobil, karena aturan di UK, orang yang sedang dalam keadaan mabuk dilarang mengemudikan kendaraan.

Acara utama Fadi's birthday party ini adalah ngobrol-ngobrol, dan tentunya "cheers" untuk birthday party ini. Dan topiknya mulai dari masalah umur sampai ngerasani supervisor (suatu hal yang dilakukan oleh mahasiswa thd supervisornya, baik di Indonesia atau di UK). Dan tebak-tebakan masalah umur lagi, ternyata birthday party ini adalah ultah Fadi yang ke 26. Lho...saya kira malah dia seumur dengan saya. Dan waktu tebak-tebakan umur, saya lah yang paling tepat menebak umur mereka. Bagi saya itu mudah, karena mereka pasti berusia antara 23-27 tahun. Sedangkan waktu mereka menebak umur saya, salah besar tentunya, dan bikin mereka kaget waktu saya bilang umur saya 31 tahun he..he..he... Shaun sampai bilang, " I thought that you are at the same age with Veeren". Duh.....untungnya Veeren nggak datang birthday party ini, kalo tidak dia bisa marah disamakan dengan yang berusia 30an. Veeren masih berusia 23 tahun, dan baru lulus master degree setahun yang lalu. Teori tentang usia dari saya ternyata terbukti lagi ya...

Yang saya soroti dari setiap party yang diadakan ini, tiap orang selalu membayar sendiri apa yang mereka makan. Jadi jangan dibayangkan kalo yangg berulang tahun yang mentraktir teman-temannya seperti kalo di Indonesia. Pun saat christmas meal, kami membayar makanan masing masing, bukan menggunakan uang kas dari lab. Satu pelajaran lagi yang saya ambil, bahwa dengan membayar sendiri makanannya, menunjukkan perhatian yang besar pada temannya yang mengadakan acara dengan cara bersedia datang dan membayar makanannya sendiri. Padahal sering kalo di Indonesia, acara syukuran atau buka puasa bersama terlihat sepi karena tidak ada yang datang dengan berbagai alasan, padahal hanya tinggal datang, makanan sudah disediakan oleh yang punya hajat. Apalagi kalo diminta bayar sendiri ya......mungkin sama sekali tidak ada yang datang. Kesediaan menunjukkan perhatian ke orang lain ini yang patut kita contoh. Nanti, kalo pulang ke Indonesia, saya mau mengadakan tasyakuran untuk PhD saya nanti di restoran dengan meminta para tamu membayar sendiri makanannya, kira-kira bagaimana ya reaksinya???? Kayaknya stempel "PELIT" akan melekat pada saya seumur hidup.....:-)


Lain ladang lain belalang, lain lubuk ikannya.....
Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.....................

(jangan bingung, saya cuma mau mengingat peribahasa yang diajarkan waktu eSDe)





Sunday, 28 February 2010

Nonton (ke) Bioskop Nyookk

Malam minggu, aye pergi ke bioskop....
Memang malam minggu paling cocok digunakan untuk pergi nonton ke bioskop seperti lagu dari alm. Benyamin S. Lagipula, selama di Nottingham, saya belum pernah pergi nonton ke bioskop, atau kalo orang bule bilang "cinema". Sebenarnya niat nonton ini sudah ada waktu tahun baru lalu, tapi pada waktu tahun baru kemarin, bus kota tidak ada yang beroperasi. Kalo bus kota libur, tentunya sulit bagi saya yang memang hanya punya "mobil besar" itu untuk mengantar jalan-jalan.

Booming film Bollywood "My name is Khan" juga sampai di Nottingham. Itu sebenarnya gara-gara saya membaca status teman-teman Indonesia di Facebook yang katanya sampai antri beli tiket untuk nonton film ini. Setelah saya lihat trailer nya di Youtube, dan kayaknya bagus, akhirnya saya dan teman memutuskan untuk menonton film ini.

Bioskop mana ya yang dipilih? Setelah browsing, pilihan kami jatuh pada Cineworld, karena hari dan waktunya sesuai dengan kebutuhan. He..he..he...ini pertama kali saya nonton bioskop diluar negara RI tercinta. Saya pergi nonton ke Cinema bersama seorang teman yang juga dari Indonesia, dan sama-sama belum pernah pergi nonton bioskop selain di Indonesia. Akhirnya kami memutuskan untuk menontin pertunjukan jam 4.30pm.

Karena hari itu adalah malam minggu, timbul juga kekhawatiran kalo nanti tidak kebagian tiket. Kan sayang rasanya kalo acara nonton yang sudah dinantikan jadi batal gara-gara kehabisan tiket. Akhirnya saya melalukan "booking" tiket online. Untuk student, harga tiketnya adalah 5.20 GBP, dan booking fee 0.70 GBP karena saya booking online. Booking fee ini hanya dikenakan untuk pemesanan tiket online. Jadi kalo beli langsung di loket, tidak ada booking fee. Cukup murah kan untuk ukuran student, dibandingkan dengan harga tiket untuk umum yang 7.5 GBP. Memang student card di UK sangat berguna sekali, seperti saat saya berkunjung ke Liverpool. Sisa sekitar 1.5 GBP kan bisa dipakai untuk beli cappucino dan sepotong flapjack.

Konfirmasi pembelian tiket online, dilakukan melalui e-mail dan sms ke no HP saya. Instruksi untuk penukaran tiket hanya meminta untuk memasukkan kartu debit yang saya gunakan untuk pembayaran ke mesin ticket collection yang ada di foyer gedung bioskop. Meskipun agak belum bisa membayangkan mesinnya itu seperti apa dan bagaimana proses penukarannya, ya sudahlah, saya simpan baik-baik konfirmasi lewat sms itu, karena disana menyebutkan no referensi tiket yang saya pesan.

Jam 3.45pm, saya dan teman berangkat ke gedung bioskop. Tentunya tidak bergandengan tangan seperti pada lagu Nonton Bioskop. Teman saya nonton sesama wanita, nanti malah aneh 'kan kalo bergandengan tangan. Lokasi Cineworld terletak di The Corner House, Nottingham, dekat dengan city centre. Untuk menuju kesana, kami menggunakan tram. Meski sudah beberapa bulan di Nottingham, baru kali ini saya masuk ke Corner House. Ternyata bukan hanya bioskop, Corner house juga menawarkan banyak restoran didalamnya. Boleh juga lah dicoba lain waktu.

Didalam gedung ini ada Cineworld, tempat kami nonton bioskop
(taken from Polymorp's Photostream)

Celingak-celinguk masuk gedung bioskop, saya dan teman mencari mesin ticket collection disekitar foyer. Oohh......ternyata mesin itu lagi dikerubuti beberapa orang yang sedang menggambil tiket. OK...Let's try how to collect tickets from the machine. Sesuai instruksi, saya masukkan debit card saya, dan sesaat setelahnya mesin meminta nomer PIN. Setelah PIN saya masukkan, pada mesin bertuliskan "find the order".....kira-kira 30 detik kemudian, keluar 2 tiket beserta receipt. Hmmm....benar-benar mesin yang cerdas (ya iya lah....namanya juga mesin).

Sesuai petunjuk di tiket, kami segera menuju screen 14, dimana film "My name is Khan" diputar. Masuk ruangan.....ternyata ruangannya kecil, tidak seperti di Indonesia, kira-kira hanya setengah dari rungan bioskop 21 di Indonesia. Kursinya juga sekitar 10 baris dan tiap baris kira-kira berisi 12 kursi yang dipisahkan dengan jalan (aisle) tepat dibagian tengah. Bingung juga untuk mencari tempat duduknya. Tidak ada petugas yang berjaga di depan pintu ruang. Tiket yang saya pegang hanya bertuliskan "Screen 14, seat GA, Row GA". Saya dan teman berusaha mencari Row yang bertuliskan GA, tapi kok nggak ada ya. Akhirnya kami duduk sesuai pilihan kami saja, toh nanti kalo ada penonton lain yang baru datang dan ternyata empunya kursi, kami akan pindah. Hingga film akan dimulai, dan ruangan hampir penuh, tidak ada yang komplain mengenai tempat duduk yang kami duduki. Saya jadi mengambil kesimpulan, berarti duduknya bisa milih sendiri, cepet-cepetan datang aja. Sssstt, sampai saat ini saya juga nggak tau arti "GA" yang ada di tiket itu apa.

Mengamati orang-orang yang nonton dalam ruangan itu, ternyata rata-rata berwajah India, dan Timur tengah, hanya ada 2 orang yang berwajah melayu (ya hanya saya dan teman.......) dan 2 bule. Mungkin karena film Bollywood kali yeee.....jadi nggak banyak bule yang tertarik menonton. Rata-rata penonton membawa sekotak popcorn ukuran sangat besar, seperti di film "Mr Bean" yang pernah saya lihat. Jadi kesimpulan saya, popcorn memang identik dengan acara nonton bioskop. Dan karena jam 4.30pm di UK saat ini sudah mulai gelap, sebagian dari penonton membawa dinner. Jadi heboh banget bawaannya. Saya malah berfikir, kenapa didalam bioskop tidak diberi meja bundar sekalian ya, supaya para penonton bisa santap malam dengan nyaman dengan duduk mengelilingi meja bundar itu (feel like home he....he..he...). Dan saya terbayang nasi rawon dan sambal terasi (masakan teman hari itu) yang tidak saya bawa. Kan lumayan, sambil nonton, sambil makan malam.

Jam 4.30 tepat layar dibuka. Tapi alamak....iklannya hampir 30 menit sendiri. Film baru mulai sekitar jam 5. Saat sedang menonton, layar tiba-tiba jadi gelap. Oh...sudah selesaikah filmnya? Durasi film (dari info yang saya lihat) sekitar 2 jam. Saya melihat jam tangan saya, masih jam 6, berarti film belum selesai. Tapi kenapa layar jadi gelap dan lampu ruangan menjadi terang? Melihat sekeliling saya, para penonton itu sebagian ada yang keluar. Ooooo....ternyata untuk memberi kesempatan para penonton jeda sejenak untuk pergi ke toilet atau membeli makanan-minuman. Kira-kira 15 menit kemudian, film kembali diputar. Untunglah, saya tidak pulang saat layar padam dan lampu ruang terang, berarti itu hanya dapat separuh film kan. Tapi bagus juga ya ide memberi jeda ditengah-tengah film diputar itu. Jadi para penonton tidak terganggu dengan penonton lain yang sering kali lalu lalang di depan layar untu keluar sekedar membeli minuman atau ke toilet.

Film yang saya tonton kemarin cukup menarik juga. Bisa membikin tertawa dan kemudian menangis. Jam sudah menunjukkan pukul 7.30 pm saat film selesai diputar. Keluar dari Corner House, sudah ramai dengan orang-orang yang bersiap untuk dugem di malam minggu. Karena sudah terlalu malam untuk pulang ke rumah, saya memutuskan untuk menginap di rumah teman saja. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan sekali, pertama kali nonton bioskop di negeri orang. Sampai di rumah teman, nasi rawon plus sambal terasi sudah menanti untuk disantap. Kayaknya boleh juga tuh, kalo lain kali nonton lagi, saya mau sangu makan malam: nasi rawon, sambel terasi, kerupuk udang......hmmmmm.....pasti nikmat nonton bioskop sambil makan malam. Kira-kira, penonton yang lain akan komplain nggak ya dengan aroma sambel terasi yang saya bawa......???

Saturday, 20 February 2010

How old are you?

Kata ini digunakan untuk menanyakan usia atau umur seseorang. Di negara-negara Eropa, pertanyaan ini cenderung dianggap kurang sopan dan tidak patut ditanyakan kepada seseorang kecuali jika kita telah mengenal seseorang dengan baik. Memang, bagi sebagian orang, menanyakan masalah umur itu rasanya kurang etis, mungkin ada rasa takut dianggap terlalu tua ya. Terbukti, dari hasil pantauan saya terhadap "profile info" beberapa teman yang tergabung dalam situs pertemanan Facebook, sebagian besar dari teman-teman saya rata-rata tidak mencantumkan tahun kelahirannya, hanya tanggal lahirnya. Hmm...memang kecenderungan orang adalah ingin terlihat lebih muda dan tidak mau dikatakan tua. Tapi, saya tetap memasang lho informasi mengenai tahun kelahiran saya pada bagian profile di halaman facebook. Lha memang usia saya sudah memasuki kepala 3.....jadi apa yang perlu disembunyikan?

Bicara masalah usia, ternyata ada 2 kategori usia. Ini dari beberapa artikel populer yang saya baca. Ada yang disebut "biological age" atau usia biologis dan "real age" atau usia sebenarnya. Usia biologis merupakan status fisik dari umur seseorang dan dihitung berdasarkan tanggal lahir. Sedangkan "real age", dihitung berdasarkan status kesehatan dan vitalitas seseorang. Biasanya, seseorang dengan gaya hidup yang sehat akan memiliki real-age yang lebih muda dibandingkan dengan biological-age nya. Mau coba menghitung real-age anda? Silahkan berkunjung kesini:
http://www.sonnyradio.com/realage.html
Kalo menurut perhitungan dari situs diatas, ternyata real-age saya sekitar 20an...he..he...lumayan lah...lebih muda 10 tahun dari saya.

Umur seseorang ternyata juga ditentukan dari status psikologis dan status sosialnya juga. Ini mungkin ada benarnya juga ya. Berdasarkan pengalaman saya, saya merasa lebih muda 5 tahun saat sedang sekolah, dalam arti tugas belajar, dibandingkan saat bekerja. Dan saat lulus dan kembali bertugas lagi, dalam tempo 6 bulan, saya sudah merasa lebih tua 5 tahun lagi. Jadi rasa lebih muda 5 tahun itu akhirnya lenyap dalam tempo 6 bulan......hu..hu..hu...sedihnya. Supaya terlihat muda lagi, saya memutuskan cepat-cepat sekolah lagi, lanjut program PhD, siapa tahu bisa jadi lebih muda 10 tahun ya......

Tapi itu menurut saya lho. Teman saya satu lab di PhD program, justru mengatakan sebaliknya. Dia berasal dari India dan saat ini sudah memasuki tahun ke 4 untuk PhD program. Saat dia tanya kenapa saya mau ambil PhD,dengan bercanda saya bilang kalo saya mau terlihat lebih muda dengan ambil PhD program. Dia langsung terkejut," really...?". Karena menurut teman saya itu, dia justru merasa lebih tua 5 tahun saat jadi PhD student. Dan memang usia-biologis teman saya itu 6 tahun lebih muda dari saya dan dia sekolah terus tanpa terputus sejak lulus undergraduate. He..he...he...dia memang belum pernah merasakan bekerja, padahal kalo bekerja kan malah jadi merasa lebih tua 10 tahun.......Betul tidak.....???

Teori saya kayaknya sudah mulai agak terbukti. Setiap hari, setiap berangkat kampus, saya selalu satu bis dengan Ibu muda yang juga berkerudung, yang saya kira usianya kurang lebih hampir sama dengan saya. Suatu hari, sembari menunggu bus datang, Ibu muda itu mengajak ngobrol, ternyata dia berasal dari Saudi arabia dan sedang mengambil Pre-sessional English di University of Nottingham untuk persiapan program Master, rencananya akan dia ambil September tahun ini. Setelah bertanya asal dan basa-basi, dia bertanya pada saya," Are you foundation student?". waduh.....GeEr juga sih sebenarnya dibilang foundation student, karena itu berarti saya masih terlihat seperti baru lulus SMA kan (eh sekarang SMU ya...). Foundation program itu merupakan program yang diperuntukkan untuk program persiapan calon mahasiswa undergraduate yang akan kuliah di university, dan biasanya untuk yang berasal dari luar UK. Padahal dalam hati saya pengin ngomong ke dia,"Bukankah kayaknya kita seumur?". Mungkin dia agak kurang percaya lihat PhD student masih pake sepatu boot bertali kali yee...

Satu lagi pengalaman saya tentang umur. Di kelas social conversation yang saya ikuti, untuk memancing topik pembicaraan, peserta diberikan bahan-bahan pertanyaan yang nanti bisa didiskusikan bersama partner masing-masing di kelas. Partner saya hari itu adalah third-year undergraduate student dari China, usianya berkisar 21-22 tahun. Topik yang jadi pembahasan kali ini adalah mengenai usia yang ideal untuk menikah. Kami masing-masing menulis pendapat kami pada kertas kosong, dan selanjutnya mendiskusikannya. Saya menulis angka 27 sebagai usia yang ideal untuk menikah, partner saya menulis 28 tahun. Karena ini adalah kelas social conversation, dia menanyakan kenapa 27 tahun adalah usia yang ideal untuk menikah. Saya bilang ke dia, bahwa di usia 27 tahun, biasanya sudah selesai sekolah, sudah punya pekerjaan tetap dan mulai menata hidup untuk lebih mapan, jadi menurut saya 27 tahun adalah usia yang tepat. Dia juga membenarkan, karena memang pendapat dia mengenai usia ideal untuk menikah, juga hampir sama dengan saya. Tapi, kata-kata dia yang terakhir yang bikin saya mau ketawa ngakak.....Dia bilang begini: That's good, jadi memang sebaiknya setelah kamu selesai PhD, kamu bekerja dulu beberapa tahun, baru menikah....Gubrakkk.....Dia kira umur saya berapa ya? Kalo 27 tahun bagi saya sudah lewat 4 tahun yang lalu....'kan pertanyaannya pendapat kita mengenai berapa usia yang ideal untuk menikah, bukan umur berapa saya mau menikah. Tapi nggak apa-apa lah.....mungkin dia mengira saya masih berusia 23-25an, seperti rata-rata PhD students di tempat saya kuliah ini.

Teman saya, yang juga berasal dari Indonesia, juga sering bikin teman-teman kami asli UK tidak percaya kalo dia sudah punya anak yang berusia 9 tahun. Mereka sampai bertanya, umur berapa waktu menikah dulu? 18 tahun kah? padahal teman saya itu menikah umur 26 tahun dan melahirkan anak pertamanya umur 27 tahun. Mungkin tipikal orang Indonesia yang memang awet muda ya. Makanya, kalo kami membicarakan masalah umur dengan teman-teman dari UK, mereka sering nggak percaya kalo saya bilang umur saya sudah 30an. Tapi jelas nggak mungkin kan kalo saya bohong masalah umur kepada mereka. Dan akhirnya bule-bule itu bilang, mungkin kamu terlihat lebih muda dan segar karena di negaramu kaya akan sinar matahari yang cerah, yang tidak selalu akan didapatkan di negara-negara Eropa. Iya..iya...mungkin juga itu penyebabnya.....kok malah saya nggak kepikir sampai kesitu ya.....Yang jelas, saya bangga jadi orang Indonesia, bisa bertemu sinar matahari cerah setiap hari dan sehingga jadi terlihat lebih muda.

(Sehabis mengingat soal usia karena ada seorang teman yang baru merayakan ulang tahun ke 36)


Saturday, 30 January 2010

"Men are from Mars and Women are from Venus". Anda pasti sudah sering dengar kata-kata ini ‘kan? Menurut anda, antarawanita dan pria, mana yang lebih setia pada pasangannya? Dari surveykecil-kecilan yang saya lakukan (n = 9, usia responden ≥25 tahun)ternyata wanita lebih setia pada pasangannya. Parameter yang sayagunakan dalam survey ini adalah “Siapa orang pertama yang selalu diingat dan selalu ada dalam pikiran para responden”. Mungkin parameter inibelum cukup lengkap untuk mengukur kadar kesetiaan seseorang terhadap pasangannya, tapi parameter ini cukup menggambarkan apakah seseorangakan selalu ingat pada pasangannya.

Dari sebuah kuisioner yang saya peroleh, terdapat 11 pertanyaan yang harus diisi secara spontan. Salah satu perintah pada kuisioner tersebut adalah kita diminta untuk menulis nama lawan jenis yang kita kenal pada urutan no.3 dan no. 7. Dari pembahasan kuisioner yang saya
peroleh, biasanya seseorang akan menuliskan nama orang yang paling dicintainya atau pasangannya pada urutan no.3 dan menuliskan nama orang lain yang juga dicintainya tetapi bukan pasangannya ( TTM ?) pada urutan no. 7.

Hasil survey yang telah saya lakukan, ternyata antara wanita dan pria memberikan hasil yang sangat berbeda bermakna. Pada responden wanita, mereka akan selalu menulis nama suaminya (responden yang sudah menikah) atau pacarnya (responden yang belum menikah), sedangkan pada no. 7 ada beberapa yang menulis nama saudara kandung, sahabat, bahkan
ada yang tidak mengisi sama sekali urutan no. 7 ini. Alasan mereka tidak mengisi urutan no.7 ini karena tidak ada nama pria lain yang diingat (mereka harus mengisi kuisioner ini secara spontan dan cepat).

Survey pada responden pria, hasilnya sangat mengejutkan. Pada responden pria, tidak ada responden pria yang menulis nama istri (responden yang sudah menikah) atau pacar (responden yang belum menikah) pada urutan no.3. Dari beberapa responden pria, paling banter mereka menulis nama anak mereka pada urutan no. 3. Bahkan yang lebih mengejutkan ada responden pria yang sudah menikah justrumenulis nama teman wanitanya, bukan nama istrinya. Untungnya tidak ada diantara responden pria yang menulis nama saya diurutan no.3 itu, :-D (paling banter nama saya ada diurutan no.4, no.5, no.6 atau no.7, setidaknya mereka selalu ingat saya………:-)).

Nah lo…….terbukti ‘kan wanita lebih setia terhadap pasangannya dengan indikator bahwa mereka secara spontan akan selalu ingat pada pasangannya dimanapun mereka
berada.

Wah………., hasil yang sangat berbeda bermakna sekali ‘kan antara pria dan wanita. Jadi jika banyak pria yang pada akhirnya melakukan poligami, itu sudah merupakan “naluri lelaki” yang memang cenderung tidak setia pada pasangannya. Pada wanita cenderung untuk selalu setia pada pasangannya, sehingga kadang mereka pasrah menerima tindakan yang dilakukan suami terhadap dirinya, termasuk jika harus “di-poligami”. Sepertinya “naluri wanita” untuk selalu setia pada pasangannya ini yang akan selalu dimanfaatkan para pria (Untuk para wanita: berhati-hatilah!!!!………….).


(Sebuah survey kecil-kecilan sambil menunggu waktu sampling, sekaligus menguji validitas kuisioner ini. Thanks to Ika yang sudah mem”forward” kuisioner ini ke milis)


Re-posting dari Friendster blog....ternyata tulisan ini saya buat 3 tahun yang lalu..

Oohh...how old I am........

Visit Liverpool

Weekend memang paling oke untuk diisi dengan jalan-jalan, daripada kedinginan di rumah. Bersama rombongan dari Postgraduate student association, saya bersama seorang teman berkunjung ke Liverpool. Ada apa saja di Liverpool? Stadion...? Hmmm...sebelum berangkat, saya browsing informasi tentang tempat-tempat apa saja yang wajib dikunjungi di Liverpool. Kelihatannya cukup menarik...

Sabtu jam 7.20am, saat hari masih gelap, saya sudah berangkat dari rumah. Kami berkumpul di kampus jam 8. Jam 8 tepat, bis yang akan membawa kami sudah datang. Ternyata cukup banyak juga yang ikut ke Liverpool. Total ada 5 bis yang membawa rombongan dari University of Nottingham.

Perjalanan dari Nottingham ke Liverpool menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Tiba di Liverpool, akhirnya rombongan berpencar. Dari hasil browsing sebelum berangkat, ternyata Liverpool terkenal sebagai kota pelabuhan. Ada beberapa dermaga yang terkenal di Liverpool. Albert Dock merupakan salah satunya, dan menawarkan beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi. Seperti kota-kota di Inggris yang lain, Liverpool kelihatannya juga tidak terlalu luas. Untuk menuju ke Albert Dock, kami hanya berjalan kaki, tidak terlalu jauh dari tempat bis berhenti, didaerah City Centre.

Albert Dock menawarkan beberapa tempat menarik untuk dikunjungi antara lain The Beatles Story, Merseyside maritime museum, International Slavery museum, Tate Liverpool dan Piermaster's house. Sepertinya The Beatles story paling menarik untuk dikunjungi.


Kemana dulu ya.....??

The Beatles, grup band yang paling mendunia tahun 1950-1970 memang berasal dari kota Liverpool. The Beatles Story mengemas ini dalam sebuah bangunan yang menceritakan lahirnya grup band terkenal ini. Untuk biaya masuknya, karena saya student, hanya membayar 8.5 GBP,diskon 30% dari bea masuk untuk umum (sekitar 11 GBP). Lumayan juga diskonnya, jadi bisa untuk beli jajan kopi dan makan siang. Memang di UK, tempat wisata selalu memberikan harga khusus untuk student,dan diskonnya lumayan. Jadi kalo anda student, jangan lupa bawa student card ya...


The Beatles Story memang sangat menarik. Saya yang tidak begitu tahu sejarah tentang band ini, jadi tau lebih banyak. Mulai dari awal merekrut anggota band, kemudian mereka mulai terkenal dan akhirnya bubar. Lagipula, selama menikmati The Beatles Story, kuping selalu dimanjakan dengan lagu-lagu The Beatles yang ternyata asik-asik juga. Mulai dari Let it be, Imagine, please please me, My Bonnie, Hei Jude...wah...benar benar menyenangkan


Pintu masuk The Beatles Story

Ternyata histeria fans terhadap idolanya juga sudah ada sejak tahun 1950an. Terlihat dari foto-foto dan video saat The Beatles show ke beberapa tempat. Bagaimana histerisnya fans itu melihat idolanya pentas, sampai pingsan segala he..he...he....Trus ada juga iklan jaket jaman tahun 1950an yang katanya seperti model The Beatles. Bisa dicicil juga belinya. Ini nih foto jaketnya:





Jaket paling keren......






Keluar dari The Beatles, saya pindah ke Tate Liverpool. Tate Liverpool ternyata art gallery berisi patung-patung yang unik. Karena saya bukan penggemar seni patung, jadi tempat ini tidak begitu menarik bagi saya. Keluar dari Tate, tujuan berpindah ke Piermaster's house. Piermaster's house ini menggambarkan suasana rumah penduduk dimasa perang dunia kedua. Suasananya Inggris banget lah....ada mesin jahit kuno, living room lengkap dengan perapiannya, kamar tidur anak-anak lengkap dengan mainan anak-anak. Suasananya juga mendukung sekali, ruangannya juga berbau spesifik (yang menurut istilah saya "bau kuno"). Tapi asli lho...karena bau itu saya jadi merinding sendiri. Jadi cepat-cepat pengin meninggalkan Piermaster's House itu. Ditambah lagi, waktu saya dan teman berfoto di depan pintu masuk, penjaga tempat itu yang juga terlihat "dingin" tiba-tiba menghilang....nggak tau kemana...hi..............

Tujuan selanjutnya adalah berkunjung ke Merseyside Museum dan International Slavery Museum. Merseyside Museum adalah museum maritime sehingga menggambarkan segala sesuatu tentang laut. Ada juga sejarah Kapal Titanic dan Lusitania. Yang menarik bagi saya justru saat berkunjung ke International Slavery Museum. Ya...museum perbudakan. Ternyata Liverpool merupakan pelabuhan utama tempat masuknya pendatang dari Afrika yang akhirnya menjadi budak, selama tahun 1500-1800. Museum ini memang bertujuan mengajak dunia untuk memblokir segala bentuk perbudakan yang sampai saat ini masih terjadi dalam bentuk trafficking (perdagangan manusia). Karena Liverpool adalah kota pelabuhan, Liverpool jadi tempat masuknya korban trafficking dari seluruh dunia. Membaca testimoni dari para korban trafficking dan keluarga korban trafficking, jadi terharu. Itu semua bukan kehendak mereka, tapi mereka adalah korban.

Keluar dari wilayah Albert Dock, kami memutuskan untuk mengunjungi World Museum Liverpool. World museum Liverpool ini berisi kekayaan budaya dari seluruh dunia. Mulai dari Amerika, Afrika sampai Asia. Disini juga ada Wayang kulit, atau disebut Java Shadow Puppet yang masuk sebagai kekayaan buadaya dari wilayah Asia. Sayangnya, negara Indonesia sebagai pemilik budaya ini tidak disebut. Padahal disebelah wayang kulit ini, ada patung-patung dari Burma, disebut nama negaranya. Wah...salah-salah nanti justru wayang kulit ini dikira dari Burma.





Foto dulu sebelum meninggalkan Albert Dock






Enggak ke Stadion Liverpool yang terkenal itu? Penginnya sih, tapi sayang waktu tidak memungkinkan. Keluar dari World museum, jam sudah menunjukkan pukul 4.15pm. Padahal kami harus berkumpul dengan rombongan dari Uni of Nottingham jam 5pm, untuk kemudian bertolak kembali ke Nottingham. Mungkin lain waktu saya tetap ingin berkunjung ke stadion Liverpool.

Jam sudah menunjukkan pukul 7.50pm saat kami tiba di East Drive, University Park. Liverpool ternyata kota yang cukup menyenangkan karena banyak objek yang bisa dikunjungi. Dari semua tempat yang di Liverpool, The Beatles Story adalah tempat favorit saya. Ini adalah pertama kalinya saya "jatuh cinta" dengan tempat seperti "museum" itu, karena menarik pengunjung dengan sejarah yang disampaikan simple dan jelas, ditambah lagi ada musik sepanjang kunjungan di dalam bangunan itu.

Dua puluh menit dari jam tiba di East Drive, saya sudah sampai di kamar saya yang sudah menjadi hangat (karena pemanas sudah hidup). Tinggal kaki nih yang rasanya pegeelll...Oh...jadi rindu tukang pijet....he..he...he...


(Posting di malam minggu sambil mikir bulan depan mau jalan kemana lagi ya??)

Sunday, 24 January 2010

Salju: Dulu Didamba Sekarang Dibenci

Dulu, salah satu alasan saya untuk memilih studi di UK adalah ingin melihat salju. Dan akhirnya cita-cita itu terwujud sudah. Memasuki awal Desember, suhu di Nottingham mulai turun secara teratur. Mulai dari 9 derajat celcius, menurun perlahan hingga mendekati minus 4 derajat celcius. Dan akhirnya, sekitar 10 hari dari awal December, salju turun di Nottingham. Saya sedang bersiap untuk menyeberang footbridge ke arah Medical School untuk sholat dzuhur pada saat salju itu turun. Wah...amazing, akhirnya saya bisa merasakan butiran putih halus itu mengenai wajah saya. Semua orang di kampus juga berbuat hal yang sama, sejenak meninggalkan aktivitas mereka untuk menikmati salju. "Merry christmas.....merry christmas"...mereka saling berucap, karena menurut tradisi di England, christmas ditandai dengan turunnya salju. Sayang, salju pertama itu tidak bertahan lama, karena setelah itu turun hujan dan matahari muncul lagi. Pada waktu saya pulang dari kampus, salju sudah menghilang.

Mengapa saya membenci salju? There are several reasons. First of all, I have bad experience with snow (eh...serasa writing test di IELTS nih, balik lagi ke bahasa Indonesia ya). Benar-benar "bad experience". Sabtu pagi, salju turun lagi. Sabtu pagi itu pula saya ada rencana untuk datang ke pengajian Indonesia Community di Nottingham. Acara dimulai jam 12 di daerah Beeston. Saya dan teman memutuskan untuk naik bus. Menyusuri jalan perumahan yang mulai dipenuhi salju tipis-tipis, saya hampir terpleset. Masih "hampir" karena masih bisa mengendalikan diri. Mendekati daerah taman di perumahan, tiba-tiba ..."buuukkk", saya jatuh terduduk....Hwa..hwa...sakit sekali, karena posisi jatuh saya terduduk, tepat di tengah..... Ya sudahlah, sudah jatuh, mau apa lagi. Tapi, efek jatuh itu masih saya rasakan hingga 4 hari kedepan. Setiap sholat, dari posisi duduk ke posisi berdiri...wha...sakitnya bukan main. Mungkin kalo di Indonesia, saya sudah ke tukang pijat kali ya. Saya sampai mencoba cari informasi tentang chiropatic, yang dulu saya analogikan dengan "ahli masalah tulang belakang dan syaraf". Tetapi, setelah browsing tentang apa saja yang bisa diobati oleh chiropatic, kayaknya kalo saya bawa penyakit saya itu ke ahli chiropatic,kok terlalu "lebay" ya....Alhamdulillah, hari keempat dari peristiwa buruk itu, saya sudah bisa sholat dengan gerakan normal lagi.

Hmmm...tapi pikir punya pikir, saya jadi tau siapa penyebab semua ini. Yap...sepatu saya tertuduh utamanya. Saya amati bagian bawah alas sepatu, memang kurang "batik-annya". Mulailah saya browsing tentang sepatu yang aman untuk kondisi jalan licin. Hore...ketemu....Tepat satu hari sebelum Christmas, saya membeli sepatu itu di Old Market Square. Pas ada diskon lagi. Cocok kan...












Bukan iklan: ini sepatu saya, gagah sekali ya...Sebenarnya bukan "gue banget" gitu loh...tapi hasil browsing menunjukkan bahwa ini sepatu yang aman untuk kondisi jalan licin


Kebetulan, pulang dari Old market square, salju turun lagi. Jadi ya sekalian test drive sepatu baru, sepatu lama saya masukkan kardus, dan berganti dengan sepatu boot coklat muda. Dan saya berusaha confident dengan sepatu baru itu. Tapi...sret...sret...beberapa kali saya hampir terpleset lagi....untung masih bisa mengendalikan diri. Ternyata problem belum selesai...sepatu yang ini masih licin.....Jadilah pulangnya saya masih harus berjalan seperti Putri Solo, pelan dan menunduk karena takut jatuh. Masih terbayang sakitnya pasca jatuh.

Semalaman saya browsing dengan berbagai kata kunci di uncle google. Non slippery shoes...., crew shoes, grips shoes.....voila....ketemu juga. Ada tawaran alas sepatu dari karet dengan beberapa paku tungsten dibawahnya, yang iklannya berbunyi:
"get confident to walk on ice and snow" he..he..he...coba deh...karena saya sudah putus asa bagaimana harus berangkat ke kampus waktu salju turun. masa' gara-gara salju turun terus nggak masuk kampus? Harganya ya lumayan...sekitar 20 GBP.
Barang datang, dan saya coba. Ehh....ternyata benar loh...nggak licin sama sekali. Benar...saya juga jadi PeDe berjalan di salju yang tipis, kayak lapisan es batu itu. Saya rekomend sekali produk ini, coba lihat-lihat aja di www.skiweb.uk.com.

Eh iya, kembali lagi ke alasan kenapa saya "benci salju", adalah kalo salju pasti udaranya dibawah 0 derajat. Kulit saya protes kalo udara dingin sekali. Memang kulit saya rewel sekali, dulu di Solo juga kemerahan karena kepanasan, sekarang di UK, juga kemerahan karena kedinginan. Repot kan...Memang yang baik itu ya "yang sedang-sedang aja". Lagipula, tahun ini di UK juga sedang mengalami "global freezing" alias dingin yang 'banget". Biasanya untuk Nottingham, suhu paling rendah hanya berkisar -1 derajat C,tapi tahun ini mencapai -7 derajat C...benar-benar freeze. Tapi untunglah,sekarang semua sudah berlalu. Winter di Nottingham sepertinya sudah mau berakhir, terbukti bahwa hari ini suhu sudah mencapai 4 derajat C, serasa hangat.....Winter berakhir lebih cepat dari biasanya. Winter biasa berakhir sekitar februari, tapi ini baru akhir Januari, salju sudah berhenti.

Itulah beberapa alasan kenapa saya "benci salju". Tapi saya juga punya foto kenangan saat salju loh...Waktu itu salju sudah tebal, jadi tidak licin. Salju yang tebal terasa seperti es serut, sehingga saya percaya diri untuk jalan diatasnya. Tapi untuk salju tipis, "say no" to salju tipis.


foto kenangan bersama snowman, yang dibuat pake cetakan baskom plastik


Inginnya,kalo bisa nggak ketemu salju lagi deh...Tapi bagaimana mungkin...., saya masih harus melewatkan tiga kali winter di Nottingham. Hmmm...sudah kangen rasanya menikmati sinar matahari yang bikin keringat menetes di wajah...sensasi berbeda dengan yang saya dapatkan ketika "benda putih-halus" itu turun dari langit dan mengenai wajah saya.


(posting sambil menikmati sore hari yang cukup hangat di kamar).
Nottingham, current condition:
light rain, 4°C,Feels Like 1°C